Oleh: Asip Irama
Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI).
Kekuasaan, pada akhirnya, adalah soal bahasa. Sebab bahasa menentukan bagaimana kebijakan dibaca publik: sebagai pengayoman atau ancaman, sebagai visi besar atau sekadar jargon kosong. Di panggung politik Indonesia yang sering gaduh ini, mereka yang mampu menjaga nada dan irama komunikasi adalah penjaga yang tidak kalah penting dari pembuat kebijakan itu sendiri. Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR RI, adalah salah satu sosok yang mengemban peran itu di era Presiden Prabowo Subianto.
Banyak politisi lihai berpidato, tetapi tak semua piawai menjadi “penerjemah” antara bahasa istana dan telinga rakyat. Dasco memiliki keistimewaan ini: ia tahu kapan berbicara, kapan diam, dan kapan mengubah kalimat keras menjadi pesan yang merangkul. Dalam politik, kepekaan semacam ini adalah seni yang jarang dimiliki.
Penerjemah Kekuasaan
Sebagai Ketua Harian Partai Gerindra, Dasco berada di posisi unik, satu kaki di lingkaran inti partai, satu kaki lagi di ruang legislatif yang menjadi panggung adu gagasan. Posisi ini memberinya akses pada sumber gagasan politik presiden sekaligus kewajiban untuk menyampaikannya ke publik dengan cara yang tidak mengundang resistensi berlebihan.
Contohnya, ketika isu royalti lagu untuk restoran dan kafe memanas, publik terbelah antara mendukung perlindungan hak cipta dan menolak beban tambahan bagi pelaku usaha. Di tengah riuh itu, Dasco muncul bukan untuk memihak secara buta, melainkan menenangkan suasana. Ia mengumumkan bahwa pemerintah membentuk formasi baru di Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan sedang mengkaji revisi UU Hak Cipta agar tak membebani usaha kecil. Pesan ini sederhana, tetapi efeknya besar, meredam ketegangan dan mengirim sinyal bahwa pemerintah mendengar keluhan rakyat.
Begitulah gaya Dasco. Ia memotong jarak antara kebijakan dan keresahan publik. Di tangan politisi yang kurang peka, isu itu bisa berlarut dan menimbulkan sentimen negatif bagi pemerintah. Tetapi dengan satu pernyataan yang terukur, Dasco mengubahnya menjadi peluang untuk menunjukkan kepedulian.
Menjaga Ritme dan Mengelola Momentum
Politik ibarat musik. Nada yang benar tetapi dimainkan di waktu yang salah bisa terdengar sumbang. Dasco tampaknya memahami benar teori ini. Ia tahu kapan sebuah pesan politik harus dilontarkan, kapan ditahan, dan kapan dipoles kembali.
Makan siang bersama Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden, adalah salah satu contoh yang memanfaatkan ritme dan simbol. Bagi sebagian orang, itu hanya pertemuan biasa. Tetapi di mata pengamat, itu adalah “makan siang plus-plus” yang menyampaikan pesan bahwa hubungan eksekutif dan legislatif terjaga solid. Tidak ada orasi panjang, tidak ada konferensi pers bombastis. Hanya foto dan cerita sederhana yang justru lebih efektif membentuk persepsi publik.
Kita hidup di zaman di mana gestur bisa lebih keras berbicara daripada kata-kata. Dasco memanfaatkannya, memadukan komunikasi verbal dan simbolik agar pesan politik tetap halus namun sampai ke sasaran.
Meredam Gelombang, Menguatkan Pesan
Gelombang politik datang tak kenal musim. Isu yang kemarin tenang bisa mendadak menjadi badai. Dalam situasi seperti itu, peran Dasco sering terlihat, ia bukan hanya mengulang apa yang dikehendaki Presiden, tetapi mengemasnya agar tidak menjadi bumerang.
Misalnya, saat sebagian kader partai di daerah mengusulkan kebijakan yang dianggap tidak populer, Dasco mengingatkan secara terbuka agar semua kepala daerah dari Gerindra fokus pada kebijakan prorakyat. Pesannya lugas, tetapi tidak konfrontatif. Dengan begitu, ia menegakkan garis kebijakan partai sekaligus menghindari citra arogan.
Bahkan di DPR, ketika debat politik bisa berubah panas, Dasco kerap menjadi figur yang menurunkan suhu ruangan. Ia memilih kalimat yang meredakan, bukan memancing adrenalin lawan bicara. Keahliannya di sini mengingatkan pada strategi diplomasi, bukan soal siapa yang menang berdebat, tetapi siapa yang mampu menjaga arah pembicaraan agar tetap bermanfaat.
Pola yang Membedakan
Di lingkaran pemerintahan, ada banyak figur yang berperan sebagai “juru bicara”. Namun, perbedaan Dasco terletak pada dua hal, posisi dan pendekatan.
Pertama, posisinya di DPR membuatnya bisa membaca denyut aspirasi rakyat secara langsung. Tidak semua juru bicara punya akses ini. Banyak yang hanya berbicara dari menara gading birokrasi, sedangkan Dasco kerap terjun dalam agenda-agenda publik, mulai dari dialog dengan pelaku usaha kecil, pertemuan dengan kepala daerah, hingga forum-forum partai yang membicarakan keluhan konstituen.
Kedua, pendekatannya tidak reaktif, melainkan preventif. Ia jarang terlihat memadamkan api setelah isu membesar, lebih sering ia mengeluarkan pernyataan awal yang mencegah isu berkembang liar. Contohnya, saat beredar rumor bahwa partai akan mendorong kebijakan kontroversial di daerah, Dasco cepat-cepat meluruskan bahwa kebijakan yang dijalankan harus pro rakyat. Pernyataan ini keluar sebelum rumor itu sempat menimbulkan sentimen negatif luas.
Pendekatan ini membuatnya lebih mirip pengatur lalu lintas daripada sekadar pembawa pesan. Ia tidak hanya mengirimkan pesan dari atas ke bawah, tetapi juga mengatur kecepatan dan arah pesan itu agar tidak menabrak kepentingan Publik.
Figur seperti Dasco sering kali tidak menjadi sorotan utama media, setidaknya tidak seterang pejabat eksekutif yang mengambil keputusan besar. Namun, jika kita membaca sejarah politik, selalu ada sosok seperti ini di belakang layar, mereka yang menjaga stabilitas komunikasi sehingga kebijakan tidak runtuh karena salah ucap atau salah baca.
Dalam bahasa panggung, ia adalah konduktor orkestra. Pemain musik bisa saja berbakat, tetapi tanpa konduktor, nada bisa saling bertabrakan. Dalam bahasa politik, Dasco adalah konduktor yang memastikan suara pemerintah mengalun dalam harmoni, tidak terlalu keras, tidak terlalu lemah, dan selalu pada waktunya.
Refleksi: Bahasa sebagai Penopang Kekuasaan
Kekuasaan, betapapun kuatnya, akan goyah jika gagal menjelaskan dirinya. Di sini, peran penerjemah politik seperti Dasco menjadi vital. Ia menjaga agar bahasa kekuasaan tidak kehilangan makna, agar rakyat tetap merasa diajak bicara, bukan sekadar diperintah.
Kita bisa saja tidak sepakat dengan semua sikap politiknya, tetapi sulit menampik bahwa Dasco menguasai seni menjaga irama ini. Dan selama irama itu terjaga, kapal politik Prabowo akan lebih mudah berlayar menembus gelombang, setidaknya di medan komunikasi publik.
Mungkin, inilah alasan mengapa pertemuan sederhana, pernyataan singkat, atau gestur kecil dari Dasco bisa memiliki gaung panjang. Karena dalam politik, yang bertahan bukan hanya kebijakan, tetapi juga cara kebijakan itu diucapkan.















