JAKARTA, Rilpolitik.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono yang baru dilantik mengkritik penyaluran pupuk dan bibit yang telat. Padahal, katanya, pupuk dan bibit merupakan hidup dan mati bagi petani di bawah.
Sebab itu, Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah itu mengatakan akan menerapkan disiplin ketat ala militer. Dia pun meminta pegawai dan jajaran pejabat memakluminya.
“Karena langkah kita datang kantor telat lima menit bisa jadi menimbulkan telat pupuk satu minggu, dua minggu bagi petani kita di lapangan,” kata Sudaryono dalam pidatonya saat serah terima jabatan dengan pendahulunya, Harvick Hasnul Qolbi di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan) pada Jumat (19/7/2024).
Sebagai anak yang dibesarkan dari orangtua petani, Sudaryono mengaku tahu betul dampak dari keterlambatan bibit dan pupuk.
“Saya merasakan sekali bibit tidak ada, pupuk tidak cukup, pupuk datang tidak tepat waktu, itu bedanya seperti langit dan bumi. Seperti hidup dan mati. Maksud saya adalah mari kita sama-sama. Saya yakin Pak Menteri, kemarin sudah sempat ikut rapim ya, bagaimana kerasnya Pak Menteri dalam hal bahwa pangan, kedaulatan pangan, dan kesejahteraan petani ini penting,” tambah Sudaryono.
Dia mengaku, dalam menjalankan tugasnya, masih akan belajar banyak terkait birokrasi, struktur organisasi, manajemen di Kementan.
“Kalau urusan jadi anak petani, Pak Menteri, saya, sudah hafal karena saya dari kecil, saya lahir, saya tumbuh, saya besar, saya sekolah, dibiayai oleh orang tua yang memang berprofesi sebagai seorang petani,” katanya.
“Keberhasilan saya adalah keberhasilan membantu mensukseskan apapun diperintah oleh Pak Menteri kepada saya. Saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, dan memberikan laporan, memberikan arahan, mohon maaf, memberikan laporan, memberikan masukan, barangkali usulan dari bawah kepada Pak Menteri. Sebagai bagian saya adalah anggota anak buah Bapak Menteri Pertanian yang setia dan loyal,” ucapnya.
Karena itu, lanjutnya, dalam mengemban tugasnya, Sudaryono mengibaratkan berada dalam hirarki militer. Hal itu, ujarnya, juga tak lepas dari pengaruh latar belakang pendidikannya di National Defense Academy of Japan.
“Nanti barangkali kalau ada berhubungan kita di kemudian hari, “Kok rasanya Pak Dar ini kok strict banget ya”…,mohon untuk dimaklumi. Tapi saya meyakini bahwa salah satu cara manajemen yang efektif itu adalah manajemen tentara. Bahkan partai politik, organisasi, perusahaan, dan seterusnya menggunakan manajemen-manajemen ketentaraan. Walaupun tidak, bukan berarti terus militeristik, bukan, ini masalah disiplin, tepat waktu, dan seterusnya,” tegas pria akrab disapa Mas Dar itu.
“Karena apa? Sekali lagi, abai kita dalam satu hal kecil di sini sangat berpengaruh terhadap nasib hidup jutaan orang. Baik jutaan orang petani maupun jutaan orang yang memang bergantung hidupnya dari pangan,” cetusnya.








![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-350x220.jpg)







