DaerahPolitikSerba-serbi

Nama-Nama Desa di Madura Ini Unik: Ada Kolor, Montok, hingga Toket

×

Nama-Nama Desa di Madura Ini Unik: Ada Kolor, Montok, hingga Toket

Sebarkan artikel ini
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Madura dengan Jawa. [Foto: dok. rilpolitik.com]
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Madura dengan Jawa. [Foto: dok. rilpolitik.com]

MADURA, Rilpolitik.com – Madura merupakan sebuah pulau yang terletak di Jawa Timur (Jatim). Pulau ini terdiri dari empat kabupaten, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Madura memiliki desa-desa dengan nama yang unik dan kadang terdengar lucu, bahkan agak vulgar. Meskipun bagi warga setempat, hal itu hanyalah nama biasa yang memiliki sejarah tersendiri.

Berikut desa-desa di Madura yang memiliki nama unik:

1. Desa Kolor

Ketika pertama kali mendengar nama desa ini, pikiran mungkin langsung mengarah pada celana dalam pria atau celana pendek. Namun, Kolor di sini merupakan nama desa yang terletak di Kecamatan Sumenep Kota, Kabupaten Sumenep.

Desa Kolor menjadi pusat pemerintahan dan bisnis di Kabupaten Sumenep. Di sana terdapat kantor-kantor pemerintah setempat. Bahkan, kantor Bupati berkedudukan di Desa Kolor.

2. Desa Ketupat

Ketupat pada umumnya merupakan nama makanan khas Indonesia yang berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda berbentuk segi empat. Makanan ini paling cocok dimakan dengan opor ayam.

Namun di Sumenep, Ketupat bukan hanya nama makanan, melainkan juga nama sebuah desa di kepulauan, yang secara administratif masuk Kecamatan Ra’as.

Desa Ketupat berada di ujung barat Pulau Raas, dengan jumlah penduduk sekitar 5.500 jiwa. Mayoritas masyarakatnya adalah nelayan.

Salah satu sumber menyatakan bahwa sebagian besar laki-laki dari Desa Ketupat adalah merantau ke luar pulau, seperti Bali dan Jawa.

3. Desa Toket

Nama desa ini mungkin terdengar agak vulgar bagi orang luar. Karena dalam bahasa Indonesia, ‘toket’ merujuk pada payudara perempuan. Namun bagi masyarakat setempat, nama tersebut tidak memiliki makna vulgar.

Desa Toket terletak di Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Desa ini dikenal sebagai pusat produksi batik di Pamekasan. Bahkan, batik dari Desa Toket telah berhasil menembus pasar internasional.

4. Desa Montok

Seperti halnya Desa Toket, mungkin nama Desa Montok ini juga terdengar agak vulgar bagi orang luar. Namun, kata ‘montok’ di sini tidak merujuk pada makna populer yang berarti ‘berisi atau seksi’.

Montok merupakan nama desa yang terletak di Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Penamaan desa ini memiliki sejarah tersendiri.

Desa ini dikenal sebagai Pesarean Ki Ageng Joko Tarub. Tempat ini memiliki ‘bambu cinta’ dan makam yang sering diziarahi, diyakini sebagai tempat Joko Tarub menyebarkan Islam.

Dikutip dari website resmi Desa Montok, konon, pada masa pemerintahan Raja Arya Wiraraja Sumenep, Madura mengalami paceklik akibat kemarau panjang sehingga wilayah Madura menjadi gersang dan banyak tumbuhan mati kekurangan air.

Suatu ketika, ada seorang penyabit rumput bernama Imam Syafi’i melihat gundukan tanah yang cukup tinggi di pesisir selatan. Pada gundukan itu terdapat ilalang yang bergoyang meski tanpa ada angin kencang.

Penasaran dengan gundukan tersebut, Imam Syafi’i akhirnya naik ke atas. Di situ dia terkejut melihat Temon (mentimun) dilingkari otok (kacang panjang) tumbuh subur di tengah kegersangan.

Imam Syafi’i pun langsung berteriak memberitahu dari kejauahan kepada Ki Ageng Joko Tarub terkait tumbuhan tersebut: “Bedeh temon otok nongko’ neng gumo’!” yang berarti “Ada mentimun dan kacang panjang di atas gundukan tanah”.

Hal itu diulang berkali-kali, namun yang terdengar di telinga Ki Ageng Joko Tarub hanyalah ‘mon’ dan ‘tok’, sehingga tempat tersebut dinamakan Montok.

5. Desa Apa an

Nama desa ini juga terdengar cukup unik, ‘Apa an’. Desa ini terletak di Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, dengan total luas wilayah 6.94 hektar dan berlokasi sekitar 8 kilometer dari titik 0 km Kabupaten Sampang.

Jumlah total penduduk Desa Apa an, berdasarkan data tahun 2023, sebanyak 5.434 jiwa, dengan 2714 jiwa penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 2720 jiwa penduduk berjenis kelamin perempuan.

Mayoritas warga Desa Apaan berprofesi sebagai petani dan nelayan.

6. Desa Pocong

Nama Desa yang berlokasi di Kecamatan Tragag, Kabupaten Bangkalan ini tidak kalah uniknya, yaitu Pocong.

Sekilas, yang terlintas dalam pikiran ketika mendengar kata ‘Pocong’ adalah jenazah yang dibungkus kain kafan.

Ada banyak versi cerita terkait asal-usul penamaan desa tersebut. Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat bahwa desa ini dulunya adalah hutan belantara yang dikenal mistis.

Seiring berjalannya waktu, hutan ini berubah jadi hunian warga. Konon, warga yang pertama tinggal di desa tersebut kerap melihat penampakan hantu pocong di malam hari. Hal itu berlangsung selama selama 40 hari. Sehingga desa tersebut diberi nama Desa Pocong.

Cerita lain menyebutkan bahwa nama Desa Pocong diambil dari sebuah pohon yang memunculkan sumber air di bawahnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa nama Desa Pocong diambil dari ‘Nyai Pocong’, julukan selir Raja Cakraningrat IV, Nyai Ageng Dewi Maduretno. Julukun ‘Nyai Pocong’ itu sendiri karena Maduretno kerap mengenakan pakaian serba putih.

Demikian nama-nama desa unik dan lucu yang ada di Madura versi redaksi rilpolitik.com. Menurutmu, ada yang lain?

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *