JAKARTA, Rilpolitik.com – Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menghilang menyusul operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) Summarecon yang menyeret sejumlah orang kepercayaannya serta anak buahnya di Kementerian ATR/BPN pada Senin (14/9/2026).
Politikus Partai Golkar itu sudah dua kali absen rapat bersama DPR. Rapat pertama pada Selasa (15/9/2026), sementara rapat kedua berlangsung pada Rabu (16/9/2026). Ia diwakilkan oleh Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan dalam dua kali rapat tersebut.
Nusron juga tidak terlihat di kantor Kementerian ATR/BPN saat tim penyidik KPK menggeledah ruangan Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN, Lampri, yang kini telah menjadi tersangka suap pengurusan HGB.
Bahkan, kini akun Instagram pribadinya yang sudah terverifikasi turut menghilang.
Nama Nusron memang santer dikaitkan dengan kasus dugaan suap pengurusan HGB Summarecon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pasalnya, empat orang yang terjaring OTT KPK dan kini berstatus tersangka merupakan orang kepercayaan Nusron.
Tak hanya itu, temuan uang tunai sebesar Rp106,3 miliar di rumah Arif Sugiyanto, salah satu tersangka suap HGB, juga kepemilikannya dikait-kaitkan dengan Nusron.
Kasus tersebut mengingatkan kembali pada isi ceramah lawas Nusron yang disampaikan usai shalat Idul Fitri 1437 H di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, pada Juli 2016 silam.
Saat itu, Nusron yang bertindak atas nama Ketua PBNU menyampaikan bahwa jihad terbesar umat Islam adalah perang melawan hawa nafsu. Dan, salah satu hawa nafsu terberat adalah nafsu untuk melakukan korupsi.
“Jihad paling akbar juga perang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang paling nyata di depan mata dan menjadi realitas publik adalah korupsi, manipulasi, kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” ujar Nusron di hadapan jemaah.
Nusron mengatakan, sesuai pendapat ulama, korupsi adalah sifat jahat yang tidak pantas dilakukan manusia yang beradab. Bahkan, ia menyebut korupsi sebagai sifat hewan.
“Koruptor itu sifatnya dengan hewan, makan sebanyak-banyaknya untuk bersenang-senang, memangsa hak orang lain dan dilakukan penuh dengan rekayasa dan tipu daya yang sering dilakukan setan,” kata Nusron.
Meski demikian, menurut Nusron, saat ini banyak yang manjalankan ibadah puasa hanya sebagai simbolik. Di sisi lain, korupsi dan penyalahgunaan juga masih marak dan lancar dilakukan.
(War/rilpolitik)
















