NasionalPolitik

Pernyataan Prabowo Soal Kabur ke Yaman Dinilai Rendahkan Negara Sahabat

×

Pernyataan Prabowo Soal Kabur ke Yaman Dinilai Rendahkan Negara Sahabat

Sebarkan artikel ini
Prabowo Subianto.
Prabowo Subianto.

JAKARTA, Rilpolitik.com – Presiden Prabowo Subianto mempersilakan pihak-pihak yang menyebut ‘Indonesia gelap’ untuk kabur ke Yaman. Tak hanya itu, ia juga menyebut orang-orang itu memiliki mata buram.

Politikus PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli mengkritik pernyataan tersebut. Menurutnya, pernyataan itu berbahaya.

“Pernyataan presiden Prabowo yang bilang pengkritiknya kabur saja Ke Yaman bukan sekadar bumbu pidato yang pedas, ini adalah retorika yang berbahaya,” kata Guntur dalam pernyataannya, dikutip Kamis (30/4/2026).

Guntur menilai menyuruh pengkritiknya kabur ke luar negeri menunjukkan sikap Prabowo yang anti kritik. Selain itu, kata dia, pernyataan itu merendahkan negara sahabat dan berbahaya secara diplomatik.

“Kalimat tersebut menunjukkan sikap anti kritik yang dibalut sentimen merendahkan negara sahabat. Kita bisa menilai pidato itu berbahaya secara diplomatik dan bermasalah secara etika. Pertama, pernyataan itu menciderai hubungan diplomatik,” ujarnya.

Menurut Guntur, Prabowo telah melakukan penghinaan terhadap Yaman. Padahal, kata dia, Yaman memililiki ikatan sejarah, darah, dan intelektual yang sangat kuat dengan Indonesia.

“Ribuan santri dan pelajar kita sedang menimba ilmu di sana. Menjadikan Yaman sebagai analogi tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap bermata buram adalah penghinaan terselubung. Mengapa negara dengan kekayaan sejarah spiritual seperti Yaman Kok dijadikan bahan ejekan?” kata dia.

Guntur menyebut pernyataan Prabowo itu sebagai ironi dan kemunafikan. Ia menyinggung sikap Prabowo pasca 1998 yang justru memilih tinggal di Yordania.

“Ada ironi sejarah, ada aroma kemunafikan yang menyengat. Publik tidak akan pernah lupa bahwa Prabowo sendiri pernah memilih tinggal di luar negeri Yordania saat menghadapi situasi politik pelik di tanah air pasca 1998. Mengapa kini ia justru menggunakan narasi kabur ke negara Arab sebagai senjata untuk menyerang lawan bicaranya?” ucapnya.

Baca juga:  Jumhur Hidayat Masuk Kabinet, Konsolidasi Politik Prabowo Lepas dari Pengaruh Jokowi?

Guntur menjelaskan bahwa narasi Indonesia gelap merupakan bagian dari dialektika demokrasi. Kritik itu seharusnya dijawab dengan data, bukan pengusiran.

“Yang perlu Prabowo pahami narasi Indonesia gelap adalah bagian dari dialektika demokrasi. Pemimpin seharusnya menjawab data dengan data, bukan menyerang personalitas atau malah mengusir warga negaranya,” tegasnya.

Dia menilai pernyataan Prabowo itu mencerminkan mentalitasnya yang tidak toleran terhadap perbedaan pendapat dan itu berbahaya terhadap kebebasan berekspresi.

“Kalimat-kalimat pendek bernada emosional ini mencerminkan mentalitas yang tidak toleran terhadap perbedaan pandangan. Ketika seorang pemimpin mulai menyuruh rakyatnya pergi hanya karena berbeda persepsi, hanya karena berbeda pandangan, hanya karena kritik itu adalah sinyal berbahaya bagi kebebasan berpendapat,” ungkapnya.

“Indonesia tidak butuh arogansi. Indonesia tidak butuh pemimpin yang arogan. Indonesia butuh pemimpin yang mampu merangkul bukan yang mahir mengusir,” imbuhnya.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *