Oleh: Hafid Abbas
Ketua Umum APENMASI
Tujuh tahun lalu, ketika Asosiasi Pendidikan Masyarakat Indonesia (APENMASI) menggelar kongres perdananya pada 6 Maret 2019 yang telah secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden. Kegelisahan yang dialami waktu itu sederhana: mengapa di tengah kemajuan pembangunan masih begitu banyak warga yang tertinggal?
APENMASI saat itu menghimpun para akademisi, peneliti, praktisi, Program Studi Pendidikan Masyarakat, serta jaringan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk menjangkau mereka yang miskin, terpencil, dan tertinggal. Sebanyak 18 kelompok masyarakat rentan diidentifikasi, dengan 128 agenda strategis yang hendak dibebaskan dari segala bentuk keterbelakangannya melalui kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi.
Semangatnya dirumuskan dalam satu kalimat singkat: memajukan mereka yang tertinggal, to reach the unreached, to empower the powerless.
Kini, menjelang Rakernas HAPPENMASI Ke-4 dan Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat 2026 di Medan, semangat tersebut perlu diperbarui. Persoalannya tidak lagi hanya bagaimana menjangkau mereka yang tertinggal, tetapi bagaimana membangun jembatan agar mereka dapat keluar dari ketertinggalan dan keterbelakangannya.
Di sinilah makna Penmas menjadi penting.
Penmas: The Grea Equalizer
Indonesia memang telah mengalami kemajuan besar dalam pendidikan. Namun, keseragaman kurikulum dan sistem pendidikan belum otomatis menghasilkan kesetaraan mutu.
Data Statistik Pendidikan 2025 menunjukkan terdapat lebih dari 530.000 satuan pendidikan dengan sekitar 56,6 juta peserta didik. Namun, berbagai kesenjangan mutu pendidikan masih terjadi antardaerah.
Masalahnya bahkan lebih dalam. Di wilayah tertinggal, persoalan pendidikan sering berkelindan dengan kemiskinan, kekurangan gizi, kesehatan anak, dan lemahnya kapasitas keluarga untuk menopang proses belajar.
Karena itu, ketimpangan pendidikan pada akhirnya menjadi ketimpangan sosial.
Anak dari keluarga mampu dan anak dari keluarga miskin mungkin sama-sama duduk di bangku sekolah, tetapi tidak selalu memiliki titik awal yang sama. Demikian pula seorang pemuda di pusat pertumbuhan ekonomi dan pemuda di daerah terpencil mungkin sama-sama memiliki ijazah, tetapi tidak selalu memiliki akses yang sama terhadap informasi, keterampilan, pekerjaan, dan pasar.
Maka Pendidikan Masyarakat tidak boleh berhenti pada pertanyaan: berapa banyak orang yang telah dididik?
Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak kehidupan warga berubah setelah memperoleh pendidikan?
Penmas Reborn
Inilah saatnya Pendidikan Masyarakat bergerak dari paradigma “memberikan pendidikan kepada masyarakat” menuju “membantu masyarakat menjadi mampu hidup, bekerja, berusaha, dan berkembang.”
Pendidikan Masyarakat harus menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan.
Rantai sederhananya:
Belajar → Terampil → Bekerja/Berusaha → Berpenghasilan → Mandiri.
Jika rantai ini terputus, pendidikan kehilangan sebagian makna sosialnya.
Karena itu, HAPPENMASI dapat mengambil peran strategis sebagai jembatan pemerataan. Ia bukan pengganti pemerintah, dunia usaha, sekolah, atau lembaga pelatihan. Ia justru dapat menjadi simpul yang mempertemukan semuanya.
Pengalaman APENMASI memberikan fondasi penting. Dulu, 18 kelompok sasaran dan 128 agenda strategis dirancang untuk menjangkau masyarakat rentan. Kini, agenda tersebut dapat dikembangkan menjadi ekosistem pemberdayaan yang lebih terukur: siapa yang tertinggal, mengapa mereka tertinggal, keterampilan apa yang mereka butuhkan, pekerjaan apa yang tersedia, dan bagaimana mereka didampingi sampai mandiri.
Kesetaraan mutu, bukan keseragaman
Untuk membangun ekosistem tersebut, HAPPENMASI juga perlu memperkuat kualitas seluruh Program Studi Pendidikan Masyarakat.
Salah satu inspirasi dapat dipelajari dari Bologna Process di Eropa: bukan untuk menyalin sistemnya, melainkan mengambil prinsip keterbandingan mutu, transparansi kualifikasi, pengakuan pembelajaran, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta penjaminan mutu.
Indonesia membutuhkan common core competencies bagi lulusan Penmas, tetapi tidak membutuhkan keseragaman.
Penmas Papua tidak harus menjadi Penmas Jawa. Penmas Sumatera tidak harus menjadi Penmas Sulawesi.
Yang perlu dibangun adalah kesetaraan mutu di tengah keragaman lokal.
Potensi lokal justru harus menjadi kekuatan. Daerah pertanian membutuhkan keterampilan yang berbeda dari kawasan perikanan, pariwisata, industri, ekonomi kreatif, atau ekonomi digital.
Pengalaman yang pernah dikembangkan Penmas UPI Bandung, misalnya, menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat diubah menjadi kegiatan ekonomi masyarakat. Eceng gondok yang sebelumnya dipandang sebagai gulma dikembangkan menjadi produk seperti sepatu, tas, tikar, kursi, dan meja. Pesannya jelas: pendidikan dapat menemukan nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Dari Tri Dharma menuju Job for All
Karena itu, Tri Dharma Pendidikan Masyarakat perlu diterjemahkan secara lebih konkret. Pendidikan harus membekali keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Penelitian harus memetakan potensi ekonomi, kebutuhan tenaga kerja, dan peluang usaha. Pengabdian kepada masyarakat harus mendampingi warga hingga pengetahuan dan keterampilan itu menghasilkan pekerjaan atau penghasilan.
Setiap Prodi Penmas dapat memiliki wilayah binaan dan menyusun Community Employment and Skills Mapping: memetakan penganggur, kelompok usia, pendidikan, keterampilan, potensi ekonomi lokal, kebutuhan industri, peluang usaha, hingga kebutuhan keterampilan baru.
Dari sana dapat dibangun Provincial Job for All Roadmap.
Pertanyaan Penmas pun berubah. Bukan lagi sekadar, “Pelatihan apa yang akan kita berikan?” Tetapi: “Pekerjaan dan sumber penghasilan apa yang tersedia atau dapat diciptakan, dan keterampilan apa yang harus kita siapkan agar warga dapat masuk ke dalamnya?”
Perubahan pertanyaan ini akan mengubah orientasi Pendidikan Masyarakat secara keseluruhan.
Menjangkau yang paling jauh
Tidak semua warga harus mencari pekerjaan di kota besar. Sebagian dapat diberdayakan di desanya sendiri; sebagian dapat masuk ke pasar kerja nasional; sebagian lainnya, dengan kompetensi dan perlindungan yang memadai, dapat memasuki pasar kerja internasional.
Karena itu, HAPPENMASI perlu membangun jaringan yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, PKBM, komunitas, dan mitra internasional.
Dengan jaringan tersebut, Pendidikan Masyarakat tidak datang kepada warga hanya ketika program tersedia. Ia datang berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.
Inilah kesinambungan antara APENMASI dan HAPPENMASI.
Jika pada 2019 semboyannya adalah “memajukan mereka yang tertinggal”, maka pada 2026 semangat itu dapat diperluas menjadi: “membangun jalan agar mereka yang tertinggal mampu berdiri sendiri.”
Pada akhirnya, job for all dan zero poverty bukan pekerjaan satu organisasi atau satu disiplin ilmu. Namun Pendidikan Masyarakat dapat menjadi salah satu simpul penting untuk mewujudkannya.
Sebab pendidikan yang paling bermakna bukan sekadar membuat seseorang tahu lebih banyak, melainkan membuat seseorang mampu hidup lebih baik.
Maka Penmas bukan sekadar kelahiran kembali sebuah disiplin akademik. Ia adalah kelahiran kembali keberpihakan pendidikan kepada mereka yang paling membutuhkan kesempatan.
Dan di situlah HAPPENMASI dapat menemukan mandat sejarahnya: menjadikan Pendidikan Masyarakat sebagai jembatan pemerataan—dari belajar menuju bekerja, dari bekerja menuju berpenghasilan, dan dari berpenghasilan menuju kehidupan yang bermartabat.
Menarik direnungkan tuturan Matin Luther King (1968) “Everybody can be great, because everybody can serve. You don’t have to have a college degree to serve. You don’t have to make your subject and verb agree to serve. You don’t have to know about Plato and Aristotle to serve. You don’t have to know Einstein’s theory of relativity to serve. You only need a heart full of grace and a soul generated by love.”
Dan di situlah HAPENMASI menemukan mandat sejarahnya: menjadikan Pendidikan Masyarakat sebagai jembatan pemerataan—dari belajar menuju bekerja, dari bekerja menuju berpenghasilan, dan dari berpenghasilan menuju kehidupan yang bermartabat. Sebab pendidikan sejati bukan sekadar membuat orang tahu, tetapi memberi setiap orang kesempatan untuk berdiri dan mengambil bagian.
Pesan Martin Luther King Jr. (1968) terasa relevan: “Everybody can be great, because everybody can serve.” Kebesaran, dengan demikian, bukan dimonopoli mereka yang berstrata sosial tinggi, melainkan terbuka bagi siapa pun yang diberi kesempatan untuk belajar, berkarya, dan melayani.
















