DaerahSerba-serbi

Keteladanan Kiai Tawali dan Warisan Pendidikan Sosialnya

×

Keteladanan Kiai Tawali dan Warisan Pendidikan Sosialnya

Sebarkan artikel ini
Kiai Tawali.

Oleh: Soivi Muhammad
Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pengajar di MA. Al Ma’arif Plus Sumenep


Suatu waktu, saya menghadiri pertemuan alumni lintas generasi di Yayasan Pesantren Miftahul Ihsan, pada 16 Agustus 2023. Acara tersebut dikemas sedemikian akrab, penuh haru, intim, dan berkesan di benak para alumni. Pertemuan itu menjadi pintu gerbang untuk merenungkan kembali warisan serta keteladanan figur pendiri Yayasan Pesantren Miftahul Ihsan, Kiai Tawali. Melalui pemutaran film dokumenter, pembacaan puisi, dan kesaksian para santri sepuh, tergambar jelas keteladanan sosok kiai pemimpin umat yang tidak hanya berfokus pada transmisi ilmu, tetapi juga pada pembinaan karakter dan kepedulian sosial.

Kiai Tawali mendirikan Pesantren Miftahul Ihsan dengan cita-cita mulia: menjadikan pesantren tersebut sebagai wadah keilmuan dan mendidik santrinya dengan pondasi ilmu agama yang kuat agar keberadaan mereka di masyarakat menjadi “cahaya yang memancarkan sinar pengetahuannya pada gelapnya nurani, akhlak, dan kebodohan akan ilmu pengetahuan.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Kiai Tawali melihat pendidikan agama bukan sekadar ritual, melainkan sebagai komitmen transformatif untuk mengatasi krisis moral dan intelektual dalam masyarakat. Pesantren, dalam pandangannya, adalah bengkel untuk mencetak agen perubahan yang berbekal ilmu dan etika.

Selain memiliki visi pendidikan yang mendalam, Kiai Tawali juga dikenal memiliki karakter personal yang patut diteladani. Sebagaimana kesaksian para sesepuh, alumni, dan santri yang pernah diajar langsung oleh Kiai Tawali, beliau adalah sosok yang sangat kuat mengajarkan nilai-nilai keislaman, rajin bersilaturahmi dengan saudara dan santrinya, serta memiliki tingkat kesabaran dan kasih sayang yang tinggi dalam mendidik para santri.

Aspek silaturahmi menunjukkan bahwa nilai agama yang diajarkan Kiai Tawali tidak terhenti di ruang kelas, melainkan diimplementasikan dalam praktik sosial yang konkret, yaitu menjaga dan merawat tali persaudaraan. Ini merupakan bukti bahwa, bagi Kiai Tawali, kesalehan pribadi harus sejalan dengan kontribusi sosial.

Ada satu cerita tentang Kiai Tawali dan penghormatan beliau terhadap Hari Jumat—hari yang diyakini oleh umat Islam sebagai hari yang mulia dan penuh berkah. Menurut pitutur santri sepuh, Kiai Tawali tidak pernah absen menjadi imam salat Jumat. Bahkan, jika ada saudara atau warga yang tidak datang pada salat Jumat, maka Kiai Tawali menanyakannya atau mengutus seseorang untuk menjenguknya. Sebab, Kiai Tawali khawatir warga atau saudaranya tersebut dalam keadaan sakit atau memiliki uzur lain.

Ini merupakan cerita yang berkesan dan sarat makna simbolis, bahwa bagi Kiai Tawali, Hari Jumat bukan hanya hari yang penuh berkah dan kemuliaan, tetapi juga dimaknai sebagai simbol kepedulian sosial.

Hal ini sejalan dengan riwayat Syekh Az-Zandusty tentang kemuliaan Hari Jumat yang juga dikenal sebagai Sayyidul Ayyam (pemimpin hari-hari). Riwayat ini dinukil dari Kitab Mawa’izh Al-‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-‘Ushfuri, seorang ulama tersohor dari Mesir pada abad ke-17.

Adalah Syekh Az-Zandusty mendengar dari Abu Mansur Al-Madzkur, ia berkata:

“Allah memberikan Hari Sabtu kepada Nabi Musa bersama 50 nabi dan rasul di zamannya. Hari Minggu (Ahad) diberikan kepada Nabi Isa bersama 50 nabi dan rasul lainnya. Hari Senin diberikan kepada Nabi Muhammad beserta 63 nabi dan rasul lainnya. Maka tersisalah Hari Jumat untuk Allah Ta’ala. Nabi SAW bersabda: ‘Wahai Tuhan, apa bagian untuk umatku dari-Mu?’ Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad, Hari Jumat dan surga adalah milik-Ku. Aku telah memberikan Jumat dan surga untuk umatmu, serta keridaan-Ku bersama Jumat dan surga sebagai hadiah untuk mereka.’”

Secara keseluruhan, warisan Kiai Tawali yang disajikan melalui memori para santri, alumni, dan sesepuh merupakan perpaduan harmonis antara ilmu dan amal. Beliau mengajarkan ilmu agama sebagai pondasi dan kompas untuk menuntun kehidupan yang baik, benar, dan bijaksana.

Pada saat yang sama, beliau mencontohkan aplikasi praktis dari ilmu tersebut melalui kepedulian sosial yang intensif, terbukti dari kebiasaan mulianya setiap Hari Jumat.

Keteladanan Kiai Tawali menjadi pengingat abadi bahwa peran seorang pendidik sejati adalah menciptakan cahaya pengetahuan yang disertai kehangatan kasih sayang dan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *