Oleh: Kurniawan Zulkarnain
Penggiat dan Konsultan Pemberdayaan Masyarakat
Tanggal 2 Juni 2026, pemerintah mengumumkan pemberhentian tiga petinggi BGN. Pengumuman tersebut ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung. Pada 3 Juni 2026, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka. Penyalahgunaan kekuasaan terbilang berani dan telanjang, ketika seantero negeri berteriak, sementara tanda-tanda pemburu rente dapat dibaca melalui praktik jual beli SPPG dan maraknya kasus keracunan yang menimpa anak-anak kita.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Dengan anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah dan target puluhan juta penerima manfaat, program ini bukan sekadar proyek bantuan pangan, melainkan investasi strategis untuk membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Namun, sebagaimana lazim terjadi pada program berskala nasional, pertanyaan mendasar perlu terus diajukan: apakah sasaran program telah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai?
Tujuan utama MBG adalah meningkatkan status gizi masyarakat dan mempercepat penurunan stunting. Jika demikian, maka ukuran keberhasilannya bukanlah jumlah makanan yang dibagikan atau banyaknya penerima manfaat, melainkan sejauh mana program tersebut mampu memperbaiki kualitas kesehatan generasi mendatang.
Dalam perspektif pembangunan manusia, tidak semua kelompok memiliki tingkat urgensi yang sama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa periode paling menentukan kualitas manusia berlangsung pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pada fase inilah perkembangan otak, sistem saraf, dan pertumbuhan fisik berlangsung sangat cepat. Kekurangan gizi pada periode tersebut dapat menimbulkan dampak permanen yang sulit diperbaiki pada usia berikutnya.
Karena itu, kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita semestinya menjadi prioritas utama dalam setiap intervensi gizi nasional. Mereka merupakan kelompok yang paling rentan sekaligus paling strategis dalam upaya memutus rantai stunting antargenerasi.
Sebaliknya, pemberian makanan bergizi kepada anak usia sekolah memang penting, tetapi dampaknya terhadap pencegahan stunting relatif lebih kecil dibandingkan intervensi pada masa awal kehidupan. Ketika seorang anak memasuki usia sekolah, sebagian besar proses pertumbuhan dasar telah terjadi.
Dengan kata lain, intervensi pada usia sekolah lebih berfungsi menjaga kesehatan dan meningkatkan konsentrasi belajar, bukan mencegah stunting.
Di sinilah urgensi refocusing program MBG menemukan relevansinya. Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, pemerintah perlu memastikan bahwa anggaran negara diarahkan terlebih dahulu kepada kelompok yang memberikan dampak pembangunan paling besar.
Refocusing bukan berarti menghapus hak kelompok lain. Refocusing adalah upaya menata ulang prioritas agar tujuan utama program tidak kehilangan arah.
Pemerintah dapat mempertimbangkan pendekatan bertahap dengan memberikan prioritas kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta wilayah yang memiliki prevalensi stunting tinggi. Sementara itu, cakupan bagi kelompok lain dapat disesuaikan dengan kapasitas fiskal dan kondisi daerah masing-masing.
Selain persoalan sasaran, tata kelola program juga memerlukan perhatian serius. Berbagai laporan mengenai keterlambatan distribusi, kualitas makanan, hingga kasus keracunan menunjukkan bahwa ekspansi program harus diimbangi dengan penguatan sistem pengawasan.
Program sebesar MBG tidak cukup hanya mengandalkan semangat politik; ia membutuhkan manajemen modern, transparansi, dan evaluasi berbasis data.
Keterlibatan pemerintah daerah, puskesmas, posyandu, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil perlu diperkuat agar pengawasan tidak hanya bertumpu pada birokrasi pusat. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat ditelusuri manfaatnya bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Dalam jangka panjang, keberhasilan MBG tidak akan diingat karena banyaknya paket makanan yang dibagikan. Program ini akan dikenang apabila mampu melahirkan generasi Indonesia yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih produktif.
Karena itu, saatnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain program. Fokus utama harus dikembalikan pada kelompok yang paling membutuhkan dan paling menentukan masa depan bangsa: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Pembangunan manusia bukan soal membagi sumber daya kepada sebanyak mungkin orang, melainkan memastikan sumber daya tersebut menghasilkan manfaat terbesar bagi masa depan.
Di sinilah refocusing penerima manfaat MBG menjadi bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan sebuah keharusan pembangunan.
Jakarta, 2026
















