Oleh: Hafid Abbas
Komisioner dan Ketua Komnas HAM RI ke-8 (2012-2017)
Makassar adalah kota yang kaya akan sejarah maritim dan peradaban yang lintas benua dan samudra. Pada 21 Maret 2026, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia di Istana Negara, Fadli Zon. Dalam percakapan itu, beliau menyampaikan jika arsip-arsip Kerajaan Bugis-Makassar yang tersimpan selama berabad-abad di Leiden University Libraries kini telah berhasil direplikasi dalam bentuk digital. Termasuk di antaranya adalah Sureq I La Galigo, karya sastra terpanjang di dunia dengan sekitar 6000 halaman, yang telah mendapat penghargaan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2011, kenangan abadi bagi seluruh umat manusia yang mendiami pelanit ini di masa kini dan di masa depan. Informasi ini tidak sekadar menjadi kabar baik bagi dunia akademik, tetapi juga membuka kembali ingatan kolektif bangsa tentang kebesaran Kerajaan Bugis-Makassar di masa lalu.
Leiden University, sebagai pusat koleksi karya-karya tulis Kerajaan Bugis-Makassar, memanfaatkan arsip kuno itu sebagai aset ekonomi dan dijadikan objek wisata budaya. Pada 2024, anggaran tahunan institusi tersebut mencapai 974 juta Euro atau sekitar IDR 18,5 triliun. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa warisan sejarah dapat diubah menjadi aset ekonomi yang memberi daya tarik global dengan keuntungan besar.
Jika saja Leiden mampu memanfaatkan kekayaan budaya dan sejarah Bugis-Makassar, maka GMTD di Makassar juga sepantasnya berpotensi melakukan hal serupa, melalui promosi wisata bahari dan konservasi sejarah maritim sejak kelahirannya pada awal 1990-an.
Gagasan untuk menjadikan Makassar sebagai kota pantai berkelas dunia lahir pada 14 Mei 1991. Pada saat itu, Tanri Abeng, yang menjabat sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), mendirikan PT Makassar Development Corporation (MDC) atas dorongan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Susilo Sudarman. Langkah ini kemudian dilanjutkan dengan pembentukan PT Gowa Makassar Tourism Development Corporation (GMTDC) pada tanggal yang sama, dengan Tanri Abeng sebagai Direktur Utama. Dukungan pemerintah daerah menjadi fondasi penting.
Pada 5 November 1991, Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Achmad Amiruddin, menetapkan alokasi lahan seluas 1.000 hektar di kawasan Tanjung Bunga, pesisir Pantai Losari. Kawasan ini dirancang sebagai destinasi wisata bahari bertaraf internasional, bahkan dibayangkan akan setara dengan kota pantai Cape Town di Afrika Selatan. Sebagai bagian dari Kawasan Cape Town Raya, terdapat kota Macassar yang lahir dari pertalian sejarah panjang sejak berabad-abad silam.
Bandingkan dengan Cape Town, yang pada 2026 memiliki anggaran tahunan berkisar USD 5,79 miliar atau IDR 89,75 triliun, sebagian besar berasal dari promosi wisata baharinya. Sementara APBD Kota Makassar pada 2025 hanya mencapai IDR 5,1 triliun, atau sekitar 17,6 kali lebih kecil dari Cape Town, meski keduanya adalah kota pantai. Hal ini menunjukkan bahwa jika potensi kawasan pantai Makassar dikelola dengan visi strategis, loncatan keuntungan ekonominya akan jauh lebih besar daripada sekadar mencari keuntungan lewat “Kerja Padat Karya” pembangunan ruko atau penjualan kavling.
Belajar dari pengembangan kegiatan Wisata Bahari Cape Town, salah satu kegiatannya adalah penyediaan cruise dari pantainya menuju Robben Island tempat Nelson Mandela pernah dipejarakan. Hal seperti ini dapat pula dilakukan oleh GMTD dengan menyediakan Perahu Pinisi dari Pantai Tanjung Bunga ke pulau-pulau terdekatnya.
Pantai Tanjung Bunga, yang dikelola GMTD, memiliki posisi strategis di pesisir barat Makassar, menghadap Selat Makassar. Dari lokasi ini, ada beberapa pulau terdekat yang sangat potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata Bahari berkelas dunia. Pulau Lae-lae, hanya sekitar 1,5 km ke arah barat laut, adalah pulau kecil yang masih menampilkan kehidupan nelayan tradisional Makassar. Pulau Samalona, berjarak ±10 km ke arah barat, menawarkan pengalaman snorkeling dan diving dengan pemandangan taman bawah laut yang memukau. Pulau Kodingareng Keke, ±12 km ke arah barat laut, dikenal karena pasir putihnya yang alami yang amat indah. Pulau Lanjukang, ±15 km ke arah barat laut, lebih besar dan memiliki lokasi snorkeling yang masih alami. Jika potensi ini tergarap secara optimal, proyeksi keuntungan ekonomi dari sektor wisata bahari dapat jauh melebihi nilai ekonomi dari kegiatan komersial biasa.
Sejarah panjang Makassar sebagai kota maritim menegaskan bahwa gagasan ini bukan lahir dalam ruang kosong. Bangsa Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut ulung yang sejak berabad-abad silam telah mengarungi samudra dengan kapal pinisi hasil ciptaannya sendiri. Mereka meninggalkan jejak diaspora hingga ke Afrika Selatan, termasuk kawasan yang kini dikenal sebagai Macassar sebagai bagian dari Greater Cape Town. Sejak abad ke-15, Makassar menjadi simpul perdagangan internasional. Di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin, Kerajaan Gowa terbuka bagi pedagang Asia dan Eropa, dan menjalin kerja sama erat dengan Kesultanan Malaka. Hal ini menempatkan Makassar sebagai pusat lalu lintas perdagangan Asia-Eropa pada masa itu. Karenanya, tidaklah mengherankan jika umumnya raja-raja di Malaysia saat ini berasal dari keturunan Kerajaan Bugis-Makassar.
Jejak kebesaran Kerajaan Maritim Bugis-Makassar di Afrika Selatan lebih diperkuat dengan kedatangan Syekh Yusuf al-Makassari pada abad ke-17. Syekh Yusuf, seorang ulama dan pejuang Islam yang diasingkan oleh VOC Belanda, tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Cape Town. Kehadirannya tidak hanya memberikan pengaruh spiritual dan pendidikan bagi komunitas Muslim setempat, tetapi juga membentuk kelompok diaspora Bugis-Makassar yang menetap di kawasan tersebut hingga kini. Nama kota Macassar di dekat Cape Town diyakini berasal dari komunitas pelaut dan pengikut Syekh Yusuf, yang menandai sejarah panjang interaksi maritim antara Indonesia dan Afrika Selatan. Kehadiran Syekh Yusuf menegaskan bahwa pengaruh budaya dan maritim Makassar tidak hanya terbatas di Asia, tetapi juga melintasi dua Samudra (Atlantik dan Pasifik) di dua benua (Asia dan Afrika), sehingga Makassar dapat dipandang sebagai simpul maritim global.
Pelajaran dari Leiden menunjukkan bahwa arsip dapat menjadi aset ekonomi dan pusat pengetahuan global. Sementara dari Cape Town, kita belajar bahwa transformasi kawasan pesisir menjadi pusat wisata dan ekonomi global mampu menghasilkan jutaan pengunjung, pendapatan besar, dan lapangan kerja luas. Makassar memiliki modal serupa: akar sejarah maritim, kekayaan budaya, dan posisi geografis yang strategis. Jika GMTD dapat menggabungkan narasi sejarah, museum maritim, dan promosi wisata bahari, kawasan ini berpotensi menjadi destinasi wisata berkelas dunia.
Namun, refleksi kritis diperlukan dalam pembangunan. Orientasi komersial yang dominan lewat penjualan Ruko dan Kavling bisa mengaburkan identitas maritim Makassar. Tanpa akar budaya, pembangunan berisiko kehilangan makna. GMTD seharusnya bukan sekadar proyek fisik, tetapi proyek peradaban yang akan membesarkan perjlanan sejarah, budaya, dan masa depan maritim Makassar.
Dengan belajar dari dua kutub warisan dunia—Leiden sebagai pusat ingatan dan Cape Town sebagai model kota pesisir global—Makassar memiliki peluang untuk menegaskan kembali dirinya sebagai simpul maritim dunia. Obama pernah menuturkan: The future only belongs to those who believe in the power of their dreams” Masa depan GMTD akan ditentukan seberapa kuat memelihara ikhtiarnya sejak kelahirannya pada 14 Mei 1991: menjadikan Tanjung Bunga bukan sekadar kawasan komersial, tetapi etalase peradaban maritim yang membanggakan Indonesia dari generasi ke generasi di mata dunia, membanggakan hingga matahari terbenam terakhir kalinya di Pantai Losari.







![Menteri Luar Negeri BEM KM UNIBA Madura, Moh Iskil El Fatih. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260422-WA0005-350x220.jpg)








