JAKARTA, Rilpolitik.com – Pegiat media sosial, Ferry Koto mengkritik pernyataan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek Prayudi atau Uki yang menyebut kritik atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal “londo ireng” sebagai sesat pikir.
Ferry menilai pendapat Uki itu tidak lepas dari posisi politik PSI saat ini sebagai anggota koalisi pemerintah. Ia meyakini Uki akan mengkritik keras pernyataan Prabowo itu jika PSI sebagai oposisi.
“Pendapat mas @Uki23 hanya karena berdasarkan kaki berdiri. Andai tempat berpijaknya berbeda, mas Uki bisa lebih keras menyerang pernyataan Pak Prabowo, mungkin bisa berhari-hari,” kata Ferry lewat akun X pribadinya, dikutip Rabu (29/7/2026).
Ferry menyayangkan pernyataan tersebut. Sebab, hal itu menunjukkan mental politisi Indonesia yang tidak memiliki nilai kebenaran.
“Ini yang saya sayangkan dari politisi, apalagi masih enom. Mestinya walau dunia politik itu pragmatis, tetap saja harus punya nilai kebenaran yang dipegang,” ujarnya.
Bagi Ferry, pernyataan Prabowo soal “londo ireng” jelas salah karena memberikan stigma negatif terhadap pihak yang kritis. Sehingga, kata dia, pernyataan itu tak perlu dibenarkan.
“Keliru mestinya ya keliru saja. Ndak perlu dibenarkan. Jelas-jelas pernyataan pak Prabowo itu keliru, jauh daripada manfaat, malah mudharat, melakukan stigma pada pihak yang kritis,” kata pendukung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 itu.
Ferry mengakui memang tidak elok jika Uki selaku anggota partai koalisi mengkritik kekeliruan Prabowo. Namun, kata dia, ada pilihan untuk diam, sehingga tidak perlu ikut membenarkan sesuatu yang keliru.
“Semangat mas Uki, tetap lah berpolitik dengan nilai. Belum berkuasa saja tantangannya berat, apalagi nanti berkuasa. Jangan sampai berubah beRaja di hati. Lupa kekuasaan itu hanya mandat untuk melayani,” pungkas Ferry.
Sebelumnya, Uki membela Presiden Prabowo terkait ucapannya soal “londo ireng” yang ditujukan kepada para wartawan, pengamat, hingga LSM. Menurut Uki, kritik atas pernyataan Prabowo itu sebagai sesat pikir.
Uki mengatakan sebenarnya sangat mudah untuk membedakan antara “londo ireng berseragam wartawan” atau “wartawan sebagai londo ireng”.
“Sesat pikir, kok rame-rame. Diorkestrasi ya? Emangnya sesulit itu ya membedakan: yang pertama londo ireng berseragam profesi tertentu, katakanlah wartawan dengan wartawan berarti londo ireng. Itu kan harusnya gampang banget ya dibedain. Bahkan untuk sebuah pelintiran itu bukan pelintiran yang dipikirkan dengan baik,” kata Uki lewat video pendek yang diunggah di akun X pribadinya.
Ucapan “londo ireng” sendiri keluar dari Prabowo saat berpidato dalam kegiatan puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Kamis malam (23/7/2026).
Saat itu, Prabowo menyebut bahwa kelompok “londo ireng” masih ada hingga saat ini dengan identitas yang berbeda. Tudingan “londo ireng” itu secara tegas ditujukan Prabowo kepada kelompok yang kritis.
“Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut mendapat kritik publik. Sebab, istilah “londo ireng” berkonotasi negatif. Istilah tersebut sering dilekatkan sebagai bentuk tuduhan terhadap pengkhianatan bagi pribumi yang membantu melanggengkan kekuasaan penjajah atau pihak asing.
(War/rilpolitik)







![Tokoh aktivis mahasiswa dan pemuda, Mohammad Bifa Agusryyanto (pegang mic) dalam acara Seminar "Menarasikan Ulang Republik, Menuju Reformasi Partai Politik" di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (25/7/2026). [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/1000067612-350x220.jpg)






