SURABAYA, Rilpolitik.com – Sebuah video acara dangdutan di atas panggung dengan banner bertajuk, “Memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW” viral di media sosial dan mengundang kontroversi.
Dalam video yang diunggah akun IG @pesonabwi, seorang biduan dengan pakaian seksi bernyanyi dan bergoyang sambil disawer oleh penontonnya.
Pengunggah video tersebut memberikan keterangan bahwa acara dangdutan itu terjadi di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
“Momen yang harusnya suci untuk mengenang perjalanan nabi, justru diselingi oleh hiburan dangdut dengan vokalis berbusana minimalis,” tulis @pesonabwi, dikutip di Surabaya, Sabtu (17/1/2026).
Sontak saja, video tersebut mendapat kecaman dari warganet. Banyak yang menilai acara dangdutan dengan biduan tanpa busana tertutup dalam peringatan Isra’ Mi’raj itu merupakan bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Netizen juga menilai penyelenggara kegiatan tidak bisa memilih hiburan yang pantas untuk acara peringatan hari besar Islam (PHBI).
Mengetahui video acaranya viral, penyelenggara kegiatan akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi. Ketua panitia peringatan Isra’ Mi’raj, Muhammad Hadianto mengakui kebenaran video yang beredar di media sosial.
Menurutnya, acara tersebut terjadi di Dusun Bangunrejo, Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
“Terkait dengan beredarnya video yang viral di media sosial, yaitu adanya pengajian peringatan Isra’ Mi’raj tersebut memang benar adanya,” ujar Hadianto dalam sebuah video yang beredar.

“Electone tersebut dilaksanakan setelah kegiatan pengajian selesai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat dan murni digunakan untuk menghibur panitia yang sedang melaksanakan bersih-bersih setelah kegiatan,” kata dia.
Hadianto pun menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut, baik secara pribadi maupun sebagai ketua panitia acara.
“Saya atas nama pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai ketua pantia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tersebut,” pungkasnya.
(War/rilpolitik)
















