Oknum LSM ditangkap, apa dia salah?Oknum kades melapor, apa pasti dia benar?Jangan-jangan ini hanya sengketa antar enam puluh perampok yang sedang beda jalan saja.
Dulu, ada seorang bocah bernama Abdul Qadir berangkat ke Baghdad membawa bekal empat puluh dinar dan seutas pesan agung dari ibunya: “Selalu berkata benar dalam setiap keadaan.” Uang itu dijahitkan di bawah ketiaknya, bukan untuk disembunyikan dari orang, tapi agar ia mengingat amanat kejujuran yang dipanggul bersama napasnya.
Lalu datanglah enam puluh perampok berkuda di Hamdan. Mereka merampas seluruh harta kafilah. Tapi anehnya, bocah ini yang jujur justru dibiarkan. Baru setelah ditanya dua kali oleh para perampok, dengan lugu ia menjawab, “Aku membawa empat puluh dinar di saku yang terjahit di bawah ketiakku”.
Orang-orang jahat itu tak percaya. Sampai akhirnya pemimpin mereka memerintahkan penggeledahan. Ditemukanlah uang itu. Bocah jujur itu lalu berkata: “Aku takut durhaka kepada ibuku.”
Pemimpin perampok pun menangis. Ia tobat. Karena seorang anak kecil lebih takut pada ibunya dibanding dirinya yang bertahun-tahun tak takut pada Tuhan.
Itu dulu. Zaman dulu. Zaman saat ketiak masih bisa menyimpan kejujuran.
Sekarang, mari lihat sekeliling kita.
Bukan enam puluh perampok berkuda, tapi enam puluh oknum berkemeja rapi.
Bukan bertanya, “Apa yang kamu bawa?”, tapi mereka bertanya, “Ada jatah saya, kan?”
Bukan mencopet uang dari saku ketiak, tapi dari rekening program rakyat yang dicairkan pada bank-bank pelat merah.
Hari ini, di Madura, di kota-kota lain, atau bahkan di ibu kota:
• Ada oknum kepala desa yang dengan gagah meminta oknum LSM ditangkap, lalu dia mengaku pejuang rakyat.
• Ada oknum wartawan yang menjual berita, bukan untuk menegakkan kebenaran, tapi menegakkan invoice kerja sama media.
• Ada oknum LSM yang menebar ‘ancaman’, dengan mengibarkan bendera advokasi.
• Semua mengaku menjaga keadilan, padahal buku rekeningnya penuh transferan, mereka sejatinya sama-sama perampok di ruang yang berbeda.
Jika Abdul Qadir jujur karena takut pada ibunya, sekarang banyak orang justru tega pada ibunya. Bahkan ibunya pun tidak segan di beri makan hasil rampokan yang didapat dengan menodongkan senjata keadilan. Tak cukup sampai di situ, terkadang anak-anak kita yang mondok di pesantren-pesantren elite, tak luput dari kiriman uang yang kita peroleh dari memalak atas nama keadilan. Lalu malam hari kita terus bersyukur seolah kita paling sholeh diantara penjahat diruang lain.
Kita tidak lagi hidup di zaman kejujuran yang tersembunyi di bawah ketiak. Kita hidup di zaman kebusukan yang diletakkan di atas meja rapat, dibungkus amplop ADV, dibagi dalam gemerlap ruang karaoke.
Kita hidup di era koruptor bicara pembangunan, preman bicara moralitas, dan perampok yang hobi umroh.
Lalu apa hikmahnya?
Mungkin kita butuh satu Abdul Qadir di ruang pimpinan.
Satu Abdul Qadir di ruang redaksi media.
Satu Abdul Qadir di forum LSM.
Satu Abdul Qadir di kantor desa.
Dan satu Abdul Qadir di dalam hati kita yang berani berkata, “Aku bawa empat puluh dinar, dan aku takut ingkar.”
Bukan karena takut kamera, bukan karena takut viral, tapi karena takut durhaka.
Jika kejujuran bisa membuat enam puluh perampok bertobat, maka kebohongan dapat membuat satu bangsa tak lagi tahu siapa penjahat, dan siapa penyelamat.
Sementara oknum tetap menulis dan berteriak atasnama rakyat, atas nama keadilan, dari belakang mengirim rekening minta bagian. (*)
*Penulis adalah Fauzi As, pengamat kebijakan publik.




![Massa aksi PPI memprotes masa cuti anggota DPRD Sumenep Nia Kurnia Fauzi karena diduga sudah setahun lebih. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/1000063067-350x220.jpg)









![Massa aksi PPI memprotes masa cuti anggota DPRD Sumenep Nia Kurnia Fauzi karena diduga sudah setahun lebih. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/1000063067-180x130.jpg)

