SUMENEP, Rilpolitik.com – Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Kiai Abbasi Rahman menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah atas segala nikmat sehingga bisa melaksanakan Puasa Ramadan dan merayakan Idulfitri 1447 Hijriyah yang bertepatan pada Sabtu (21/3/2026).
Hal itu disampaikan Kiai Abbasi dalam khutbah Salat Idulfitri di Musolla Al Ikhlas, Kompleks Ponpes Miftahul Ihsan, Errabu, Bluto, Sumenep.
Dalam khutbahnya, Kiai Abbasi berharap ibadah yang dijalankan selama bulan puasa mampu mengantarkannya kembali dalam keadaan fitrah atau suci.
“Kita berada dalam masa fitrah. Artinya kembali ke suci lagi,” kata alumnus Pondok Pesantren Sidogiri itu.
Dia menjelaskan, Allah mengampuni dosa-dosa umat sehingga kembali menjadi bersih setelah melalui proses penyucian jiwa lewat puasa selama Ramadan.
“Kita berangkat dari rumah ke musolla, masjid dengan posisi selesai puasa, maka malaikat menyaksikan bahwa Allah sudah mengampuni dan meridhoi kita,” ujarnya.
Dia lalu mengajak jemaah Salat Id untuk menjadikan Idulfitri sebagai momentum saling bermaafan.
“Setelah mendapat pengampunan Allah, kita mohon maaf ke kedua orang tua, murid terhadap guru, istri kepada suami, kepada saudara, teman, dan lain-lain. Saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan para jemaah untuk menziarahi makam orang tua yang sudah meninggal dunia. Menurutnya, doa anak menjadi sumber kebahagiaan dan keberkahan bagi orang tua di alam barzah.
“Mendoakan orang tua yang sudah berada di kubur. Doakan supaya diberi keselamatan. Datangi kuburnya dengan membaca istighfar, salawat, dan lain-lain. Ini penting untuk kebahagian dan keberkahan orang tua,” ucapnya.
Pria yang juga alumnus Pondok Pesantren Annuqayah itu turut mengingatkan jemaah agar berbakti kepada orang tua yang masih hidup. Ia menegaskan agar jangan sampai berbuat durhaka.
“Kata Allah, barang siapa yang berpuasa sebulan penuh, tapi durhaka kepada orang tuanya tidak akan diampuni dosa-dosanya. Salat sekalipun tidak diterima selama masih durhaka kepada orang tua,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia menganjurkan jemaah untuk melakukan puasa Syawal. Dia menjelaskan pahala puasa Syawal selama 6 hari setara dengan puasa setahun penuh.
“Puasa 6 hari Syawal, karena orang bepuasa di Syawal pahalanya seperti puasa 1 tahun penuh,” jelasnya.
“Paling utama dimulai besok (Minggu) sampai Jumat. Jadi 6 hari. Kalau nggak sempat bisa dicicil selama masih di bulan Syawal,” imbuhnya.
(War/rilpolitik)

![Polres Pamekasan saat mengamankan eks anggota DPRD Sumenep dalam kasus dugaan penipuan. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/Screenshot_20260418_191434_Gallery-350x220.jpg)


![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-350x220.jpg)


![Ahmad Shidiq mengomando warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Reklamasi (GEMA AKSI) usir paksa ekskavator bersama pengawalnya keluar dari perairan Tapakerbau Sumenep. [Tangkapan layar]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260409-WA0005-350x220.jpg)
![Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Reklamasi (GEMA AKSI) mengusir paksa ekskavator yang melakukan aktivitas pengerukan di laut Kampung Tapakerbau pada Minggu (5/4/2026). [Foto: akun Facebook Marlaf Sucitpo]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/Screenshot_20260409_094443_Facebook-350x220.jpg)


![Polres Pamekasan saat mengamankan eks anggota DPRD Sumenep dalam kasus dugaan penipuan. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/Screenshot_20260418_191434_Gallery-180x130.jpg)


![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-180x130.jpg)

