PAMEKASAN, Rilpolitik.com – Ketua DPRD Pamekasan, Ali Masykur mengungkap penyebab harga tembakau di Madura lebih murah dibanding daerah lain seperti Bojonegoro yang bisa mencapai Rp180 ribu per kilogram (kg). Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah revisi Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pamekasan Nomor 2 Tahun 2022 oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Dia menjelaskan, Perda 2/2022 sebelumnya melarang tembakau Jawa masuk ke Pulau Madura, tetapi oleh Khofifah kemudian direvisi menjadi tembakau Jawa hanya dilarang masuk ke Pamekasan.
“Perda Nomor 2 Tahun 2022 tentang larangan tembakau Jawa masuk ke Pulau Madura, oleh Gubernur Jawa Timur diubah dilarang masuk ke Pamekasan. Karena Bangkalan tidak nanem tembakau. Sampang namem tembakau bisa jadi dijual ke Sumenep. Karena di sana ada Gudang Garam,” ungkap Masykur saat menjadi pembicara dalam Seminar bertema, ‘Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Arah Baru Perekonomian Madura” yang diselenggarakan Komunitas Muda Madura (KAMURA) di Kampus UNIRA, Pamekasan, Madura, Kamis (13/11/2025).
Akibatnya, tembakau Jawa bahkan luar Jawa bisa masuk ke Madura dengan cara transit di kabupaten lain seperti Sampang, yang kemudian dijual lagi ke Pamekasan. Padahal secara kualitas, kata dia, tembakau Jawa lebih rendah ketimbang tembakau Madura.
“Gubernur mengevaluasi Perda kita dari tembakau dilarang masuk ke Madura diubah menjadi dilarang masuk ke Pamekasan, sehingga tembakau Bojonegoro, Tembakau NTB, Paiton, yang kualitasnya lebih rendah dari kita, transit dulu di Sampang. Dan ini kan sudah transit di Sampang, namanya kalau sudah transit namanya tembakau Sampang. Karena tembakau Sampang dibawa lah ke Pamekasan. Itu yg menjadi murahnya tembakau Pamekasan dan Sumenep,” ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, tembakau Madura menjadi murah akibat masuknya tembakau China yang jauh lebih murah. Fakta ini didapat setelah Masykur melakukan studi banding ke salah satu pabrik di Kediri beberapa tahun lalu.
“Yang paling parah ini tembakau China masuk ke Madura,” ungkapnya.
Alasan pengusaha memilih impor, kata Masykur, karena tembakau China jauh lebih murah, yaitu Rp20 ribu per kilogram, dengan kualitas yang sama dengan tembakau Madura.
“Saya studi banding ke Pabrik Gudang Garam di Kediri sekitar 3-4 tahun yang lalu. Jadi Kenapa tembakau Madura tidak naik di sana? Pengusaha itu menyampaikan bahwa tembakau China itu harganya nyampai Madura hanya Rp 20 ribu per kilogram. Kualitasnya sama, hanya baunya yang beda. Jadi pengusaha tembakau kita itu kayak Sampoerna, Gudang Garam, Djarum dan lain-lain, dia itu ngimpor ke China. Karena di China tembakau harganya Rp20 ribu per kilogram. Tembakau kita Rp50 ribu. Jadi mending impor aja,” ujarnya.
Meski begitu, kata Masykur, para pengusaha rokok itu tetap menggunakan tembakau Madura sebagai campuran. Sebab, tak ada tembakau yang seharum tembakau Madura.
“Cuma mereka itu jujur ke kita, ‘terus terang pak ibarat orang makan tidak ada tembakau yang lauknya adalah tembakau Madura, tembakau Pamekasan’. Jadi pasti dikasih tembakau Madura. Apapun rokok kita pasti di situ di dalamnya ada tembakau Madura, terutama Pamekasan,” tuturnya.
“Tembakau dari China pun atau dari mana pun kita impor pasti di dalamnya ditaro tembakau madura karena tidak ada aroma yang seharum tembakau madura,”
imbuh dia.
(Ah/rilpolitik)


![Polres Pamekasan saat mengamankan eks anggota DPRD Sumenep dalam kasus dugaan penipuan. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/Screenshot_20260418_191434_Gallery-350x220.jpg)









![Polres Pamekasan saat mengamankan eks anggota DPRD Sumenep dalam kasus dugaan penipuan. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/Screenshot_20260418_191434_Gallery-180x130.jpg)



