NasionalSerba-serbi

Surat Untuk Presiden Prabowo dari Anak Petani Tembakau Madura

×

Surat Untuk Presiden Prabowo dari Anak Petani Tembakau Madura

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi petani tembakau. [Foto: google.com]

Kepada Yth.

Bapak Presiden Republik Indonesia

di Tempat

Salam dari Madura, Pulau yang Tak Pernah Dengar Kata Menyerah.

Saya Fauzi As, anak dari petani tembakau di Madura, pulau yang masih menempati peringkat satu termiskin di Jawa Timur, meskipun sudah puluhan tahun merdeka.

Saya menulis bukan untuk mengeluh, tetapi untuk menyampaikan suara rakyat kecil yang sering tak terdengar di ruang-ruang kekuasaan.

Bapak Presiden,

Kami melihat Dirjen Bea Cukai yang baru mulai bekerja. Dengan latar belakang Kopassus, kami percaya beliau disiplin dan tegas.

Namun dari desa-desa kami yang jauh dari pusat kekuasaan, langkah-langkah seperti razia dan penindakan justru sering menyasar rakyat kecil, bukan akar persoalan.

Di Sampang, 47,9% balita mengalami stunting. Ini bukan sekadar angka, tapi jerit sunyi dari anak-anak yang lahir dari ibu yang kekurangan gizi.

Pembangunan ekonomi katanya tumbuh, tapi tak pernah singgah ke warung kami, ke ladang tembakau kami, ke dapur kami.

Masih banyak anak sekolah di desa kami yang memakai sepatu tanpa sol. Para petani tetap mengelus dada, karena harga tembakau selalu tak berpihak.

Di Jakarta, ada wakil kami di DPR, bahkan Ketua Banggar. Tapi rakyat di Madura hanya bisa melihat APBN jadi alat konsolidasi politik, bukan alat keadilan sosial.

Dana desa kadang tak menyentuh kebutuhan dasar, tapi justru melanggengkan kekuasaan lokal.

Kucuran DBH-CHT banyak habis di rapat dan brosur.

Sementara kami terus berjuang dengan cangkul dan keringat.

Bapak Presiden,

Satgas dan razia bukanlah jawaban atas kemiskinan.

Rokok disita dari warung kecil, sopir travel dan pedagang ditangkap.

Negara menyebut itu sebagai pengungkapan, padahal yang terjadi adalah perampasan keringat rakyat.

Baca juga:  Prabowo Banggakan MBG di WEF Swiss, Sebut Akan Lampaui Jumlah Porsi McDonald’s

Kami tidak membela pelanggaran hukum. Tapi kami juga tidak bisa menerima hukum yang hanya tajam ke bawah.

Apa yang dilakukan oleh petani dan pengusaha kecil bukanlah kejahatan, tapi upaya bertahan hidup di tengah sistem yang timpang.

Maka izinkan kami menyampaikan beberapa usulan:

1. Kebijakan Cukai yang Berjenjang dan Adil

Jangan samakan tarif antara industri besar dan usaha kecil.

UMKM tembakau perlu perlindungan, bukan pemusnahan.

2. DBH-CHT untuk Petani, Bukan Seminar

Uang yang berasal dari tembakau harus kembali ke petani tembakau. Sederhana dan langsung.

3. Legalitas Produksi Rumahan

Berikan legalitas bagi produksi kecil. Sertifikasi sederhana, mudah, dan terjangkau, tapi tetap dalam pengawasan. Jangan kriminalisasi kami.

4. Peta Jalan Cukai yang Berkeadilan

Harus ada jalur transisi. Jangan hanya menuntut patuh tanpa memberi jalan keluar bagi buruh dan petani.

5. Jangan Sembah Cukai sebagai Segala-galanya

Negara butuh uang, tapi jangan sampai keadilan sosial dikorbankan demi kas negara. Kami percaya Bapak Presiden masih punya nurani, bukan sekadar kalkulator fiskal.

Beberapa Fakta:

Sektor tembakau di Jatim menyerap 90 ribu lebih tenaga kerja di luar lahan, dan 387 ribu lebih di lahan.

Di Madura, sekitar 95 ribu kepala keluarga hidup dari sektor ini.

Distribusi, transportasi, hingga warung kecil ikut bergantung pada ekosistem ini.

Bapak Presiden,

Kami tidak meminta keajaiban. Kami hanya ingin agar anak-anak kami tak lagi stunting, agar istri kami bisa beli beras tanpa utang, agar petani bisa menjual hasilnya tanpa diburu.

Kami ingin negara hadir bukan sebagai algojo, tapi sebagai pengayom.

Negara yang kuat bukanlah negara yang menghukum yang lemah, tetapi yang mampu mendengar bisikan dari desa dan menerjemahkannya menjadi kebijakan yang adil.

Baca juga:  President Prabowo and Indonesia’s 2026 UNHRC Presidency: A Push for Peace and Global Unity

Hormat kami,

Fauzi As

Anak Petani Tembakau Madura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *