Oleh: Alda Parmaera
Penulis buku “Dari Rumah untuk Indonesia: Menyiapkan Generasi Emas 2045”
Pernah dihormati tetapi jarang dibuka, disimpan rapi di rak seperti pusaka yang hanya dikeluarkan saat hari besar, Al-Qonun Al-Asasi nyaris menjadi hafalan seremonial belaka.
Namun sore itu, di sebuah ruang tamu di Jombang, naskah berusia seratus tahun itu kembali hidup.
Akhir Agustus lalu, saya dan suami bersilaturahmi ke ndalem K.H. Abdul Hakim Mahfudz (68) — yang akrab disapa Gus Kikin. Alhamdulillah, kami diterima dengan hangat. Beliau ditemani Bu Nyai, Dr. Nyai Hj. Lelly Lailiyah Hakim.
Di luar, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sedang riuh. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berlangsung di sana pada 27–31 Agustus 2026, dan ribuan muktamirin datang dari seluruh penjuru negeri.
Bus berjajar di pinggir jalan. Bendera hijau berkibar. Suara pengeras suara bersahut-sahutan sejak subuh.
Begitu melewati pintu ndalem, riuh itu seperti tertinggal di halaman.
Kami mengobrol kurang lebih dua jam. Santai, ringan, mengalir — tetapi serius dan penting. Kami lebih banyak mendengar. Menyimak dawuh-dawuh Gus Kikin, dan tentu saja dawuh Bu Nyai.
Sepanjang dua jam itu, ada satu kata yang terus kembali seperti nada dasar yang menyangga seluruh lagu: Qonun Asasi.
Ada keinginan yang besar dan sungguh-sungguh dari keduanya agar NU kembali kepada naskah dasar yang dicetuskan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada 1926 itu.
Qonun Asasi bukan dokumen organisasi biasa. Di dalamnya Hadratussyaikh mengutip puluhan ayat Al-Qur’an dan sejumlah hadis, lalu menyusunnya menjadi seruan yang sangat manusiawi.
Salah satu kalimatnya kurang lebih berbunyi: sesungguhnya berkumpul (al-ijtima’), saling mengenal (at-ta’aruf), bersatu (al-ittihad), dan menyatunya hati (at-ta’alluf) adalah perkara yang tak seorang pun tidak mengenali manfaatnya.
Awal Agustus 2026, di Gedung Nusantara MPR RI, tiga buku tentang naskah ini diluncurkan sekaligus: terjemah Al-Qanun Al-Asasi karya Hadratussyaikh, syarah yang disusun Gus Kikin, dan satu buku lagi karya Bu Nyai.
Beberapa hari setelah pertemuan kami, Muktamar ke-35 memercayakan kepemimpinan Nahdlatul Ulama periode 2026–2031 kepada Gus Kikin — cicit Hadratussyaikh sendiri.
“Qonun Asasi adalah ruh Nahdlatul Ulama,” kata Gus Kikin dalam peluncuran buku itu, seperti dikutip sejumlah media.
Dua Jalan
Ketenangan Gus Kikin dalam menjelaskan naskah tua itu tidak datang begitu saja.
Jalan hidupnya justru berangkat dari arah yang jauh. Lulus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, ia sempat bertahun-tahun melaut, lalu bekerja di perusahaan pelayaran dan merintis puluhan usaha di bidang transportasi, energi, hingga media.
Baru pada 2020, setelah wafatnya sang pendahulu, ia memikul amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Seorang pelaut yang pulang untuk menjaga warisan buyutnya.
Sementara Bu Nyai menempuh jalan yang lain: jalan akademik.
Pada 30 Juni 2026, di Auditorium Ternate Universitas Airlangga, Surabaya, beliau mempertahankan disertasinya tentang nilai-nilai Qonun Asasi dalam politik hukum pengembangan sumber daya manusia di pesantren menuju Indonesia Emas 2045.
Hasilnya cumlaude, dengan indeks prestasi 3,97. Sidang terbuka itu dihadiri sejumlah menteri kabinet dan jajaran pengurus NU.
Dari disertasi itulah lahir buku setebal 243 halaman yang diterbitkan Pustaka Tebuireng: Transformasi Nilai-Nilai Qonun Asasi NU: Mengembangkan SDM Pesantren untuk Cita-Cita Indonesia Emas 2045.
Di dalamnya, Bu Nyai melakukan sesuatu yang menurut saya berani secara akademik sekaligus lembut secara batin. Beliau membaca Qonun Asasi bukan sebagai teks teologis yang romantis, melainkan sebagai manifesto pendidikan.
Beliau menarik garis sejarah yang mengejutkan.
Pada 1926, Hadratussyaikh menulis Qonun Asasi di tengah krisis multidimensi: kolonialisme, fragmentasi pemikiran, umat yang kehilangan pegangan.
Hari ini, kata beliau, kita menghadapi krisis dengan wajah berbeda tetapi struktur yang serupa: disrupsi global, banjir informasi, dan kapitalisme digital yang memangsa perhatian anak-anak sejak usia dini.
Zamannya berganti. Kegelisahannya sama.
“Konsep ini seharusnya menjadi pedoman hidup, bukan hanya bagi pengurus NU, melainkan seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Bu Nyai kepada para penguji.
Sungguh saya takjub melihat betapa selaras keduanya. Satu visi, dua jalur. Yang satu merawat ruh Qonun Asasi lewat syarah dan kepemimpinan jam’iyyah, yang satu menerjemahkannya ke dalam kerja pendidikan.
Yang satu menjaga api. Yang satu menyalakannya di tungku-tungku baru.
Dari Rumah
Menjelang pamit, Bu Nyai memberikan buku itu kepada saya.
Saya membacanya. Dan pada satu titik, saya berhenti.
Sebab saya seperti sedang membaca gema dari buku saya sendiri.
Beberapa waktu lalu saya menulis Dari Rumah untuk Indonesia: Menyiapkan Generasi Emas 2045. Buku itu lahir dari kegelisahan seorang ibu, bukan dari ruang seminar.
Kegelisahan melihat anak-anak yang dijadikan proyek ambisi orang tuanya. Melihat pendidikan yang sibuk mengejar angka rapor sambil melupakan adab. Melihat rumah yang berubah menjadi tempat memberi perintah, bukan tempat pulang.
Di buku itu saya mengajak kita kembali pada satu kata: fitrah. Bahwa setiap anak lahir membawa sesuatu yang murni dan utuh. Bahwa anak adalah amanah, bukan kepemilikan.
Bahwa tugas orang tua bukan mencetak, melainkan menemani dan menumbuhkan — fitrah imannya, fitrah belajarnya, fitrah bakatnya, fitrah sosialnya, fitrah kepemimpinannya.
Di sinilah saya menemukan benang merahnya.
Buku Bu Nyai berbicara tentang mengembalikan nilai-nilai muassis ke dalam pengembangan manusia di pesantren. Buku saya berbicara tentang mengembalikan anak kepada fitrahnya di dalam rumah.
Tiga jalan, satu muara: syarah Gus Kikin, disertasi Bu Nyai, dan kegelisahan seorang ibu.
Sebab pesantren dan rumah adalah dua madrasah tertua yang dimiliki bangsa ini. Keduanya bekerja dengan cara yang sama: bukan dengan kurikulum, melainkan dengan keteladanan.
Maka transformasi Qonun Asasi bukanlah mengubah nilai-nilai yang diwariskan para muassis. Ia adalah menghadirkan kembali ruhnya untuk menjawab tantangan zaman.
Jika dahulu Qonun Asasi menjadi fondasi dalam menjaga agama, umat, dan bangsa, maka hari ini nilai-nilai itu perlu diterjemahkan hingga ke ruang paling awal tempat sebuah generasi dibentuk: rumah dan keluarga.
Perhatikan betapa dekatnya empat kata Hadratussyaikh tadi dengan urusan sehari-hari kita.
Al-ijtima’, berkumpul — bukankah itu meja makan keluarga yang kita rindukan? At-ta’aruf, saling mengenal — bukankah itu yang hilang ketika orang tua merasa mengenal anaknya hanya dari nilai rapornya?
Al-ittihad dan at-ta’alluf, bersatu dan menyatunya hati — bukankah itu persis yang kita perjuangkan ketika memilih mendengar sebelum mengoreksi, berdialog sebelum mendoktrin?
Qanun Asasi berbicara kepada sebuah jam’iyyah. Tetapi nilai-nilainya, ternyata, berbicara juga kepada sebuah keluarga.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup disiapkan lewat kecerdasan akademik, penguasaan teknologi, atau kemampuan bersaing secara global.
Kita membutuhkan generasi yang berilmu sekaligus beradab. Modern tanpa kehilangan akar. Percaya diri menghadapi dunia, tetapi tetap memiliki kompas moral dan spiritual.
Dan semua itu bermula dari rumah.
Rumah adalah madrasah pertama. Orang tua adalah pendidik pertama. Dari keluargalah anak mengenal adab, tanggung jawab, kasih sayang, kejujuran, keberanian, serta makna hidup untuk memberi manfaat kepada sesama.
Karena itu, transformasi Qonun Asasi dalam konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai ikhtiar membawa nilai-nilai para muassis dari warisan menjadi gerakan, dari gagasan menjadi pengasuhan, dan dari rumah-rumah keluarga Indonesia menjadi kekuatan untuk membangun peradaban.
Menjaga warisan. Mendidik generasi. Menyiapkan masa depan.
Kini, sepulang dari ndalem, saya membawa dua hal: sebuah buku bersampul tebal, dan satu keyakinan yang semakin utuh.
Bahwa perkara-perkara besar sebuah bangsa hampir selalu dimulai dari ruang yang kecil dan sunyi. Sebuah naskah yang ditulis seorang kiai pada 1926. Sebuah disertasi yang dikerjakan seorang ibu di sela-sela mengurus pesantren. Sebuah percakapan dua jam di ruang tamu, di tengah muktamar yang riuh.
Sebab Indonesia Emas 2045 pada akhirnya tidak hanya dibangun di ruang kelas, di kampus, ataupun di pusat-pusat kekuasaan.
Ia mulai dibangun hari ini, dari rumah.
Terima kasih inspirasinya, Bu Nyai.




![Foto ilustrasi pekerja informal. [Dok. rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/09/1000072187-350x220.jpg)



![Polda Jawa Timur. [Foto: dok. rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/09/1000072074-350x220.jpg)

![Pengendara motor antre BBM jenis di Pertalite di SPBU. [Foto: dok. rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/08/1000069911-350x220.jpg)



![Foto ilustrasi pekerja informal. [Dok. rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/09/1000072187-180x130.jpg)

