JAKARTA, Rilpolitik.com – Dua kali operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sepekan terakhir yang menjaring Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Suhardiman Amby dan Bupati Langkat Syah Afandin diduga bocor sebelum operasi itu dilakukan.
Dugaan itu muncul karena dalam operasi di Kuansing, KPK sempat tak menemukan keberadaan Suhardiman. Informasi yang diperoleh KPK bahwa Suhardiman sempat dijemput pihak tertentu.
Begitu juga dalam OTT di Langkat. Syah disebut telah mengetahui pemantauan terhadap dirinya. Sehingga ia membatalkan pertemuan dengan pihak penyuap.
Plt Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan OTT. Dia mengatakan OTT semestinya tidak diketahui oleh publik.
“Terkait penyelidikan tertutup memang semestinya itu tidak diketahui publik atau artinya tidak ada pihak-pihak yang dimintai oleh tim penyelidik untuk diklarifikasi. Artinya tim penyelidik langsung turun ke lapangan,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (3/7/2026).
Taufik menduga kedatangan tim penyelidik ke suatu lokasi menjadi indikasi bagi para pihak yang diduga korupsi bahwa akan dilakukan OTT.
“Ketika turun ke lapangan itulah ada mungkin indikasi-indikasi diketahui karena memang mungkin orangnya sudah pernah datang ke Langkat atau memang ada informasi-informasi yang diketahui ini orang-orang KPK,” tuturnya.
Taufik menegaskan masalah ini akan didalami oleh KPK. Ia menyebut evaluasi akan mencakup metode pengerahan tim penyelidik ke lapangan agar tidak mudah terdeteksi oleh pihak luar.
“Jadi memang ini masih perlu pendalaman lebih lanjut untuk kenapa pihak-pihak luar itu mengetahui kemudian informasi-informasi bahwa tim akan turun ke Langkat,” jelasnya.
“Jadi ini bukan memang bocor dari luar tapi memang ini dugaan-dugaan saja bahwa orang itu mungkin pun juga mengira-ngira bahwa ada tim yang tim KPK yang turun ke daerah sehingga kemudian dilakukan antisipasi-antisipasi,” imbuhnya.
Meski begitu, Taufik mengatakan upaya antisipasi dari target tidak membuat operasi penindakan gagal. Pasalnya tim di lapangan tetap melakukan serangkaian kegiatan penyelidikan hingga akhirnya berhasil menemukan bukti tindak pidana.
“Dari ilmu kejahatan kan selalu ada meninggalkan jejak-jejak sehingga tim di lapangan tetap berupaya untuk melakukan penyelidikannya,” pungkasnya.



![Gedung KPK, Jakarta Selatan. [Foto: Ah/rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2025/02/IMG-20250222-WA0001-350x220.jpg)









![Gedung KPK, Jakarta Selatan. [Foto: Ah/rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2025/02/IMG-20250222-WA0001-180x130.jpg)


