NasionalPolitik

UIKA Menatap ke Depan: Dari Kampus Menuju Dunia Kerja Global

×

UIKA Menatap ke Depan: Dari Kampus Menuju Dunia Kerja Global

Sebarkan artikel ini
Hafid Abbas.
Hafid Abbas.

Oleh: Hafid Abbas
Guru Besar Tamu di Asia Center, Harvad University 2006


Perguruan tinggi pada abad ke-21 tidak cukup hanya mengantarkan mahasiswa memperoleh ijazah dan gelar akademik. Ukuran keberhasilannya juga harus dilihat dari kemampuannya menyiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia kerja, menciptakan lapangan usaha, dan berkompetisi di tingkat internasional.

Dalam konteks inilah, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor perlu menatap masa depan dengan visi yang lebih luas: menjadikan kampus sebagai jembatan bagi mahasiswa dan alumninya untuk memasuki dunia global. Salah satu langkah strategis yang patut dikembangkan adalah membuka kesempatan bagi mahasiswa dan alumni UIKA untuk mengikuti program magang, belajar, dan bekerja di Jepang.

Gagasan ini bukan sekadar program pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Ini merupakan bagian dari internasionalisasi perguruan tinggi, yakni bagaimana kampus membangun jejaring global, meningkatkan kompetensi mahasiswa, memperluas pengalaman lintas budaya, dan memastikan pendidikan yang ditempuh relevan dengan kebutuhan masyarakat internasional.

Belajar dari pengalaman internasional

Sejarah memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya keberanian melakukan perubahan. Ketika Franklin D. Roosevelt dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat pada 1933, negaranya sedang menghadapi Great Depression, krisis ekonomi yang menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Melalui program New Deal, Roosevelt memperkenalkan kebijakan pertolongan, pemulihan, dan reformasi. Salah satu prioritasnya adalah menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya melalui pembangunan infrastruktur, pemulihan ekonomi, dan program jaminan sosial. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pemerintahan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya memberikan pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak bagi rakyatnya.

Pelajaran serupa relevan bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Pendidikan harus mampu menjawab persoalan nyata masyarakat, terutama kesenjangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan ketersediaan lapangan kerja.

Baca juga:  Menyelamatkan Indonesia: Saatnya Negara Merebut Kembali Kedaulatan dari Oligarki

Pengalaman Tanri Abeng University (TAU) juga menarik untuk dicermati. Universitas tersebut mengembangkan pendekatan Center of Excellence dengan mempertemukan perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, dan masyarakat melalui kewirausahaan sosial. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi pusat pengembangan kompetensi sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat.

UIKA dapat mengembangkan pendekatan serupa dengan keunggulan tersendiri, yakni menjadikan kerja sama internasional sebagai salah satu instrumen utama pengembangan kapasitas lulusannya.

Jepang: Peluang strategis bagi mahasiswa UIKA

Jepang merupakan salah satu negara yang menghadapi tantangan demografi serius. Penduduknya semakin menua, sementara kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor terus meningkat. Kondisi ini membuka peluang bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.

Pemerintah Jepang telah mengembangkan skema Specified Skilled Worker (SSW) atau tenaga kerja berketerampilan khusus, yang memberikan kesempatan kepada tenaga kerja asing untuk mengisi kebutuhan pada berbagai sektor ekonomi.

Peluang ini seharusnya dibaca UIKA sebagai kesempatan strategis. Mahasiswa tidak harus menunggu sampai lulus untuk mengenal dunia internasional. Sejak masih berada di bangku kuliah, mereka dapat dipersiapkan mengikuti program magang, pelatihan keterampilan, pembelajaran bahasa Jepang, dan pengenalan budaya kerja Jepang.

Melalui kemitraan dengan universitas, perusahaan, lembaga pelatihan, dan institusi terkait di Jepang, UIKA dapat membangun jalur internasionalisasi yang terencana.

Setidaknya ada tiga agenda yang dapat dikembangkan.

Pertama, program magang internasional. Mahasiswa memperoleh kesempatan mengalami langsung lingkungan kerja Jepang, mengenal standar profesional, disiplin, teknologi, dan budaya produktivitas. Pengalaman ini akan menjadi modal penting ketika mereka kembali ke Indonesia maupun ketika melanjutkan karier internasional.

Kedua, program belajar dan peningkatan keterampilan. UIKA dapat mengembangkan pelatihan bahasa Jepang, sertifikasi kompetensi, pertukaran mahasiswa, serta program pembelajaran bersama institusi pendidikan di Jepang. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang diakui dunia kerja.

Baca juga:  Menyelamatkan Indonesia: Saatnya Negara Merebut Kembali Kedaulatan dari Oligarki

Ketiga, penempatan kerja bagi lulusan. Alumni UIKA yang memenuhi persyaratan dapat difasilitasi memasuki pasar kerja Jepang melalui jalur resmi, dengan kontrak yang jelas, perlindungan hak-hak pekerja, dan pendampingan sebelum keberangkatan, selama bekerja, hingga kembali ke tanah air.

Semua program ini harus dilaksanakan dengan mengutamakan mutu pelatihan, keselamatan, martabat, dan perlindungan hak-hak mahasiswa serta pekerja migran.

Belajar dari Filipina

Pengalaman Filipina memberikan pelajaran penting. Negara tersebut telah lama membangun sistem penyiapan dan perlindungan pekerja migran melalui Department of Migrant Workers (DMW) dan lembaga pelatihan keterampilan TESDA.

Pemerintah Filipina tidak sekadar memberangkatkan warganya ke luar negeri. Mereka menyiapkan kompetensi, kemampuan bahasa, informasi pasar kerja, perlindungan hukum, dan layanan pendampingan sejak sebelum keberangkatan hingga para pekerja kembali ke negaranya.

Salah satu keunggulan Filipina adalah penguasaan bahasa Inggris yang relatif lebih luas. Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Inggris dan bahasa negara tujuan.

Karena itu, internasionalisasi UIKA harus dimulai dari ruang kelas. Penguasaan bahasa Jepang dan bahasa Inggris perlu menjadi bagian penting dari persiapan mahasiswa yang ingin memasuki pasar kerja global.

Lebih jauh, Jepang bukan satu-satunya peluang. Sejumlah negara lain juga menghadapi persoalan penuaan penduduk dan membutuhkan tenaga kerja asing. Dengan demikian, program internasionalisasi UIKA dapat dikembangkan secara bertahap ke berbagai negara sesuai kebutuhan pasar kerja dan kompetensi lulusannya.

Kampus sebagai jembatan masa depan

Pemerintahan Presiden Prabowo menempatkan penciptaan lapangan kerja yang layak dan peningkatan kualitas pendidikan sebagai bagian penting agenda menuju Indonesia Emas 2045. Perguruan tinggi harus mengambil bagian nyata dalam mewujudkan cita- cita tersebut.

UIKA memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa perguruan tinggi swasta pun dapat menjadi institusi yang berorientasi global, inovatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Keberhasilannya kelak tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa, gedung, program studi, atau banyaknya lulusan, tetapi juga dari berapa banyak alumninya yang berhasil membangun kehidupan produktif, memperoleh pekerjaan layak, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Baca juga:  Menyelamatkan Indonesia: Saatnya Negara Merebut Kembali Kedaulatan dari Oligarki

Mengirim mahasiswa dan alumni ke Jepang untuk magang, belajar, dan bekerja bukan berarti menjadikan kampus sekadar pemasok tenaga kerja bagi negara lain. Sebaliknya, ini merupakan investasi sumber daya manusia. Mereka memperoleh pengalaman, keterampilan, dan wawasan global yang kelak dapat dibawa kembali untuk memperkuat Indonesia.

Pada akhirnya, internasionalisasi UIKA harus berangkat dari satu keyakinan: masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan di dalam kampus, tetapi juga oleh seberapa jauh kampus mampu membuka pintu masa depan bagi para lulusannya.

A university should not only prepare its graduates for the world; it should also open the world for its graduates.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *