SUMENEP, Rilpolitik.com – Pengamat kebijakan publik, Fauzi As secara blak-blakan menyebut elite PDI Perjuangan yang juga Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah sebagai bandar politik di Pilkada Madura, terutama Sumenep.
Hal itu disampaikan Fauzi dalam Diskusi Publik bertema, “Politik Gentong Babi: Membongkar Praktik Culas Bandar di Pilkada Madura” yang diselenggarakan rilpolitikcom di Kafe Ayoka Sumenep pada Jumat (22/11/2024) malam.
Fauzi beralasan, hanya Said yang secara jor-joran membagikan gepokan uang di masa kampanye Pilkada Sumenep 2024. Ia pun menyebut aksi Said itu lebih dari sekadar praktik politik gentong babi.
“Bagi saya, bandarnya ya Said Abdullah sebagai Ketua Banggar. Karena bagaimana pun hanya Said yang membagi gepokan-gepokan uang di setiap turun ke bawah. Cuma pertanyaannya, yang dibagikan uang siapa pak? Kan begitu,” kata Fauzi.
Sekadar informasi, Said Abdullah mendukung Cabup petahana Achmad Fauzi Wongsojudo di Pilkada Sumenep 2024. Achmad Fauzi sendiri selain sebagai kader PDIP, juga merupakan keponakan dari Said.
Fauzi As kemudian menyinggung aksi Said Abdullah membagikan uang yang disebut sebagai hadiah atau award kepada ibu-ibu PKK sebesar Rp 10 juta dalam sebuah pertemuan di salah satu hotel di Sumenep beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu perlu dikritisi.
“Nah, itu juga harus dipertanyakan oleh temen-temen. Tetapi kayaknya nalar kritis di Sumenep ini sudah mulai defisit. Karena saya lihat belum ada yang secara lantang berbicara itu. Pak Said dalam keadaan berbaju nomor urut 2 (nomor urut Cabup Achmad Fauzi Wongsojudo di Pilkada Sumenep) bagi-bagi duitnya di situ,” ujarnya.
“Lalu ini bagi saya tidak hanya sekadar politik gentong babi. Artinya, ada double politik gentong babi. Seharusnya begitu,” lanjutnya.
Menurut pria berambut gondrong itu, aksi bagi-bagi uang oleh Said menjelang Pilkada Sumenep 2024 menunjukkan bahwa kinerja Achmad Fauzi selama menjabat Bupati tidak sebagus pemberitaan media massa.
Apalagi, katanya, sampai melibatkan oknum kepala desa (kades) dan pejabat di lingkungan Pemkab Sumenep untuk memenangkan kontestasi Pilkada Sumenep pada 27 November mendatang.
“Ini yang menurut saya tidak masuk akal. Publikasi Fauzi mengesankan di publik terkesan sukses gitu, tapi di dalam menunjukkan ada sesuatu yang galau atau kropos. Kalau gak kropos, gak mungkin Ketua Banggar turun ke Sumenep sampai berbagi amplop-amplop tebal. Kan begitu dalam pikiran saya,” ucapnya.
“Kalau dia merasa sukses, maka tidak mungkin dia harus menggerakkan oknum-oknum kades dan pejabat-pejabat pemerintahan di Kabupaten Sumenep,” sambungnya.
(Ah/rilpolitik)
















