DaerahSerba-serbi

Penyakit Kulit Sapi Marak, Warga Minta Pemkab Sumenep Tak Cuma Berpangku Tangan

×

Penyakit Kulit Sapi Marak, Warga Minta Pemkab Sumenep Tak Cuma Berpangku Tangan

Sebarkan artikel ini
Sapi milik warga mati diduga terjangkit penyakit lato-lato. [Ah/rilpolitik]

SUMENEP, Rilpolitik.com – Virus Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol pada sapi terus menyebar menjangkiti ternak warga di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Virus yang dikenal masyarakat sebagai penyakit lato-lato itu telah banyak memakan korban. Sejumlah sapi milik warga di Sumenep tak tertolong alias mati karena parahnya penyakit yang menyerang.

Di Desa Errabu, Kecamatan Bluto, misalnya, setidaknya ada tiga ekor sapi yang mati dalam sepekan terakhir. Sapi-sapi tersebut mati diduga terjangkit LSD atau penyakit lato-lato.

Warga selama ini bingung. Sebab, penyakit lato-lato ini tergolong baru bagi masyarakat di pedesaan. Mereka tidak tahu cara penyembuhannya.

Seperti halnya yang dialami oleh seorang peternak sapi berinisial M. Dia harus merelakan seekor sapi peliharannya itu mati. Dia mengaku selama ini sudah berusaha menyembuhkan sapinya dengan berbagai macam cara. Namun naas, sapi tersebut tak bisa tertolong.

“Semua obat dan jamu sudah kita kasih. Kata orang disuruh kasih ini, kita kasih. Kasih itu, kita juga kasih. Tapi tetap nggak bisa tertolong,” katanya pada Senin (11/3/2024).

Dia mengatakan, dirinya memang tidak mengetahui secara pasti obat yang dapat menyembuhkan penyakit mengerikan itu. Menurutnya, selama ini hanya cari referensi di Youtube atau mengikuti saran orang lain.

“Saya cuma nyuruh cariin cara penanganannya di Youtube. Disaranin orang yang pernah mengalami hal serupa (sapinya terjangkit LSD) disuruh kasih ini itu, saya ikuti demi menyelamatkan sapi,” tuturnya.

Dia menceritakan kondisi sapinya sebelum mati. Menurutnya, terdapat benjolan di hampir sekujur tubuhnya yang makin hari makin parah.

“Kakinya itu luka semua karena benjolannya itu lama-lama kan meledak,” ungkapnya.

Pemkab Sumenep Jangan Hanya Berpangku Tangan

M meminta solusi kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep terkait penanganan kasus tersebut. Dia melihat selama ini tidak pernah ada edukasi dan sosialisasi dari pemkab terkait penangan virus itu sehingga para peternak kebingungan cara menanganinya.

“Sebagai masyarakat awam kita mau gimana? Memang ini tugas pemerintah mencarikan solusinya. Karena ini virus, bukan penyakit biasa,” ujar dia.

“Pemerintah jangan hanya diam saja. Kasus ini sudah banyak terjadi di mana-mana. Saya hampir tiap hari mendengar kabar ada sapi mati karena lato-lato ini,” sambungnya.

Dia sangat menyayangkan sikap pemerintah Kabupaten Sumenep yang terkesan hanya berpangku tangan. Padahal, katanya, virus tersebut sangat berbahaya bagi ternak sapi.

“Saya ini orang awam. Masyarakat perlu dikasih tahu cara penanganan penyakit ini secara benar,” sesalnya.

Dia juga mengatakan bahwa sapi bagi masyarakat kecil adalah harta yang sangat berharga. Sapi disebutnya menjadi penopang ekonomi bagi masyarakat di pedesaan.

“Dirawat dari kecil dengan modal (beli) yang tidak sedikit dengan harapan nanti bisa dijual ketika sudah besar, tiba-tiba mati karena penyakit dan kita harus pasrah aja karena tidak tau mau mengadu ke siapa,” ucapnya.

Padahal, katanya, harusnya ada tanggung jawab pemerintah terkait maraknya virus ini. Tanggung jawab yang dimaksud adalah setidaknya pemerintah memberikan edukasi dan sosialisasi ke para peternak terkait penanganan virus tersebut.

“Jangan anggap enteng penyakit ini. Sudah banyak korbannya dan ini sangat merugikan,” pungkasnya.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *