JAKARTA, Rilpolitik.com – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Jansen Sitindaon menilai langkah Presiden Prabowo Subianto bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamain bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merupakan langkah politik yang tepat.
Pernyataan ini disampaikan Jansen lewat akun X resminya, dikutip rilpolitik.com, Senin (2/3/2026), merespons agresi militer AS di Venezuela dan Iran baru-baru ini, yang tak menutup kemungkinan akan menyusul negara lainnya.
Atas dasar itu, Jansen berpandangan bahwa langkah politik luar negeri Prabowo, yang memilih ‘berkawan’ dengan AS itu dilakukan demi keamanan dan keselamatan bangsa Indonesia.
“Menurutku, sudah tepat langkah-langkah yang diambil dan tindakan yang dilakukan pak @prabowo beberapa waktu belakangan ini. Termasuk membawa kita bergabung ke BOP, ‘berkawan’ dengan Amerika dan lainnya,” kata Jansen. Ia menekankan bahwa pernyataan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili organisasi.
“Melihat keadaan dunia sekarang, ditambah ‘gila’ dan tidak terprediksinya Trump/Amerika, ditambah canggih dan majunya arsenal militer dan peralatan perang mereka — di mana bisa mendeteksi manusia secara real time, menyerangnya langsung dll —, ditambah kekuatan ekonominya, apa yang dilakukan pak Prabowo 1 tahun ini menurutku sudah tepat untuk kebaikan kita semua 280 juta rakyat Indonesia, keselamatan dan keamanan bangsa kita,” imbuhnya.
Jansen mengajak publik untuk berpikir secara rasional. Menurutnya, kekuataan militer dan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum siap untuk berhadapan dengan AS. Indonesia, kata Jansen, baru mampu melawan AS lewat media sosial.
“Silahkan saja bagi teman-teman yang terus mau menentang Amerika, khususnya di medsos, karena mampunya kita memang baru di situ. Termasuk bagi yang tidak setuju dengan langkah pak Prabowo. Tapi pertanyaanya kita mau melawan Amerika ini pake apa? Dengan kekuatan militer dan ekonomi kita yang sekarang masih terbatas? Mari kita rasional,” ujarnya.
Jansen mengatakan saat ini telah terjadi perubahan tata kelola hubungan internasional, dari era kerja sama kolektif (multilateralisme) menuju era yang lebih transaksional.
“Dulu negara-negara bertindak melalui aturan bersama, forum bersama, termasuk keputusan diambil bersama. Kolektif, era multilateralisme (PBB, WTO, Bank Dunia dll). Untuk negara yang belum masuk level “great atau super power” seperti kita, inilah era yang lebih menguntungkan, karena lebih stabil dan terprediksi. Namun era ini sekarang sudah hampir punah atau mengalami erosi parah. Tidak tahu apakah masih bisa pulih. Mungkin pasca Trump selesai jabatannya dan penggantinya tidak sama doktrinnya dengan dia,” kata dia.
“Sekarang, demi kebaikan masing-masing (pragmatis), tiap negara berhubungan dengan negara lain yang dianggap bisa lebih memberi keuntungan terbaik dalam hal keamanan, ekonomi dan meminimalkan ancaman bagi negaranya. Sambil pelan-pelan tentu saja mengurangi ketergantungan itu. Termasuk kita Indonesia,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Jansen menyinggung sikap Prabowo yang menunduk di depan Trump. Menurutnya, hal itu dilakukan demi keselamatan dan keamanan bangsa Indonesia. Ia menekankan Prabowo memiliki pemahaman geopolitik yang luas. Prabowo juga disebut paham kekuataan militer masing-masing negara.
“Dengan pemahaman geopolitiknya yang luas, termasuk mengerti kekuatan militer masing-masing negara, inilah yang sekarang menurutku sedang dilakukan pak Prabowo. Terlihat di foto, video dll beliau memang sedikit menunduk dan mengalah di depan Trump atau Amerika, namun itu semua dilakukan untuk kebaikan kita semua. Sambil pelan-pelan beliau perjuangkan dan masukkan hal-hal yang menguntungkan untuk bangsa kita. ‘National interest’ kita,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Jansen mendukung langkah politik luar negeri yang sedang dijalankan Prabowo saat ini.
“Jadi maju dan navigasi terus kita semua pak Prabowo, di tengah tidak stabil, ‘anarkisnya’, sistem dan keadaan global saat ini. Sambil pelan-pelan kita memperkuat diri ke dalam. Sampai tiba waktunya kita muncul dan siap. Sebagaimana kata Deng Xioping 50 tahun lalu: ‘Tao Guang Yang Hui’, — ‘Sembunyikan Kemampuan dan Kekuatanmu, Tunggu Waktu Yang Tepat’,” tutup Jansen.
(Ah/rilpolitik)
















