EkonomiNasional

Bertahan dalam Diam, Bekerja dalam Iman, Letjen Novi Helmy dan Watak Leluhur

×

Bertahan dalam Diam, Bekerja dalam Iman, Letjen Novi Helmy dan Watak Leluhur

Sebarkan artikel ini
Letjen Novi Helmy Prasetya.

Oleh: Asip Irama
Direktur Eksekutif Indopublika


Ada yang tidak bisa dibeli dari tanah bernama Madura: harga diri. Di tempat di mana angin laut membawa sabda-sabda leluhur dan matahari mengguratkan sabar di dahi petani garam, tumbuhlah watak manusia yang tidak mudah tunduk, tidak gampang goyah, tetapi selalu tahu bagaimana cara menghormat.

Madura bukan sekadar pulau. Ia adalah jalan hidup. Ia adalah kesadaran moral. Ia adalah warisan nilai-nilai yang lebih tua dari republik ini. Maka tak heran, dari tanah ini muncul anak-anak yang keras kepada diri sendiri, namun lemah lembut kepada sesama. Tegas, tetapi tidak congkak. Kuat, tetapi tidak angkuh. Dan dalam wajah yang diam namun berpendirian itu, kita menemukan cerminan Letnan Jenderal TNI Novi Helmy Prasetya.

Orang boleh mencatat pangkat dan jabatan Letjen Novi mulai dari Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad, Pangdam Iskandar Muda, Asisten Teritorial Panglima TNI, hingga pernah dipercaya sebagai Direktur Utama Perum Bulog. Tetapi jika kita berhenti di sana, kita kehilangan intinya. Sebab lelaki ini bukan semata pangkat, tapi watak. Bukan hanya tentara, tapi pancaran nilai-nilai yang hidup dalam diam, dalam kerja, dalam sikap.

Letjen Helmy adalah anak Madura. Bukan hanya karena garis darah, tapi karena nilai-nilai yang mengakar dalam tubuh dan tindakannya. Ia tumbuh dalam budaya yang mengajarkan bahwa kehormatan adalah harga yang tak bisa dinegosiasikan, bahkan jika yang dipertaruhkan adalah tubuh sendiri. Dalam tradisi Madura, keberanian bukan soal kekerasan, melainkan keteguhan mempertahankan martabat — diam-diam, tapi tak pernah tunduk.

Maka ketika Letjen Novi memimpin, ia tidak sekadar memerintah. Ia menjaga. Ia bukan hanya mengelola institusi, tetapi menghidupi makna amanah. Ia tahu bahwa jabatan bukan kehormatan, melainkan ujian. Kekuasaan bukan kemewahan, tetapi tanggung jawab yang tak boleh dilalaikan.

Keteladanan Letjen Novi tidak lahir dari kata-kata besar. Ia tumbuh dari konsistensi yang nyaris tak pernah tertangkap kamera. Saat menjabat Pangdam Iskandar Muda, ia dikenal rendah hati, dekat dengan para ulama dan tokoh adat, serta menghormati keragaman Aceh bukan dalam pidato, tetapi dalam kehadiran. Ketika dipercaya menjadi Direktur Utama Perum Bulog, ia tidak menempuh jalur yang gemerlap. Ia memilih jalan sepi: menata sistem logistik, menjaga stabilitas harga beras, memastikan distribusi tepat sasaran, dan menolak campur tangan para pemburu rente.

Ia tidak mengangkat suara untuk menunjukkan keberpihakan. Ia mengambil sikap, bahkan jika sikap itu berisiko secara politik. Seperti karakter Madura yang tenang namun keras hati terhadap pengkhianatan, Letjen Helmy berjalan dalam garis yang ia percaya benar, bukan garis yang menjanjikan pujian.

Dalam dirinya, hidup pula satu nilai khas Madura yang jarang disadari orang luar: “taretan.” Persaudaraan bukan sekadar hubungan darah, melainkan komitmen batin untuk menanggung beban bersama. Nilai ini yang membuat banyak anak Madura merasa bertanggung jawab tidak hanya atas keluarganya, tapi atas tetangganya, atas bangsanya.

Dan dalam diri Letjen Helmy, taretan itu bukan slogan. Ia hidup. Terlihat dari cara ia memimpin satuan, menjaga anak buah, membangun dialog dengan petani dan pedagang, serta membela para pekerja di lingkaran Bulog. Ia tidak berbicara tentang rakyat, ia berjalan bersama mereka.

Saya tidak mengenal Letjen Novi secara pribadi. Tapi setiap kali melihat caranya berbicara — pendek, tepat, tidak berlebihan — saya seperti mendengar suara kakek saya sendiri. Orang tua Madura yang ucapannya tidak panjang, tapi bila keluar dari mulut, kita tahu: ia bersungguh-sungguh.

Saya percaya, diamnya Letjen Novi bukan karena miskin kata. Tapi karena ia belajar bahwa integritas tak perlu diumumkan. Ia cukup dihidupi. Watak Madura menempanya menjadi pribadi yang sabar dalam tekanan, tidak meledak dalam provokasi, dan tegas tanpa caci maki.

Itulah yang mulai langka dari para pemimpin hari ini. Terlalu banyak yang piawai bicara, tapi gagap mendengar. Terlalu banyak yang mahir membuat narasi, tapi kabur dari kenyataan. Sementara Letjen Helmy Novi hadir sebagai pengecualian. Ia tidak bicara soal moralitas, ia menunjukkannya. Ia tidak menjanjikan keadilan, ia mewujudkannya dalam keputusan-keputusan kecil yang berdampak luas.

Maka pada saat ia dititipi peran strategis dalam urusan pangan nasional, saya melihatnya sebagai bentuk pengakuan terhadap watak yang lahir dari kebudayaan, bukan sekadar hasil promosi birokrasi. Ia tidak menyandang asal-usul Madura hanya di biodata. Ia menghidupinya dalam sikap, dalam pilihan, dalam diamnya yang bekerja.

Dan kepada anak-anak muda Madura hari ini, yang sering tumbuh dalam bayang-bayang stigma dan prasangka, Letjen Helmy hadir sebagai penanda jalan. Ia menunjukkan bahwa kita bisa setia pada nilai, tanpa kehilangan pijakan. Kita bisa menjunjung harga diri, tanpa harus mengorbankan cita-cita. Kita bisa sampai ke pusat-pusat kekuasaan tanpa kehilangan siapa kita.

Karena pada akhirnya, negeri ini tidak butuh pemimpin yang hanya gagah di atas kertas. Tapi pemimpin yang, ketika bicara, rakyat percaya. Dan ketika memimpin, rakyat merasa dijaga. Seperti cara orang Madura menjaga kehormatan: tanpa banyak kata, tapi tak pernah lemah.

Letjen Helmy Novi adalah wajah dari itu semua. Dan dalam diamnya yang bekerja, saya membaca satu pesan: bahwa watak Madura — yang jujur, bersahaja, dan teguh — belum mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *