JAKARTA, Rilpolitik.com – Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani menyebut pemerintahan saat ini terlalu banyak melakukan intervensi politik terhadap dunia usaha yang berdampak terhadap ketidakpastian usaha.
Pernyataan itu disampaikan Saiful merespons pidato Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan May Day atau Hari Buruh di Lapangan Monas Jakarta pada Jumat (1/5/2026). Dalam pidatonya, Prabowo menyebut negara akan mengambil alih perusahaan yang menyerah di tengah krisis global.
Saiful menyebut sektor swasta saat ini masih terus wait and see dan tidak berani berinvestasi di Indonesia karena negara terlalu banyak melakukan intervensi politik.
“Di era penguasa ini ada ketidakpastian untuk usaha. Terlalu banyak intervensi politik. Sektor swasta yang merupakan penggerak utama ekonomi wait and see, parkir, nggak berani investasi,” kata Saiful dikutip rilpolitik.com dari unggahannya di X, Senin (4/5/2026).
Padahal, kata dia, negara membutuhkan banyak investasi dari luar. Namun, ketidakpastian usaha tersebut menyebabkan investor takut masuk RI.
“Investasi dari luar sangat dibutuhkan. Tapi adanya ketidakpastian usaha siapa yang berani masuk,” ujarnya.
Saiful menyebut penguasa melakukan adu domba berkedok membela kepentingan rakyat, padahal justru mengorbankan rakyat.
“Penguasa mengadudomba pengusaha dengan rakyat dengan slogan membela kepentingan rakyat. Sebenarnya bukan bela rakyat, tapi bela kepentingan dirinya dan rakyat yang jadi korban,” tutup dia.
Diketahui, Prabowo di hadapan ribuan buruh dalam momentum May Day 2026, menyatakan akan mengambil alih perusahaan yang tidak mampu bertahan akibat tekanan ekonomi global.
Dia meminta buruh untuk tidak perlu khawatir karena negara akan turun tangan memberikan perlindungan.
“Kalau ada pengusaha yang menyerah, jangan khawatir, negara kita kuat. Negara akan mengambil alih dan membela rakyat Indonesia,” kata Prabowo.
Prabowo mengklaim Indonesia saat ini berada dalam posisi yang relatif aman di tengah banyaknya negara di dunia yang menghadapi krisis.
“Saudara-saudara, perhatikan, seluruh dunia dalam keadaan krisis. Banyak negara sudah panik, kita masih aman. Kita swasembada pangan, pangan kita aman,” ungkapnya.
(Ah/rilpolitik)















