JAKARTA, Rilpolitik.com – Pengamat politik senior Rustam Ibrahim kembali mengungkit majunya Gibran Rakabuming Raka sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) pada Pilpres 2024. Dia menyebut Gibran maju menjadi Cawapres pendamping Prabowo Subianto melalui rekayasa putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Rustam menilai keputusan memajukan Gibran sebagai Cawapres 2024 melalui rekayasa MK merupakan kesalahan terbesar Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang juga ayah Gibran, menjelang akhir masa jabatannya.
“Kesalahan terbesar Jokowi menjelang akhir kepemimpinannya sebagai Presiden, menurut saya, adalah merestui dan mendukung anak sulungnya Gibran Rakabuming Raka yang belum cukup umur menjadi Cawapres. Kecenderungan nepotisme ini dilakukan melalui rekayasa Keputusan MK yang sarat konflik kepentingan dan pelanggaran etika,” kata Rustam dalam tulisannya yang diunggah di X pada Senin (24/11/2025).
Akibat keputusan tersebut, kata Rustam, masa pensiun Jokowi menjadi tidak tenang. Ia harus menghadapi banyak hujatan publik baik di media sosial maupun televisi yang hampir setiap hari membahas soal dugaan ijazah palsu miliknya.
“Kini Jokowi tidak dapat menikmati masa pensiunnya sebagai mantan presiden dengan tenang bersama keluarga: istri, anak, menantu dan cucu-cunya. Hampir setiap hari Jokowi menuai hujatan baik di media sosial maupun beberapa media TV berita, yang menyiarkan kasus ‘ijazah palsu’ Jokowi,” ujarnya.
Menurut Rustam, hujatan itu bisa dipastikan sebagai bagian dari upaya untuk mengikis legitimasi dan pengaruh politik Jokowi di masa depan dengan mencapnya sebagai penipu dan pembohong.
“Upaya ini tentunya tidak dilepaskan dari kepentingan politik Pilpres yad, di mana dikhawatirkan Jokowi akan aktif menggunakan sumber daya dan pengaruh yang dimilikinya untuk mendukung anaknya,” ungkapnya.
Ia kemudian menyinggung pernyataan dukungan Jokowi terhadap Prabowo-Gibran pada Pilpres 2029 mendatang. Menurutnya, hal itu sebagai strategi Jokowi untuk mempersiapkan Gibran menjadi Presiden pada 2034.
“Pernyatan Jokowi mendukung penuh pasangan Prabowo-Gibran untuk Pilpres 2029, termasuk keinginan Budi Arie dan Projo untuk bergabung dengan Gerindra, tidak dapat dilepaskan dari upaya Jokowi untuk mempersiapkan anaknya menjadi Presiden pada 2034. Cara yang ditempuh Jokowi adalah mendukung sepenuhnya Prabowo dengan harapan Prabowo akan terus berpasangan dengan Gibran,” jelas Rustam.
“Dukungan pagi-pagi ini barangkali dipandang sebagai sikap paling tepat diambil Jokowi dan pendukung-pendukungnya dalam mengamankan posisi Gibran sebagai Wapres sampai dengan 2034,” tambahnya.
Namun, kata Rustam, dukungan ini justru menunjukkan posisi tawar Jokowi terhadap Prabowo semakin lemah.
“Jokowi kini hanya mengandalkan kebaikan hati Prabowo yang sekarang sedang getol-getolnya memantapkan dan memperkuatkan kekuasaan, termasuk memperkuat partainya Gerindra, untuk menjadi partai nomor 1 terbesar dalam Pileg 2029 nanti. Jokowi tentunya menyadari tidak dapat berharap banyak dari partai PSI yang dipimpin putra bungsunya yang terkesan suka melucu dan cengengesan,” kata dia.
Meski begitu, lanjut Rustam, kecenderungan ini bisa berubah jika dalam perjalanannya nanti Prabowo berhalangan tetap dan tidak bisa lagi melaksanakan kewajibannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan secara permanen.
“Kondisi ini memungkinkan Wakil Presiden Gibran secara konstitusional untuk menjadi Presiden sampai dengan masa jabatannya berakhir,” ujarnya.
(War/rilpolitik)















