Dulu, Madura dikenal dengan garamnya yang asin, karapan sapinya yang berdebu, serta orang-orangnya yang keras, tapi berhati lapang. Kini, garam masih asin, debu masih beterbangan, tapi hati? Ah, sudah lama tidak kita temui yang lapang. Anak muda berani membentak kakek tua yang lupa turunkan lampu di motornya.
Madura kini bukan lagi Madura yang dulu. Bukan karena pulau ini pindah koordinat, tapi karena jiwa-jiwa penghuninya makin tersesat. Kita menyebutnya kemajuan zaman, padahal itu hanya istilah sopan untuk kerusakan yang terjadi pelan-pelan.
Narkoba datang tanpa salam, digitalisasi masuk tanpa ketok pintu, dan para tokoh panutan? Mereka pensiun lebih awal bukan karena usia, tapi karena tak kuat melihat kebodohan berjubah kemajuan.
Dulu, anak muda Madura belajar sopan santun dari kiai, dari orang tua, dari cerita-cerita langgar selepas magrib. Sekarang? Belajar etika dari TikTok, moral dari sinetron, dan logika dari komentar YouTube. Maka jangan heran jika ada suami yang menjual istri, seperti jual kambing di pasar minggu. Atau suami membunuh istrinya sendiri, seolah cinta adalah alasan sah untuk membunuh. Ini bukan drama Korea. Ini Madura, tanah leluhur, yang kini kehilangan akal sehatnya.
Apakah ini takdir? Atau kita sedang menyusun takdir baru dengan bahan bakar kebodohan? Tak perlu dijawab. Lihat saja berita. Setiap hari ada cerita yang membuat kita geleng kepala sambil bertanya: Benarkah ini Madura? Atau hanya panggung sirkus yang kebetulan berlokasi di sini?
Yang hilang dari Madura bukan hanya budaya, tapi rasa malu. Dulu, orang Madura malu kalau berbuat salah. Sekarang? Yang penting viral. Yang penting cuan. Yang penting bisa beli HP baru, walau harus mencuri atau menjual kehormatan.
Madura perlu ditata ulang. Bukan dari jalan rayanya, tapi dari jalan pikirannya. Dari dalam kepala anak-anak muda yang lebih kenal filter Instagram daripada batas halal-haram. Dari hati para orang tua yang mulai lelah menjadi teladan. Dan dari pemimpin yang lebih sibuk foto seremonial ketimbang turun melihat penderitaan warganya.
Menata takdir bukan kerja setengah hati. Dan Madura, kalau ingin kembali waras, harus lebih dulu mengakui: kita sedang sakit. Bukan hanya badan, tapi jiwa. Dan obatnya bukan hanya pembangunan fisik, tapi pembangunan nurani.
Sebab takdir bukan hanya ditunggu. Ia harus ditata. Dan Madura, semoga belum terlalu terlambat.
Penulis: Fauzi As
Pemerhati Kebijakan Publik



![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-350x220.jpg)


![Ahmad Shidiq mengomando warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Reklamasi (GEMA AKSI) usir paksa ekskavator bersama pengawalnya keluar dari perairan Tapakerbau Sumenep. [Tangkapan layar]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260409-WA0005-350x220.jpg)
![Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Reklamasi (GEMA AKSI) mengusir paksa ekskavator yang melakukan aktivitas pengerukan di laut Kampung Tapakerbau pada Minggu (5/4/2026). [Foto: akun Facebook Marlaf Sucitpo]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/Screenshot_20260409_094443_Facebook-350x220.jpg)





![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-180x130.jpg)


![Ahmad Shidiq mengomando warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Reklamasi (GEMA AKSI) usir paksa ekskavator bersama pengawalnya keluar dari perairan Tapakerbau Sumenep. [Tangkapan layar]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260409-WA0005-180x130.jpg)