DaerahEkonomi

Petani Tembakau ke Nur Faizin: Jadi Pejabat Jaga Mulut, Jangan Asal Bunyi!

×

Petani Tembakau ke Nur Faizin: Jadi Pejabat Jaga Mulut, Jangan Asal Bunyi!

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi tembakau. [Dok. rilpolitikcom]

SUMENEP, Rilpolitik.com – Pernyataan anggota DPRD Jawa Timur, Nur Faizin yang mendesak agar peredaran rokok ilegal di Madura diberantas memicu kemarahan para petani tembakau di Pulau Garam. Pasalnya, rokok lokal Madura selama ini justru dinilai sebagai penopang ekonomi masyarakat.

Seorang petani tembakau asal Sumenep, Sahal meminta Nur Faizin selaku wakil rakyat untuk tidak pernah mengusik para petani tembakau.

Dia menegaskan, pemerintah tidak pernah memberikan bantuan apa pun terhadap petani tembakau.

“Jangan usik kami para petani tembakau. Kami, petani tembakau tak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Bahkan, untuk sekadar bibit sekalipun,” tegas Sahal dalam perbincangan santai dengan rilpolitik.com pada Minggu (24/8/2025).

Sahal menilai keberadaan rokok lokal Madura justru membantu para petani tembakau dan menjadi penopang ekonomi masyarakat.

“Sebagai orang awam, saya justru melihat rokok lokal ini membantu para petani. Sejak munculnya rokok lokal ini, harga tembakau mulai merangkak naik meskipun belum ideal. Pabrik-pabrik ini juga kan melibatkan banyak pekerja. Artinya, justru ini membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” ujarnya.

Sebab itu, Sahal mengingatkan Nur Faizin untuk selalu berhati-hati dalam bertutur dengan tidak memberikan komentar yang dapat memicu keresahan masyarakat di bawah.

“Jadi pejabat jaga mulutnya, jangan asal bunyi. Kalau rakyat nanti sudah marah, jabatanmu sekalipun bisa hilang dalam sekejap,” ucapnya.

Ia kemudian mempertanyakan kontribusi Nur Faizin sebagai wakil rakyat untuk masyarakat Madura. “Apa sumbangsih dia untuk masyarakat sejak duduk di kursi DPRD? Coba apa? Dia sudah ngasih apa ke masyarakat?” tanyanya.

“Jadi, nggak usah sok, mentang-mentang pejabat,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Halili, seorang petani tembakau sekaligus penikmat rokok murah. Sebagai orang awam, ia mengaku tidak mengerti soal legal atau ilegal. Soal rokok, dirinya lebih mementingkan harga dan rasa.

“Saya ini petani tembakau sekaligus penikmat rokok murah. Soal rokok, saya tidak peduli itu legal atau ilegal, yang penting murah, tapi rasanya enak. Kita rakyat kecil tidak paham legal atau ilegal. Emang pejabat yang ngomong itu pernah peduli sama kita?” ujarnya.

Ia lalu mempertanyakan balik pernyataan Nur Faizin bahwa peredaran rokok ilegal telah merugikan negara.

“Kalau soal merugikan negara, memang negara tidak pernah merugikan rakyatnya lewat kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat? Peduli tidak dia sama rakyat yang tertindas oleh kebijakan pemerintah?” tanyanya.

Halili mengatakan, daripada hanya sibuk mengusik para petani, Nur Faizin sebaiknya mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus dugaan korupsi dana hibah Pemprov Jawa Timur.

“Lagian, lebih merugikan mana rokok ilegal dengan korupsi? Mending desak tuh agar para koruptor dana hibah ditangkap. Jangan petani kau ganggu-ganggu,” ucapnya dengan nada kesal.

Halili pun menyarankan Nur Faizin untuk turun ke lapangan menemui masyarakat agar paham kondisi para petani. “Turun ke lapangan temui para petani tembakau. Jangan hanya koar-koar di ruangan,” pungkasnya.

(Faw/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *