NasionalPolitik

Jatim Tanpa Gubernur

×

Jatim Tanpa Gubernur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. [Gambar ini buatan AI]

Jawa Timur seperti kapal pesiar tanpa nahkoda, Ia melaju sendiri, kadang menabrak karang, kadang oleng ke kiri lalu ke kanan, tapi anehnya Jatim tidak karam. Mungkin karena rakyatnya terlalu tangguh. Atau karena alam Jawa Timur memang diberkahi sistem autopilot dari langit. Ya, paling tidak Jatim bangkit atas do’a para wali.

Buktinya, rakyat berjuang atas inisiatif sendiri, modalnya kekuatan nurani.

Seperti yang dilakukan Cak Soleh, seorang pengacara dari Sidoarjo, yang mengusulkan pengampunan pajak. Bukan karena dia senang menunggak, tapi karena tahu bahwa hidup rakyat sudah diampuni berkali-kali oleh nasib. Ia berharap program ini bukan hanya ampunan pada pajak pokok, tapi juga denda, bea balik nama, dan dosa-dosa kendaraan rakyat yang sudah lama berkarat tapi masih dicicil.

“Kalau bisa, mobil yang udah jadi kandang ayam juga masuk amnesti,” ujarnya sambil tertawa pahit.

Cak Soleh mengetok pintu, dari pintu depan, sampai pintu pengadilan. bukan untuk keluarganya melainkan untuk rakyat Jawa Timur. Cak Soleh menilai bahwa kepemimpinan Gubernur Jawa Timur kurang tegas dalam menangani berbagai permasalahan. Tapi tidak hanya Cak Soleh, saya pun akan bertanya.

Kasus Bank Jatim, Khofifah di mana?

Ketika sorotan publik tertuju pada gonjang-ganjing Bank Jatim tentang kredit macet, penggelapan, dan aroma amis kebijakan satu pertanyaan mengudara: Gubernur ada di mana? Apakah sedang membaca laporan? Atau mungkin sedang membaca doa penangkal skandal?

Publik mencari, tapi yang mereka temukan hanya baliho usang bertuliskan “Jatim Bangkit”. Sayangnya, bangkitnya seperti zombie: jalan tanpa arah, hidup segan, diajak mati ogah-ogahan.

Dana $ibah disalurkan ke langit?

Puluhan triliun dana hibah di Jawa Timur bagai hantu. Ada wujudnya di APBD, tapi tak terlihat di desa. Jalan berlubang tetap setia, sekolah rusak tetap setia, dan masyarakat miskin lebih setia lagi. Lalu ke mana dana hibah itu? Mungkin sedang berlibur ke Panama, atau menginap di rekening bantal para makelar.

Kemiskinan Ekstrem, Khofifah Masih Bertapa.

Jawa Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan kantong kemiskinan ekstrem terbanyak. Tapi sang pemimpin seperti memilih jalan spiritual: bertapa, menyepi, dan menjauh dari kegaduhan rakyat. “Mungkin sedang meditasi di Gunung Kelud,” kata seorang netizen.
“Lebih cocok di balik Gunung Data APBD,” timpal lainnya.

Tanpa Gubernur, Tapi Tetap Jalan.

Lucunya, meski Gubernur seperti hilang dari peradaban publik, Jawa Timur tetap hidup. Petani tetap menanam, pedagang tetap berdagang, dan pejabat tetap bersandiwara. Ekonomi digerakkan oleh warung kopi, bukan rapat koordinasi. Rakyat hidup dari takdir, bukan dari tata kelola.

Maka wajar jika banyak warga mulai yakin: Jawa Timur lebih stabil kalau tidak ada gubernur. Setidaknya kita tidak perlu membayar pemimpin yang lebih sering menghilang dari pada hadir.
Atau mungkin, sudah waktunya kita adakan sayembara: “Dicari Gubernur. Yang mau kerja, bukan hanya hadir di baliho.”

Tapi Dari Sisi Gubernur ini berbeda, Gubernur Serba Bisa.

Seorang gubernur yang konon tidak pernah salah. Ia bangun tidur bukan untuk memimpin, tapi untuk menyelamatkan dunia. Mungkin begitu yang ia yakini.

Dalam setiap rapat, ia adalah yang paling tahu. Dalam setiap masalah, ia adalah solusi. Dalam setiap proyek gagal, ia adalah korban. Jika jalan berlubang, itu salah hujan. Kalau warganya protes, berarti warganya kurang baca biografi beliau.

Gubernur kita bukan hanya pemimpin, ia adalah visioner, motivator, influencer, penemu solusi global, dan bila perlu, ia pahlawan. Ia yakin, tanpa dirinya, Jawa Timur hanya akan jadi tanah kosong dengan penduduk bingung. Tak heran jika baliho wajahnya lebih banyak dari pohon.

Sayangnya, rakyat tak paham. Mereka dianggap terlalu kecil untuk mengerti strategi besar pemimpin superior. Kritik dianggap sabotase. Saran dianggap dengki. Demonstrasi dianggap teater kelas bawah yang tidak paham manajemen negara.

Barangkali Khofifah gubernur lupa, kekuasaan bukan ajang pembuktian ego. Ini bukan panggung reality show. Ini amanah. Tapi ya, siapa kita ini? Hanya rakyat biasa, bukan pemilik Narsistic Personality Disorder level dewa.

Jadi mari kita tepuk tangan. Bukan untuk keberhasilan, tapi untuk keberanian sang gubernur memimpin dari atas awan, sementara rakyatnya masih meraba-raba jalan pulang di tengah banjir, macet, dan harga sembako yang terus naik.

Penulis: Fauzi As
Pemerhati Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *