DaerahEkonomi

Harga Jagung Anjlok, Petani di Sumenep Mengeluh: Tak Cukup Buat Ganti Uang Pupuk

×

Harga Jagung Anjlok, Petani di Sumenep Mengeluh: Tak Cukup Buat Ganti Uang Pupuk

Sebarkan artikel ini
Harga jagung musim ini murah.

SUMENEP, Rilpolitik.com – Petani jagung di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengeluhkan harga jagung yang anjlok di musim panen tahun ini. Harga yang murah ini membuat para petani rugi. Pasalnya, modal yang harus mereka keluarkan untuk keperluan menanam dan merawat jagung tidak sedikit.

Sebagai informasi, harga jagung saat ini di pasaran hanya di kisaran Rp4.000-4.100 per kilogram. Harga tersebut turun jika dibandingkan dengan minggu lalu yang di kisaran Rp4300-4.400 per kilogram.

Wardatun (53), petani jagung asal Kecamatan Bluto, secara blak-blakan mengaku dirinya merugi di musim tahun ini. Dia menyebut harga jagung tahun ini hancur.

Dia mengatakan harga jagung Rp4.000/kg tidak cukup untuk menutupi biaya modal yang sudah dikeluarkan, mulai dari bibit, racun hama hingga pupuk. Menurut dia, harga untuk keperluan tanam tersebut semakin mahal.

“Bisa dikatakan hancur (harga jagung). Bibitnya saja 75k/kg, belum racun hama, belum pupuk,” kata Wardatun kepada rilpolitik.com pada Rabu (15/5/2024).

Wardatun mengaku baru menjual jagung hasil panennya sebagian saja. Ia mengatakan masih menunggu harga jagung naik untuk dijual. Namun, katanya, makin hari harga jagung justru menunjukkan tren penurunan.

“Jagung saya sampai jamuran gara-gara nunggu harga naik,” tuturnya.

Dia pun meminta pemerintah untuk tidak hanya berpangku tangan. Menurutnya, pemerintah perlu intervensi terhadap harga jagung yang terlalu murah. Sebab, katanya, jagung merupakan salah satu sumber penghasilan masyarakat.

“Sangat perlu (intervensi pemerintah) biar kita petani juga ada lah tambahan uang keringat. Mengingat jagung ini salah satu sumber penghasilan utama dalam pertanian,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya. Seorang pria bernama Hamsu (49) mengaku hasil panennya tahun ini tidak cukup untuk menutupi biaya pupuk.

“Dengan harga jagung yang segitu, nggak cukup lah buat nutupi biaya pupuk. Pupuk sekarang kan mahal banget. Sementara, harga jagungnya murah. Jadi nggak imbang antara biaya yang sudah dikeluarkan dengan penghasilan yang kita dapat setelah panen,” kata dia.

“Itu baru pupuk. Biaya lain misalnya, seperti bibit, racun, biaya pekerja, dan lain-lain. Rugi kita ini, bukan untung,” imbuhnya.

Namun demikian, Hamsu merasa dirinya hanya bisa pasrah dan menerima apa yang terjadi. Dia mengatakan, sebagai rakyat kecil tidak bisa berbuat apa-apa.

“Mau gimana lagi? Mana mungkin suara kita didengar oleh pejabat? Ya ngga mungkin lah. Mereka pasti punya segudang alasan sebagai pembenaran atas anjloknya harga jagung,” ujarnya dengan nada emosional.

Hal serupa juga dikeluhkan seorang warga Kecamatan Lenteng bernama Muhammad (64). Dia mengaku terakhir jual jagungnya di harga Rp4.100. Dia mengaku mendapat kabar saat ini sudah turun lagi harganya.

Sama seperti petani lainnya, Muhammad juga mengaku harga jagung Rp4.100/kg tidak cukup untuk menutupi modal yang sudah dikeluarkan.

“Soalnya sebelum ditanam, kan tanahnya harus dibajak dulu. Dan sekarang rata-rata pakai traktor. Dan itu lumayan ongkos sewanya. Belum lagi pupuk yang mahal,” ujarnya.

Dia mengaku saat ini dirinya memilih untuk menyimpan dulu jagungnya dengan harapan harganya bisa naik lagi. Namun, katanya, yang menjadi tantangan adalah jagung bisa rusak jika disimpan terlalu lama.

“Ada kutu, jamuran, dan lain-lain. Itu sangat mungkin terjadi jika disimpan terlalu lama,” tandasnya.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *