Oleh: Asip Irama
Direktur Eksekutif Indopublika
Dalam politik, ada saat ketika sapaan berubah menjadi tanda dan tanda menjelma legitimasi. Ketika Prabowo Subianto memanggil Sufmi Dasco Ahmad dengan julukan Don, banyak yang mendengarnya sebagai gurauan akrab antara dua sahabat lama. Namun di balik sapaan itu tersimpan pesan yang jauh lebih dalam, pengakuan atas peran strategis Dasco dalam rancangan besar kekuasaan Prabowo.
Julukan itu bukan sekadar panggilan persahabatan. Ia adalah penanda simbolik. Dalam politik, sapaan dari seorang pemimpin sering membawa makna ganda, personal sekaligus politis. Panggilan itu menandai kepercayaan sekaligus mengirim sinyal kepada para kader bahwa ada seseorang yang diberi mandat melampaui struktur jabatan. Dalam tubuh Gerindra, sebutan Don seolah mengangkat Dasco bukan hanya sebagai pejabat partai, tetapi juga pelaksana ideologi dan penghubung antara rakyat dan kekuasaan.
Politik Responsif dan Gaya Turun ke Lapangan
Beberapa waktu terakhir, nama Dasco banyak disebut di ruang publik. Ia menemui buruh yang terancam kehilangan pekerjaan di pabrik Michelin, menengahi perkara guru di Luwu Utara, hingga mengunjungi sekolah yang mengalami musibah ledakan. Setiap langkahnya terekam media dan dibicarakan masyarakat. Ia hadir di tempat yang jarang dijangkau pejabat, di titik di mana kebijakan sering datang terlambat.
Sebagian orang menganggap tindakan itu sekadar strategi pencitraan. Tetapi bagi yang membaca politik Prabowo secara lebih luas, sikap responsif Dasco memperlihatkan pola kepemimpinan baru yang sedang dibangun. Kekuasaan tidak lagi berdiri di atas jarak, melainkan bergerak di antara rakyat. Dalam pola ini, Dasco menjadi pelaksana ide besar yang disebut Prabowo sebagai politik keberpihakan.
Namun tindakan semacam itu masih bersifat pragmatis. Membatalkan pemutusan kerja memang menyelamatkan banyak keluarga, tetapi belum tentu memperbaiki struktur industri yang timpang. Mengawal kasus guru dapat membangkitkan empati, namun belum tentu memperkuat perlindungan hukum bagi tenaga pendidik. Di sinilah peran Dasco diuji, apakah ia hanya pemadam krisis atau perancang sistem yang mencegah krisis datang kembali.
Garis Komando yang Fleksibel
Banyak yang bertanya apakah langkah-langkah Dasco merupakan instruksi langsung dari Prabowo. Barangkali tidak sepenuhnya demikian. Dalam politik modern, kepercayaan sering menggantikan instruksi. Prabowo, dengan intuisi militernya, tampaknya memberi ruang bagi orang-orang yang ia yakini loyal dan cermat. Dasco termasuk di antaranya. Ia diberi keleluasaan bertindak cepat selama tetap berada dalam rel besar partai yang berpihak pada rakyat dan menjaga stabilitas.
Hubungan semacam ini sering muncul dalam rezim yang tengah membangun legitimasi baru. Pemimpin besar menjaga arah dan visi, sementara orang-orang kepercayaannya bergerak di lapangan untuk menerjemahkan gagasan. Maka tak mengherankan bila Prabowo memberi ruang bagi Don Dasco untuk bergerak leluasa sebagai penyelesai persoalan sosial dan wajah publik partai.
*Mediator antara Rakyat dan Kekuasaan*
Dalam ekosistem politik Prabowo, Dasco memegang dua peran penting, sebagai mediator dan simbol. Ia menjadi jembatan antara aspirasi rakyat dan logika kekuasaan. Dalam setiap peristiwa, baik di pabrik maupun ruang sidang, ia membawa semangat bahwa kekuasaan harus hadir di tengah kehidupan sehari-hari rakyat.
Inilah yang membuat Dasco berbeda dari banyak politisi lain. Ia tidak tampil sebagai orator, melainkan sebagai negosiator yang bekerja “tanpa pamrih”. Langkahnya terekam bukan karena ucapan, melainkan karena tindakan. Ia berusaha menutup jarak antara kebijakan dan kenyataan sosial. Dalam ketulusan kerjanya itu, simbol politiknya tumbuh.
Antara Simbol dan Substansi
Namun setiap simbol berisiko menjadi hiasan bila tidak diikuti substansi. Politik simbolik bisa memperkuat citra partai untuk sementara, tetapi hanya kebijakan nyata yang mampu meneguhkan kepercayaan publik. Dasco dengan segala kedekatannya pada Prabowo kini menghadapi tantangan itu, bagaimana mengubah simpati menjadi struktur kebijakan.
Jika ia berhasil memperkuat perlindungan buruh, mengamankan posisi guru, dan mendorong sistem tanggap sosial di parlemen, maka julukan Don akan bermakna sejarah. Namun bila langkahnya berhenti pada penyelamatan kasus demi kasus, sebutan itu akan tinggal sebagai kenangan politik yang mudah dilupakan.
Penutup
Dalam proses menuju konsolidasi kekuasaan nasional, Prabowo tampaknya sedang menata wajah partainya agar lebih empatik dan dekat dengan rakyat. Ia memerlukan figur-figur yang tidak hanya pandai “omon-omon” meminjam istilah Prabowo, tetapi juga mampu menyambung denyut sosial rakyat ke ruang pengambilan keputusan. Di situlah posisi Dasco, sebagai pelaksana gagasan, mediator kepentingan, dan simbol kepercayaan.
Julukan Don akhirnya bukan hanya sapaan hangat. Ia adalah pengakuan atas peran strategis seorang politisi yang berjalan di antara dua dunia, antara rakyat yang menuntut keadilan dan kekuasaan yang menuntut stabilitas. Bila ia mampu menjaga keseimbangan itu, sejarah mungkin akan mencatatnya bukan sekadar sebagai tangan kanan Prabowo, melainkan sebagai wajah politik baru yang memahami bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan mewujudkan harapan rayat bukan yang pandai beretorika.
















