NasionalPolitik

Bintang di Dada Dasco dan Makna Sebuah Penghargaan Negara

×

Bintang di Dada Dasco dan Makna Sebuah Penghargaan Negara

Sebarkan artikel ini
Asip Irama.

Oleh: Asip Irama
Direktur Eksekutif Indopublika.


Ada saat-saat tertentu dalam perjalanan bangsa ketika negara berbicara lewat simbol. Bukan melalui pidato panjang atau kebijakan tebal berlembar-lembar, melainkan lewat sebuah tanda yang sederhana, bintang, medali, atau lencana. Ia adalah bahasa negara untuk berkata: kami mengingat, kami mengakui.

Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto menyematkan Bintang Republik Indonesia Utama di dada Sufmi Dasco Ahmad. Dari luar, itu tampak sebagai seremoni kenegaraan yang biasa, musik orkestra, busana kebesaran, dan kilau emas yang memantul di bawah lampu istana. Namun di balik gemerlap itu, pertanyaan yang lebih dalam muncul: apakah sebuah bintang hanya penghormatan personal, ataukah ia bagian dari bahasa kekuasaan yang menyimpan makna politis?

Simbol yang Bernapas

Bintang Republik Indonesia Utama adalah salah satu tanda jasa tertinggi yang dimiliki negeri ini. Ia biasanya diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa luar biasa bagi republik, baik dalam medan militer, diplomasi, maupun ilmu pengetahuan. Dengan menyematkannya kepada seorang politisi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR, negara seperti ingin menegaskan: jasa legislatif pun pantas dikenang, bukan sekadar jasa perang atau pembangunan.

Dasco, yang selama ini kerap dipanggil “penjaga irama politik”, kini menerima simbol yang melegitimasi kiprahnya. Ia dikenal sebagai figur tenang, komunikatif, dan piawai memainkan peran di tengah riuh rendah tarik-menarik kepentingan. Jika di parlemen ia kerap disebut dirigen, maka kini dalam seremoni kenegaraan ia diabadikan dengan sebuah bintang.

Lencana dan Politik di Baliknya

Namun kita mafhum, tanda jasa tidak pernah benar-benar steril dari politik. Sejarah Indonesia mencatat, penghargaan negara kerap hadir di saat-saat strategis: untuk mengukuhkan kedekatan, menandai loyalitas, atau meredam kegaduhan.

Dalam konteks hari ini, penghargaan kepada Dasco bisa dibaca sebagai pengakuan atas peran DPR yang setahun terakhir menjadi mitra penting Presiden Prabowo, dari isu pertahanan hingga ketahanan pangan. Tetapi, di saat yang sama, ia juga adalah pesan politik: bahwa Prabowo membutuhkan figur yang menjembatani parlemen dengan Istana, dan Dasco-lah yang dipilih untuk mengemban kepercayaan itu.

Maka, bintang di dada Dasco adalah bahasa simbolik: pengakuan sekaligus pengukuhan.

Antara Kilau dan Jejak Sejarah

Tetapi bintang hanya berkilau sesaat. Sejarah lebih sering mengingat jejak nyata, bukan penghargaan seremonial. Kita masih bisa menghafal nama tokoh-tokoh besar yang berkorban untuk republik, tapi jarang sekali kita mengingat siapa saja yang menerima tanda jasa.

Di sinilah letak ujian bagi Dasco. Apakah ia kelak dikenang sebagai politisi yang menjaga keseimbangan, merawat komunikasi politik, dan mengurai simpul konflik? Atau justru sejarah hanya akan menuliskannya sebagai bagian dari sebuah rezim? Jawaban itu tidak bisa kita tentukan hari ini, bahkan tidak oleh Presiden Prabowo. Hanya generasi mendatang yang akan menafsirkan jejak yang ditinggalkan.

Kata yang Membuka Makna

Di balik gemerlap lencana emas, Dasco sendiri mengucapkan kata-kata sederhana yang justru menyelipkan makna:

“Tentunya dengan penghargaan yang diterima itu membuat kami lebih mawas diri, introspeksi… penghargaan ini adalah penghargaan bukan hanya kepada saya, tetapi juga keluarga maupun teman-teman yang selama ini ikut membantu saya dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.”

Ada kerendahan hati dalam kalimat itu. Ia menggeser makna penghargaan dari sekadar mahkota pribadi menjadi ruang refleksi kolektif. Kata “mawas diri” dan “introspeksi” mengingatkan kita bahwa tanda jasa sejatinya bukanlah puncak, melainkan panggilan untuk semakin rendah hati di tengah sorotan.

Jarak Simbol dengan Rakyat

Namun mari kita jujur: di mata rakyat, bintang di dada pejabat kerap terasa jauh. Saat para elit menerima penghargaan, rakyat masih berjibaku dengan harga beras yang naik-turun, kesempatan kerja yang terbatas, dan akses kesehatan yang belum merata. Inilah paradoks dari simbol negara, ia berkilau di langit, tetapi kaki rakyat masih tertanam dalam lumpur keseharian.

Di sinilah tantangan bagi Dasco setelah menerima penghargaan itu. Jika ia sungguh ingin membuat bintang di dadanya bermakna, maka ia harus mampu menjembatani jarak antara simbol negara dengan kebutuhan sehari-hari rakyat. Sebab apa arti bintang di dada seorang politisi bila rakyat yang diwakilinya merasa hidupnya tetap gelap?

Penutup

Bintang itu kini telah melekat di dada Dasco. Tetapi bintang bukanlah akhir, melainkan awal dari ujian sejarah. Ia akan diuji bukan dengan pidato seremonial, melainkan dengan sikap politik sehari-hari: bagaimana ia merespons kritik, menjaga marwah parlemen, dan menempatkan diri di antara rakyat serta kekuasaan.

Sejarah pada akhirnya akan menyaring. Apakah bintang itu tetap bercahaya sebagai simbol jasa, atau meredup sebagai ornamen kekuasaan. Dan hanya jejak yang membekas di hati rakyatlah yang membuat sebuah bintang benar-benar bersinar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *