JAKARTA, Rilpolitik.com – Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Prabowo Subianto merasa demokrasi sangat melelahkan dan berantakan.
Selain itu, Capres yang unggul berdasarkan real count KPU itu juga mengatakan demokrasi membutuhkan biaya yang sangat mahal.
Hal itu sebagai testimoni Prabowo atas pengalamannya lima kali ikut dalam kontestasi Pemilu sejak 2004.
“Saya berpartisipasi dalam lima pemilihan umum. Dan izinkan saya bersaksi, demokrasi itu benar-benar sangat melelahkan. Demokrasi sangat, sangat kacau, demokrasi sangat, sangat mahal,” kata Prabowo saat memberikan pidato di depan kalangan investor dan pebisnis dalam acara Mandiri Investment di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (5/3/2024).
Ketua Umum Partai Gerindra itu menyatakan masih belum puas dengan demokrasi di Indonesia. Menurutnya, demokrasi di Indonesia masih bisa diperbaiki menjadi lebih baik.
“Kami masih belum puas dengan demokrasi kami. Ada banyak ruang untuk perbaikan tetapi juga di satu sisi kami memiliki kompleksitas inferioritas ini, selalu merasa bahwa kami lebih rendah untuk semua orang,” ujarnya.
Prabowo juga menegaskan Indonesia merupakan negara besar. Sejalan dengan itu, tantangan bangsa Indonesia juga besar.
“Indonesia adalah negara dengan aspirasi yang besar. Orang-orang saya, bangsa saya, memiliki aspirasi yang besar. Kami memiliki masalah besar, kami memiliki tantangan besar, tetapi kami memiliki aspirasi besar dan kami mencoba untuk mencapai aspirasi tersebut,” kata Prabowo.
Sebagai informasi, Prabowo terlibat dalam pemilu dimulai pada 2004 saat dia mengikuti konvensi capres Partai Golkar. Lalu pada Pilpres 2009, dia menjadi cawapres berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri.
Pada Pilpres 2014, Prabowo maju sebagai capres berpasangan dengan Hatta Rajasa. Pada Pilpres 2019, Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno. Pada Pilpres 2024, Prabowo berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka.
















