SUMENEP, Rilpolitik.com – Pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Bluto, Sumenep, Jawa Timur, dikeluhkan keluarga pasien penderita penyakit campak. Alasannya, pihak Puskesmas Bluto dinilai tidak serius menangani pasien.
Keluhan soal pelayanan ini disampaikan keluarga pasien penderita penyakit campak berinisial MA, warga Desa Kapedi yang berdomisili di Desa Aengbaja Raja. MA menjalani rawat inap di Puskesmas Bluto sejak Kamis (28/8/2025).
Keluarga pasien, Syaiful menuturkan, MA telah menjalani cek lab atau pemeriksaan laboratorium pada awal masuk Puskesmas Bluto untuk mengetahui kondisi kesehatannya.
Namun, menurut Syaiful, tak ada penjelasan dari dokter maupun perawat terkait hasil cek lab tersebut. Hal ini membuat keluarga pasien kebingungan untuk memahaminya.
Syaiful juga mengungkapkan kekecewaannya atas pelayanan kesehatan di Puskesmas Bluto. Ia menilai MA tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari dokter maupun perawatnya.
“Sampai detik ini belum ada penanganan serius dan belum ada laporan terkait perkembangan kondisi pasien,” kata Syaiful kepada wartawan pada Sabtu (30/8/2025).
Selain itu, Syaiful mengatakan, sebelumnya pihak Puskesmas Bluto juga telah melakukan pengecekan terkait kondisi dan trombosit pasien. Namun, lagi-lagi tak ada penjelasan lanjutan terkait hasilnya.
“Hasil lab kemarin trombositnya turun, dan sampai detik ini tidak ada keterangan yang jelas terkait trombositnya. Karena hari ini tidak ada tindakan Lab ulang,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Bluto, Rifmi Utami mengatakan trombosit pasien mengalami penurunan, tetapi masih di atas 100.000.
“Trombosit agak menurun tapi masih diatas 100rb. Sedangkan HCT masih dalam batas kenaikan normal, yang menandakan belum ada kebocoran,” kata Rifmi saat dihubungi wartawan.
Namun, Rifmi masih enggan merespons terkait keluhan pelayanan pasien yang dinilai kurang baik.
“Saya konfirmasi terlebih dahulu,” jawabnya singkat.
Sebagai informasi, penyakit campak di Sumenep telah berstatus sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) menyusul kasus campak yang tinggi di Kota Keris. Penyakit ini bisa memicu sejumlah komplikasi yang berakibat fatal.
Data sementara, sebanyak 20 anak meninggal dunia di Sumenep akibat campak. Data ini merupakan angka kumulatif kematian sejak Februari hingga Agustus 2025.
















