JAKARTA, Rilpolitik.com – Direktur Eksekutif Public Virtue Research Institute (PVRI), Muhammad Naziful Haq mengkritik keras pernyataan ‘goblok’ dari Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan kepada para pakar yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah. Menurutnya, pernyataan tersebut menunjukkan sikap antisains dari seorang kepala negara.
“Hilangnya sikap ilmiah kepala negara dapat merusak demokrasi secara senyap namun mematikan. Pernyataan Presiden Prabowo tidak saja menyerang ilmuwan yang telah mendedikasikan diri pada ilmu untuk memecahkan aneka masalah kenegaraan,” kata Nazif dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Nazif menyebut pernyataan bernada umpatan di ruang publik itu bukan pertama kalinya disampaikan oleh Presiden Prabowo. “Itu menandai sikap anti-pengetahuan,” ujarnya.
Nazif menilai krisis logika ilmiah di Istana telah sampai pada level terendah dan kian membahayakan bagi masa depan demokrasi di Indonesia.
“Dia tidak peduli dengan pakar dan hanya ingin rakyat tidak lapar. Padahal kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian ilmiah. Di situlah fungsi sains dan pakar. Bukan klaim niat baik atau sumpah yang megah. Apalagi faktanya program Makan Siang Bergizi itu menimbulkan keracunan ribuan anak-anak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nazif menilai pernyataan ‘goblok’ itu telah membuat Prabowo sebagai pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam berdemokrasi, yakni mau mendengar dan punya sikap ilmiah.
“Sikap ingin tahu dan cinta ilmu pengetahuan itu diperlukan saat menentukan prioritas dan target kebijakan. Keduanya mustahil terwujud jika pejabat negara tidak cukup rendah hati untuk mau mendengar,” ujarnya.
“Politik kita selalu membayangkan kemajuan dan kehebatan bangsa menurut ukuran ekonomi, teknologi, militer, dan hal-hal monumental, tetapi hampir tidak pernah serius dalam memberantas kebodohan, hal sederhana yang sebenarnya lebih besar daripada apapun,” lanjut Nazif.
Nazif juga menilai demokrasi di Indonesia telah mengalami krisis akibat integritas elektoral, otokrasi hukum, populisme, dan peristiwa kasat mata lainnya.
“Krisis sikap ilmiah dalam menjalankan negara bisa menjadi spiral yang melahirkan masalah-masalah baru, biaya-biaya baru, dan bahkan bencana-bencana baru yang sebenarnya bisa dicegah dan tak perlu terjadi. Lapar adalah tanda perut butuh makan, namun apa tandanya jika kepala kekurangan kebijaksanaan dan pengetahuan? Itu sebabnya demokrasi butuh produsen pengetahuan-pengetahuan kritis,” katanya.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto saat berpidato dalam acara HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026), melontarkan umpatan ‘goblok’ yang ditujukan kepada para pakar yang sering mengkritik pemerintah.
Prabowo saat itu, menyampaikan komitmennya untuk mewujudkan Indonesia sejahtera. Ia tidak ingin lagi melihat ada anak-anak Indonesia yang kelaparan dan kekurangan gizi, sehingga tidak dapat bersaing dengan bangsa lain.
“Tidak ada anak-anak Indonesia yang berangkat sekolah kelaparan. Tidak ada anak-anak Indonesia yang stunting, yang tidak dapat gizi. Sehingga tulangnya lemah, ototnya lemah, sel otaknya lemah, tidak bisa bersaing dengan anak-anak bangsa lain. Saya tidak ingin lihat itu,” ujarnya.
Prabowo lalu secara blak-blakan menyatakan tidak peduli dengan kritik para pakar dalam menjalankan tekadnya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Ia pun mengumpat para pakar dengan sebutan ‘goblok’.
“Saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera. Itu sumpah saya. Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya, saking pinternya jadi goblok,” ucap Prabowo.
(War/rilpolitik)
















