JAKARTA, Rilpolitik.com – Geliat pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta semakin hangat. Lembaga-lembaga survei pun mulai menerbitkan hasil jajak pendapat publik untuk menerka-nerka apa yang ada di benak pemilih. Salah satunya Litbang Kompas yang baru melansir hasil survei untuk sejumlah daerah penting di Indonesia.
Dalam hasil survei tentang Jakarta yang dipublikasikan pada 16 Juli 2024 yang lalu, ada tiga nama yang memiliki elektabilitas tertinggi, yakni Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Ridwan Kamil. Dari ketiga pemuncak elektabilitas tersebut, data menunjukkan bahwa Ridwan Kamil adalah sosok yang paling minim resistensi di pilkada Jakarta.
Peneliti Indonesia Strategic Institute (INSTRAT) Adi Nugroho dalam keterangannya (18/7/2024) menjelaskan, “Berdasarkan hasil riset terbaru Litbang Kompas, terlihat bahwa Ridwan Kamil memiliki potensi yang paling tinggi, relatif terhadap bakal calon lainnya, untuk kontestasi pemilihan gubernur Jakarta mendatang. Setidaknya saya membacanya dari dua hal, yaitu pertama, tingkat resistensi yang rendah dan mulai terbentuknya pemilih inti yang lebih tinggi dari kandidat lain.”
Adi melanjutkan, resistensi yang rendah dapat dibaca dari hanya 12% responden yang secara tegas menyatakan tidak akan memilih Ridwan Kamil. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan calon-calon lainnya seperti Anies dan Ahok, yang masing-masing memiliki tingkat resistensi sebesar 17,3% dan 17,8%.
“Resistensi yang rendah ini menunjukkan bahwa Ridwan Kamil lebih diterima oleh masyarakat Jakarta dan memiliki peluang lebih besar untuk meraih suara mayoritas,” tambah Adi.
Dukungan Agregat yang Tinggi
Adi melanjutkan, potensi terpilihnya Ridwan Kamil juga bisa dibaca dari dukungan agregat yang tinggi.
“Maksudnya, jika kita gabungkan kategori ‘Pasti akan memilih’ dan ‘Mempertimbangkan akan memilih’, Ridwan Kamil memperoleh dukungan agregat yang paling tinggi di antara calon-calon lainnya. Sebanyak 24% responden menyatakan pasti akan memilih Ridwan Kamil, sementara 52,3% lainnya mempertimbangkan untuk memilihnya. Dengan total agregat sebesar 76,3%, Ridwan Kamil unggul dibandingkan dengan Anies (75,3%) dan Ahok (74,4%),” papar Andi.
Angka-angka ini, lanjut Adi, menunjukkan bahwa Ridwan Kamil memiliki daya tarik yang lebih luas di kalangan pemilih Jakarta. Dukungan yang kuat ini, dipadukan dengan resistensi yang minim, memberikan Ridwan Kamil keunggulan kompetitif yang signifikan.
“Jadi, salah satu kesimpulan menarik dari riset Litbang Kompas tersebut ialah bahwa Ridwan Kamil adalah calon gubernur yang paling potensial untuk Jakarta. Tingkat resistensi yang rendah dan dukungan agregat yang tinggi membuatnya menonjol di antara calon-calon lainnya,” simpul Adi.
Dukungan agregat yang tinggi tersebut mencerminkan kekuatan Ridwan Kamil dalam berkomunikasi dan membangun kepercayaan dengan berbagai lapisan dan kelompok masyarakat di Jakarta, tambah Adi.
Menunggu Golkar
“Namun demikian, tentunya kita masih menunggu keputusan dari Partai Golkar untuk nasib Ridwan Kamil ke depan, apakah ia akan ditugaskan ke Jawa Barat atau Jakarta. Menurut saya, perlu juga untuk dicermati kemungkinan-kemungkinan yang terkait dengan karakter personal Ridwan Kamil. Misalnya, apakah Ridwan Kamil secara personal akan tetap bersikeras untuk berkompetisi di Jakarta,” tambah Adi.
Adi memperkirakan tidak tertutup kemungkinan Ridwan Kamil pada akhirnya maju sebagai cagub Jakarta, meski mungkin tetap dalam skema Koalisi Indonesia Maju (KIM), namun tanpa Partai Golkar.
“Jika hal tersebut terjadi, Partai Golkar dapat kehilangan kesempatan momentum kemenangan sekaligus baik di Jawa Barat maupun Jakarta,” pungkas Adi.
















