NasionalPolitik

Prihatin Kesejahteraan Guru, Siswa di Kudus Tolak MBG Lewat Surat ke Prabowo

×

Prihatin Kesejahteraan Guru, Siswa di Kudus Tolak MBG Lewat Surat ke Prabowo

Sebarkan artikel ini
Potongan surat siswa SMK NU Miftahul Falah Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. [Tangkapan layar]
Potongan surat siswa SMK NU Miftahul Falah Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. [Tangkapan layar]

JAKARTA, Rilpolitik.com – Seorang siswa SMK di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menulis surat berisi penolakannya terhadap program makan bergizi gratis (MBG). Surat tersebut ditulis oleh siswa kelas XI SMK NU Miftahul Falah Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi dan ditujukan ke Presiden Prabowo Subianto.

Surat itu diunggah melalui akun Instagram pribadi Arsya, @arsya_graph, dengan menautkan sejumlah akun, salah satunya Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto.

Selain itu, ia juga menandai sejumlah akun dalam keterangan unggagannya, di antaranya adalah Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, Bupati Kudus Sam’ani, dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton.

Mengawali suratnya, Arsya memperkenalkan diri dan menyampaikan latar belakang dirinya yang berasal dari keluarga sederhana.

“Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah saya bekerja sebagai buruh, dan ibu saya seorang ibu rumah tangga yang mendidik anak-anaknya di rumah,” tulis Arsya dalam suratnya, dikutip rilpolitik.com di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

Arsya mengatakan dirinya sejak kecil telah diajarkan oleh orang tuanya untuk menghormati orang-orang yang berjasa dalam membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih beradab.

“Setelah orang tua, guru adalah sosok yang paling saya hormati. Guru di sekolah, ustadz yang mengajarkan mengaji, serta para kiai yang membimbing akhlak dan ilmu, memiliki peran besar dalam kehidupan saya,” kata dia.

Namun, Arsya menyayangkan masih banyak guru, termasuk di SMK NU Miftahul Falah tempatnya belajar yang belum mendapatkan kesejahteraan yang layak.

Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagai bentuk keprihatinan atas kesejahteraan guru, Arsya menyatakan menolak untuk menerima MBG. Ia juga berharap anggaran MBG untuk dirinya dialihkan sebagai tambahan tunjangan untuk guru-gurunya.

“Melalui surat ini, saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya. Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” ujarnya.

Arsya yang kini duduk di bangku kelas XI masih memiliki waktu 1,5 tahun belajar di SMK NU Miftahul Falah.

“Jika dihitung secara sederhana (18 bulan x 25 hari x Rp15.000 = Rp6.750.000). Bagi saya pribadi, angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja,” tulisnya.

Lebih lanjut, Arsya juga mengajak seluruh pelajar untuk mulai ikut menyuarakan kesejahteraan guru.

“Saya mengajak teman-teman pelajar untuk tidak diam, sudah saatnya kita menyuarakan pentingnya kesejahteraan guru sebagai pilar utama kemajuan bangsa,” tegasnya.

Dia juga menekankan bahwa suratnya bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian seorang pelajar terhadap kesejahteraan guru.

“Besar harapan saya agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan,” tutupnya.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *