NasionalSerba-serbi

Jurnalisme di Persimpangan Jalan

×

Jurnalisme di Persimpangan Jalan

Sebarkan artikel ini
Moh. Syamsul Arifin. [Foto: istimewa]

Penulis: Moh. Syamsul Arifin
Jurnalis Muda Sumenep


Hari ini, dunia jurnalisme sedang berada di persimpangan jalan. Banyak wartawan dan media menghadapi pilihan yang tidak mudah, tetap menyuarakan kebenaran meski pahit, atau memilih jalan aman agar tidak menyinggung siapa-siapa.

Persimpangan ini sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum dunia mengenal media massa, dua pemikir dari Yunani Kuno sudah menggambarkan dilema yang sama.

Di masa itu, ada dua tokoh besar yang punya pandangan berbeda soal kebenaran, yakni Plato dan Protagoras.

Plato percaya bahwa kebenaran itu mutlak dan tidak bisa dikompromi. Menurutnya, tugas manusia adalah mencarinya, lalu menyampaikan apa adanya.

Plato yakin, kalau orang mulai takut mengatakan yang benar, maka yang salah bisa terus dibiarkan.

Sementara itu, Protagoras punya pandangan lain. Dia termasuk golongan kaum Sofis, yang melihat kebenaran sebagai sesuatu yang relatif.

Menurutnya, apa yang dianggap benar bisa berbeda-beda, tergantung siapa yang bicara. Jadi, tidak ada satu kebenaran yang mutlak. Semua bisa disesuaikan dengan sudut pandang dan kepentingan.

Kaum Sofis seperti Protagoras dikenal pandai berbicara, ahli meyakinkan orang lewat kata-kata.

Tapi sering kali, mereka bicara bukan untuk menyampaikan kebenaran, melainkan untuk membela orang yang membayar mereka.

Hal inilah yang membuat Plato sangat tidak setuju. Dia menganggap para Sofis menjadikan kata-kata sebagai alat jualan, bukan alat pencari kebenaran.

Pandangan Plato dan Protagoras ini ternyata masih hidup hingga sekarang, terutama dalam dunia jurnalisme. Ada jurnalis dan media yang menempuh jalan Plato, ada juga yang memilih cara Protagoras.

Media yang berjalan di jalur Plato biasanya berani bersikap kritis. Mereka mengangkat suara rakyat, mengungkap kesalahan pemerintah, dan tak segan menyoroti hal-hal yang dianggap tabu. Jurnalisme seperti ini percaya bahwa publik berhak tahu kenyataan, meskipun tidak semua pihak senang mendengarnya.

Tentu saja, jalan ini tidak mudah. Media bisa kehilangan iklan, dijauhi oleh pejabat, atau bahkan ditekan secara politik. Tapi jurnalis dalam jalur ini tetap teguh, karena mereka sadar, tugas utama mereka adalah menjaga masyarakat agar tetap sadar.

Di sisi lain, media yang mengikuti cara Protagoras cenderung berhati-hati. Mereka menulis berita yang menyenangkan semua pihak. Kritik disimpan, pujian diperbanyak. Kebenaran sering disesuaikan dengan siapa yang sedang berkuasa atau siapa yang menjadi pengiklan. Berita bukan lagi alat kontrol sosial, tapi alat pencitraan.

Jalan ini memang lebih aman. Hubungan dengan pejabat tetap baik. Iklan lancar. Tapi perlahan, media kehilangan daya kritisnya. Tidak lagi menjadi ruang publik yang hidup, tapi sekadar papan pengumuman.

Fenomena ini banyak terjadi, terutama di media lokal. Di banyak daerah, media terlalu bergantung pada anggaran pemerintah. Wartawan juga sering dekat dengan elite politik. Akibatnya, banyak media memilih diam ketika melihat ketimpangan.

Masalah-masalah di masyarakat seperti pelayanan publik yang buruk, korupsi kecil-kecilan, atau penyimpangan kebijakan tidak diberitakan. Seolah semuanya baik-baik saja.

Padahal, diam bukan berarti tidak ada masalah. Ketika media bungkam, publik kehilangan panduan. Masyarakat bingung membedakan mana informasi yang bisa dipercaya dan mana yang hanya sekadar pencitraan.

Lebih parah lagi, saat media kehilangan kepercayaan, orang mulai beralih ke media sosial. Mereka percaya pada potongan video di Tiktok, cerita viral di Whatsapp, atau opini-opini tanpa sumber yang jelas. Ini berbahaya. Karena informasi tanpa verifikasi bisa jadi racun. Hoaks mudah menyebar. Akal sehat publik jadi kabur.

Begitu juga, pemerintah yang tidak dikritik bisa merasa semua baik-baik saja, padahal tidak. Kesalahan kecil yang tidak dikoreksi bisa berubah jadi bencana besar.

Saat ini, sepertinya media dan wartawan harus memilih jalan. Apakah ingin tetap setia pada kebenaran, seperti Plato? Atau memilih jalan nyaman seperti Protagoras, tapi kehilangan kepercayaan publik?

Memilih jalan Plato memang sunyi. Tapi di situlah harapan tetap hidup. Seperti yang pernah dia katakan, kebenaran tidak butuh banyak teman. Kebenaran hanya butuh orang-orang yang bersedia menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *