DaerahPolitik

Fauzi As: Lawan Mas Kiai Bukan Achmad Fauzi, Tapi Oligarki

×

Fauzi As: Lawan Mas Kiai Bukan Achmad Fauzi, Tapi Oligarki

Sebarkan artikel ini
Cabup Sumenep nomor urut 1, Kiai Ali Fikri (Mas Kiai). [Foto: dok. rilpolitikcom]

SUMENEP, Rilpolitik.com – Loyalis Mas Kiai, Fauzi As berbicara terkait dinamika politik Sumenep menjelang pencoblosan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) 27 November mendatang.

Sebagai informasi, dua paslon akan bertarung dalam kontestasi ini, yakni KH Ali Fikri-Unais Ali Hisyam (FINAL) melawan petahana Achmad Fauzi Wongsojudo-Imam Hasyim (FAHAM).

Fauzi As menilai Pilkada Sumenep 2024 memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk diamati. Ia menyebut Pilkada Kota Keris bukan pertarungan Kiai Ali Fikri (Mas Kiai) melawan Achmad Fauzi, melainkan oligarki.

“Lawan Mas Kiai itu bukan Fauzi Wongsojudo, tapi lawannya Mas Kiai itu oligarki yang sangat kuat begitu dengan seluruh elemen yang dia miliki,” kata Fauzi As dalam pernyataannya dikutip pada Kamis (14/11/2024).

Aktivis sekaligus pengamat kebijakan publik itu mengungkap adanya dugaan pengerahan aparat pemerintah hingga level desa untuk memenangkan petahana. Pengerahan aparat ini dinilai sebagai bentuk kepanikan dari petahana yang takut kalah.

“Ini anomali sebetulnya dengan apa yang beredar dan ditulis media bahwa Fauzi ini satu-satunya bupati di Jawa Timur yang berhasil menekan angka kemiskinan begitu, berhasil menekan angka pengangguran dan dengan segudang prestasi dan piala yang diterima. Tetapi di sisi lain dia masih risau, takut tidak menang di dalam kontestasi Pilkada 2024 ini,” ujarnya.

Menurut Fauzi As, petahana seharusnya tak perlu risau jika program-programnya selama memimpin Sumenep betul-betul disandarkan pada kepentingan publik. Sehingga tak perlu ada pengerahan aparat untuk memenangkannya.

“Kalau tagline di Mas Kiai itu Hijau 24 Karat ternyata lawan tandingnya Mas Kiai adalah Merah 24 Karat. Jadi aparat yang Merah 24 Karat, oknum kepala desa yang Merah 24 Karat itu bagian dari komponen penguat oligarki ya,” ucapnya.

Lebih lanjut, pria berambut gondrong itu mengingatkan Achmad Fauzi untuk berhenti melibatkan pejabat yang secara Undang-Undang dilarang berpolitik praktis.

“Kalau kemudian petahana tetap memaksakan mereka untuk melibatkan diri karena khawatir takut kalah, ini Fauzi sedang memberikan ranjau bagi perangkat-perangkat yang yang dilarang oleh Undang-Undang tetapi dipaksakan untuk terlibat,” tegasnya.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *