DaerahSerba-serbi

Selamat Jalan Pak Sholeh

×

Selamat Jalan Pak Sholeh

Sebarkan artikel ini
Cak Sholeh.
Cak Sholeh.

Oleh: Marlaf Sucipto
Praktisi hukum Jawa Timur


Pagi tadi, Guru saya, Muhammad Sholeh, meninggal dunia. Beliau meninggal hari ini; Jum’at, 7 Agustus 2026. Saya dapat berita duka melalui status What’sApp (WA) beliau yang di-share oleh keluarganya.

Saya tak menyangka beliau secepat ini “kembali” kepada-Nya. Mengingat, beberapa waktu yang lalu, saya masih saling sapa.

Saya mulai belajar kepada beliau dalam dunia advokasi sejak pertengahan tahun 2014 di Surabaya. Saya mulai mengenali beliau dari sepak terjangnya sebagai aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang se zaman dengan Budiman Sudjatmiko. PRD adalah partai paling vokal dan radikal pada rezim oteriter Orde Baru di bawah Presiden Soeharto; mantan mertuanya Presiden Prabowo kini.

Walaupun PRD kini sudah ambyar, jiwa ‘perlawanan’ Pak Sholeh terhadap penguasa dan/atau kekuasaan yang tidak memihak dan cenderung intimidatif pada rakyat lemah, masih terjaga. Melalui media sosial, dengan slogan “No Viral, No Jastice”, beliau tetap konsisten dalam menjaga spirit perlawanan tersebut.

Proses saya sebagai advokat, banyak dibentuk oleh kerangka pikir yang dibangun dalam diskusi ke diskusi bersama beliau. Yang merekomendasikan saya saat mau tes advokat pun, adalah beliau.

Pengalaman yang mengesankan sampai kini dan itu menjadi cikal-bakal awal saya dalam dunia praksis advokasi, saya pernah dilibatkan dalam kerja-kerja advokasi _walaupun senyatanya saya tak lebih dari sekedar yang menghabiskan jatah makan di Hotel Swis Bell In di jalan Juanda_ salah satu mantan bupati yang berhadapan dengan proses hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada proses ini, sebab beliau, saya berkesempatan nyerap ilmu melalui diskusi kepada advokat kondang bernama Maqdir Isma’iel yang kala itu mendampingi proses hukum terhadap Setya Novanto dalam kasus e-KTP.

Baca juga:  Kabar Duka! Inisiator Gerakan ‘No Viral, No Justice’ Cak Sholeh Meninggal Dunia

Pak Sholeh orangnya gigih, ulet, tekun, pantang menyerah dan menejemen waktunya bagus. Kerja-kerja advokasinya cenderung menggunakan argumentasi akademis yang didasarkan pada disiplin ilmu yang memadai. Berproses di Pak Sholeh menitiktekankan pada kerja advokasi yang harus dilalui secara benar. Setidaknya sesuai dengan disiplin ilmu yang telah dipelari di kelas-kelas perkuliahan.

Bagi orang lemah yang memerlukan advokasi, selama orang tersebut betul-betul lemah secara kondisi, ‘sabda’ Pak Sholeh kepada saya dan orang-orang yang turut belajar kepada beliau, tolong bantu secara totality.

Takdir kini sudah menjadikan Pak Sholeh ‘kembali’, tapi semangat, benih-benih pemikiran progresif dalam kerja-kerja advokasi yang ditularkan kepada saya dan banyak orang yang pernah belajar kepada beliau, insyaAllah akan terus hidup dan menghidupi tatanan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara ke depan.

Selamat jalan, Pak.
Semoga Rahmat Allah terus bersamamu.
🙏🫡

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *