JAKARTA, Rilpolitik.com – Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy menyoroti dugaan penggelembungan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pimpinan anak Presiden Joko Widodo Kaesang Pangarep.
Diketahui, perolehan suara PSI tiba-tiba naik tajam belakangan ini. Bahkan, suara PSI bertambah sebanyak 230.361 suara dalam kurun waktu tiga hari.
Kenaikan yang signifikan ini menuai kecurigaan publik bahwa telah terjadi penggelembungan suara untuk mengerek suara PSI agar lolos ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) 4 persen.
Romahurmuziy mengaku sudah mendengar operasi meloloskan PSI ke Senayan oleh aparat sejak sebelum Pemilu 2024. Menurutnya, mereka menarget penyelenggara Pemilu daerah agar PSI bisa memperoleh 50 ribu suara di tiap kabupaten/kota di Jawa, dan 20 ribu suara di tiap kabupaten/kota di luar Jawa.
“Ini dilakukan dengan menggunakan dan membiayai jejaring ormas kepemudaan tertentu yang pernah dipimpin salah seorang Menteri, untuk mobilisasi suara PSI coblos gambar,” kata pria yang akrab dengan sapaan Romy itu dalam keterangannya dikutip rilpolitik.com pada Minggu (3/3/2024).
“Setidaknya itu yang saya dengar dari salah satu aktivisnya yang diberikan pembiayaan langsung oleh aparat sebelum Pemilu,” tutur dia.
Namun, kata Romy, strategi demikian sepertinya tidak berjalan mulus karena ternyata berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count (QC) seluruh lembaga survei menunjukkan PSI tak lolos PT 4 persen.
“Akurasi QC menurut pimpinan lembaga-lembaga survey senior adalah plus-minus 1%, sehingga untuk lolos PT 4% dibutuhkan setidaknya angka QC > 3%. Artinya, kalau sebuah partai mendapat QC 3%, dalam riil count dia dapat dibenarkan jika mendapat 4%, atau bisa juga sebaliknya bisa dibenarkan jika hanya mendapat 2%. Sedangkan angka di seluruh lembaga survey, QC PSI tertinggi < 2,95%,” jelas Romy.
Sebab itu, lanjut Romy, ada upaya meloloskan PSI pasca pencoblosan melalui dua modus. Pertama, memindahkan suara partai yang jauh lolos dari PT 4% ke coblos gambar PSI. Kedua, memindahkan suara tidak sah menjadi coblos gambar PSI.
“Setelah melihat SiRekap beberapa hari terakhir, mulai muncul keanehan-keanehan yang disinyalir oleh beberapa surveyor seperti Prof. Burhan Muhtadi dan Yunarto Wijaya. Begitupun beberapa penggiat pengawalan pemilu sebagaimana mereka upload di status twitternya,” ujarnya.
“Begitu tajamnya kenaikan PSI dari beberapa TPS, sebagaimana dimuat di grafik akun X Prof. Burhan Muhtadi di mana terjadi kenaikan tajam yang menyimpang dari trend line. Bahkan ada yg input SiRekapnya dari 110 TPS menyumbangkan sekitar 19 ribu suara, yg berarti 173 suara per TPS,”
Menurut Romy, mustahil partai yang tergolong baru bisa memperoleh 19 ribu suaranya hanya dari 110 TPS.
“Kalau partisipasi pemilih diasumsikan sama dengan 2019, maka suara sah tiap TPS = 81,69% x 300 suara = 245 suara per TPS. Itu berarti persentase suara PSI = 173/245 = 71%, dan seluruh partai lain hanya 29%. Sebuah angka yang sangat tidak masuk akal mengingat PSI sebagai partai baru yang tanpa infrastruktur mengakar dan kebanyakan caleg RI-nya saya monitor minim sosialisasi ke pemilih,” jelas Romy.
Mantan Ketua Umum PPP itu menduga penggelembungan suara PSI yang banyak terungkap di media sosial X terjadi di pleno tingkat kecamatan, bukan di tingkat TPS.
(War/rilpolitik)









![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-350x220.jpg)






