DaerahEkonomi

Ketua PWI Jatim: KEK Tembakau Madura Penting Jaga Ekosistem Industri Hasil Tembakau Nasional

×

Ketua PWI Jatim: KEK Tembakau Madura Penting Jaga Ekosistem Industri Hasil Tembakau Nasional

Sebarkan artikel ini
Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim (paling kiri) dalam Diskusi Publik bertema, ‘Mengawal Percepatan Pembangunan dan Ekonomi Madura’ yang diselengarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumenep berkolaborasi dengan KAMURA dan BEM UNIBA Madura di Pendopo Keraton Sumenep, Rabu (26/11/2025).

SUMENEP, Rilpolitik.com – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Lutfil Hakim menilai rencana pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura yang diinisiasi Komunitas Muda Madura (KAMURA) penting bagi masa depan Industri Hasil Tembakau (IHT) nasional.

Lutfil mengungkapkan tembakau Madura berkontribusi besar terhadap produksi tembakau nasional, yakni mencapai 35 persen. Sehingga, kata dia, keberadaan KEK Tembakau dapat menjaga keberlanjutan sektor tembakau Madura sebagai penopang signifikan produksi tembakau nasional.

“KEK Tembakau penting untuk keseimbangan ekosistem industri hasil tembakau (IHT) nasional ke depan, karena semangat utama di balik terbentuknya KEK adalah untuk menjaga keberlanjutan budidaya tembakau Madura yg notabene mengkontribusi sekitar 35% produksi tembakau nasional,” kata Lutfil saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik bertema, ‘Mengawal Percepatan Pembangunan dan Ekonomi Madura’ yang diselengarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumenep berkolaborasi dengan KAMURA dan BEM UNIBA Madura di Pendopo Keraton Sumenep, Rabu (26/11/2025).

Menurut Lutfil, IHT nasional terancam kehilangan pasokan bahan baku yang sangat besar tanpa adanya perlundungan yang memadai terhadap petani tembakau Madura.

“Kalau tidak ada perlindungan terhadap petani tembakau Madura, maka IHT nasional bisa terancam kehilangan 35% bahan baku berupa tembakau,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan yang dihadapi petani tembakau selama ini, yaitu lemahnya posisi tawar di hadapan pabrik besar. Menurutnya, keberadaan pabrik kecil justru menjadi penyelamat karena menyerap tembakau petani dengan harga yang proporsional.

“Jika selama ini petani tembakau sering rugi karena rendahnya posisi tawar di hadapan pabrikan IHT besar, maka IHT skala kecil di Madura justru hadir sebagai dewa penolong dengan menyerap tembakau petani dengan harga proporsional,” ucapnya.

“Nah, IHT yang menyerap tembakau petani dengan harga proporsional ini kan juga butuh keberlangsungan bisnis dengan berharap ada perlakuan khusus (insentif) misal dengan tarif cukai khusus dan insentif pajak serta dukungan kebijakan lainnya. Maka pilihannya adalah dibentuk KEK, sebagai wadah kebijakan penguatan termasuk aneka insentif,” jelasnya.

Lebih lanjut, Lutfil menyebut keberhasilan KEK Tembakau bisa membuka peluang pengembangan sektor unggulan lain di Madura. Bahkan, kata dia, ada potensi memperjuangkan kembali porsi hak daerah atas sumber daya migas melalui KEK.

“KEK Tembakau kalau berhasil bisa dikembangkan ke produk-produk unggulan lain, termasuk kemungkinan mengembalikan porsi hak daerah terhadap potensi migas – bisa melalui revisi UU Otonomi dengan memberikan perlakuan khusus kepada daerah yang sudah ada KEK-nya,” tutupnya.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *