Di tengah pusaran dinamika sosial dan politik yang tak menentu, lahirlah kembali semangat kepemimpinan dari timur. Ia hadir bukan dengan gempita pidato, melainkan lewat keteduhan sikap dan ketegasan langkah. Ia adalah Mayjen TNI Rudy Saladin, Pangdam V/Brawijaya, seorang jenderal muda dengan kecerdasan, komunikasi santun, dan rekam jejak prestasi yang menginspirasi. Bisa saja dia adalah The next “Ayam Jantan dari Timur.”
Julukan “Ayam Jantan dari Timur” bukanlah sembarang kiasan. Gelar itu dahulu disematkan kepada Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin, sosok pejuang tangguh dari Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan, yang melawan dominasi VOC.
Kini, semangat itu seakan diwarisi oleh Rudy Saladin: perwira dari timur yang bukan hanya teguh di medan tugas, tetapi juga piawai dalam meredakan ketegangan dan menjahit silaturahmi.
Sebagai penerima Adhi Makayasa, Rudy Saladin tak pernah jauh dari nilai-nilai keunggulan. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya akademik dan strategi militer, tapi juga kecakapannya dalam membaca ruang sosial dan momentum politik.
Ketika RUU TNI menjadi polemik publik, menciptakan ruang gesekan antara sipil dan militer, Rudy justru memanfaatkan situasi itu sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa TNI tidak menjauh dari rakyat.
Ia menggagas dan menghadiri acara “Manunggal Bersama TNI”, sebuah gelaran sinergi antara tentara dan masyarakat, yang sekaligus dirangkai dengan pelantikan Ansor, elemen muda dari Nahdlatul Ulama yang punya akar kuat di Jawa Timur.
Acara besar tersebut tidak dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur maupun Kapolda Jatim. Sebuah momen yang menimbulkan tafsir negatif. Namun di sinilah letak kecerdasan Pangdam. Ia tidak terpancing untuk menanggapi secara frontal, tidak mengumbar simbol perpecahan. Ia memilih tenang, membiarkan bahasa tindakan lebih bicara dari sekadar opini.
Dan benar saja. Keesokan harinya, pemandangan berbeda muncul: Mayjen Rudy Saladin, Gubernur Jatim, dan Kapolda duduk bersama di kediaman Presiden Joko Widodo di Solo. Mereka hadir dalam satu bingkai yang sama, menampilkan kebersamaan, dan meredam segala asumsi publik tentang gesekan.
Bagi sebagian orang, ini hanya agenda biasa. Namun bagi mata yang jeli, ini adalah pesan komunikasi tingkat tinggi. Bahwa Rudy Saladin tidak hanya seorang jenderal, tetapi seorang komunikator ulung dan eksekutor yang matang. Bagi saya, ia profesor Prinsip “Audi Alteram Partem.”
Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus menampilkan simbol kebersamaan yang menyentuh akar kepercayaan rakyat.
Mayjen TNI Rudy Saladin adalah cerminan baru dari Ayam Jantan dari Timur ketegangan kesejukan. bukan hanya sebagai pejuang, tapi juga sebagai pemersatu. Ia tampil bukan untuk menantang, tapi untuk merangkul. Dalam ketegangan, ia hadir membawa kesejukan. Dalam provokasi, ia memilih stabilitas. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai jurang, tapi sebagai ruang untuk memahami.
Ya Pangdam V/Brawijaya ini layak disebut sebagai pemimpin masa kini: berprestasi, komunikatif, dan penuh intuisi kepemimpinan. Sosok seperti inilah yang dibutuhkan bangsa mereka yang berani maju ke depan, tapi tidak melupakan pentingnya berdiri bersama.
Sayangnya ayam jantan dari timur belum hinggap di Madura, sehingga tajinya belum sempurna tak tertular tuah sakera.
Penulis: Fauzi As
Pengamat Kebijakan Publik
Catatan: Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili pandangan redaksi rilpolitik.


![Jokowi dan Gibran. [Foto: antara]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062555-350x220.jpg)









![Jokowi dan Gibran. [Foto: antara]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062555-180x130.jpg)



