JAKARTA, Rilpolitik.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah menutup banyak Kantor Cabang Pembantu (KCP) dalam tiga tahun terakhir ini. Jumlahnya nyaris menyentuh angka 1000 KCP.
Sebagai informasi, BRI memiliki 8.032 KCP per Desember 2021. Jumlah tersebut kemudian menyusut menjadi 7.040 unit per September 2024 atau berkurang 992 unit dibanding Desember 2021.
Direktur Utama BRI Sunarso mengungkap alasan penutupan KCP. Dia mengatakan, inisiatif tersebut dilakukan karena mengusung prinsip sharing ekonomi. BRI mengoptimalkan warung-warung kelontong untuk menjadi agen BRIlink.
Dia menuturkan hingga saat ini jumlah agen BRIlink sudah lebih dari 1 juta unit di seluruh Indonesia. “Kerja sama lebih dari 1 juta agen di seluruh Indonesia,” kata Sunarso dalam acara BRI Microfinance Outlook 2025 di International Convention Exhibition (ICE) BSD City beberapa waktu lalu.
Jumlah agen tersebut tumbuh sangat cepat, mengingat pada 2015 jumlah agen BRILink masih sekitar 75.000.
Dia melanjutkan, transaksi agen BRIlink di warung-warung kelontong tersebut tidak kecil. Sepanjang 2024, volume transaksi telah mencapai Rp1.589 triliun.
Sebelumnya, Sunarso mengatakan bahwa hasil riset BRI menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya digital. Masih banyak kalangan yang menyukai layanan perbankan lewat agen.
“Bahkan, jangankan digital. Ke bank aja masih enggan gitu, masih lebih senang lewat warung-warung yang sifatnya ada dekat dengan rumahnya, tetangganya, seperti itu. Tapi intinya adalah masih butuh physical presence dan kemudian juga personal touch,” pungkas Sunarso.















