DaerahSerba-serbi

Pesan Kiai Abbasi dalam Khutbah Idulfitri 2026

×

Pesan Kiai Abbasi dalam Khutbah Idulfitri 2026

Sebarkan artikel ini
Kiai Abbasi Rahman menjadi khatib Idulfitri 1447 Hijriyah di Musolla Al Ikhlas, Komplek Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Errabu, Bluto, Sumenep. [Foto: War/rilpolitikcom]
Kiai Abbasi Rahman menjadi khatib Idulfitri 1447 Hijriyah di Musolla Al Ikhlas, Komplek Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Errabu, Bluto, Sumenep. [Foto: War/rilpolitikcom]

SUMENEP, Rilpolitik.com – Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Kiai Abbasi Rahman menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah atas segala nikmat sehingga bisa melaksanakan Puasa Ramadan dan merayakan Idulfitri 1447 Hijriyah yang bertepatan pada Sabtu (21/3/2026).

Hal itu disampaikan Kiai Abbasi dalam khutbah Salat Idulfitri di Musolla Al Ikhlas, Kompleks Ponpes Miftahul Ihsan, Errabu, Bluto, Sumenep.

Dalam khutbahnya, Kiai Abbasi berharap ibadah yang dijalankan selama bulan puasa mampu mengantarkannya kembali dalam keadaan fitrah atau suci.

“Kita berada dalam masa fitrah. Artinya kembali ke suci lagi,” kata alumnus Pondok Pesantren Sidogiri itu.

Dia menjelaskan, Allah mengampuni dosa-dosa umat sehingga kembali menjadi bersih setelah melalui proses penyucian jiwa lewat puasa selama Ramadan.

“Kita berangkat dari rumah ke musolla, masjid dengan posisi selesai puasa, maka malaikat menyaksikan bahwa Allah sudah mengampuni dan meridhoi kita,” ujarnya.

Dia lalu mengajak jemaah Salat Id untuk menjadikan Idulfitri sebagai momentum saling bermaafan.

“Setelah mendapat pengampunan Allah, kita mohon maaf ke kedua orang tua, murid terhadap guru, istri kepada suami, kepada saudara, teman, dan lain-lain. Saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan para jemaah untuk menziarahi makam orang tua yang sudah meninggal dunia. Menurutnya, doa anak menjadi sumber kebahagiaan dan keberkahan bagi orang tua di alam barzah.

“Mendoakan orang tua yang sudah berada di kubur. Doakan supaya diberi keselamatan. Datangi kuburnya dengan membaca istighfar, salawat, dan lain-lain. Ini penting untuk kebahagian dan keberkahan orang tua,” ucapnya.

Pria yang juga alumnus Pondok Pesantren Annuqayah itu turut mengingatkan jemaah agar berbakti kepada orang tua yang masih hidup. Ia menegaskan agar jangan sampai berbuat durhaka.

“Kata Allah, barang siapa yang berpuasa sebulan penuh, tapi durhaka kepada orang tuanya tidak akan diampuni dosa-dosanya. Salat sekalipun tidak diterima selama masih durhaka kepada orang tua,” tegasnya.

Lebih lanjut, dia menganjurkan jemaah untuk melakukan puasa Syawal. Dia menjelaskan pahala puasa Syawal selama 6 hari setara dengan puasa setahun penuh.

“Puasa 6 hari Syawal, karena orang bepuasa di Syawal pahalanya seperti puasa 1 tahun penuh,” jelasnya.

“Paling utama dimulai besok (Minggu) sampai Jumat. Jadi 6 hari. Kalau nggak sempat bisa dicicil selama masih di bulan Syawal,” imbuhnya.

(War/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *