JAKARTA, Rilpolitik.com – Mantan Kabareskrim Polri Komjen (Purn) Susno Duadji mengecam keras anggota Komisi I DPR RI Endipat Wijaya yang menyindir terkait donasi bencana Rp 10 Miliar yang berhasil dikumpulkan CEO Malaka Project Ferry Irwandi untuk korban banjir dan longsor di Sumatra dengan sebutan ‘Si paling-paling Aceh’.
Menurut Susno, Endipat tidak layak menjadi anggota DPR RI. Ia tak habis pikir dengan sikap Endipat yang menghujat rakyat karena membantu korban bencana.
“Anggota DPR yang nggak tau diri. Nggak pantas jadi anggota DPR. Rakyat berbuat baik demi kemanusian kokdihujat?” kata Susno lewat akun media sosialnya, dikutip Kamis (11/12/2025).
Mantan Wakil Kepala PPATK itu lantas mempertanyakan kontribusi Endipat terhadap para korban banjir dan longsor di Sumatra.
“Anda sebagai anggota DPR yang digaji dengan pajak rakyat berbuat apa untuk korban banjir?” tanya Susno.
Diketahui, Endipat Wijaya menjadi sorotan publik setelah pernyataannya dalam rapat bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di ruang rapat Komisi I DPR, Senin (8/12/2025), dianggap menyindir Ferry Irwandi dengan sebutan ‘Si Paling Aceh’.
Endipat saat itu meminta Komdigi untuk lebih aktif menyebarkan informasi kerja pemerintah terkait penanganan bencana di Sumatra.
“Fokus nanti, ke depan Kementerian Komdigi ini mengerti dan tahu persis isu sensitif nasional dan membantu pemerintah memberitahukan dan mengamplifikasi informasi, sehingga enggak kalah viral dibandingkan dengan teman-teman yang sekarang ini, paling-paling di Aceh, di Sumatra, dan lain-lain itu,” kata Endipat.
“Ada orang yang cuma datang sekali, seolah-olah paling bekerja di Aceh,” sambungnya.
Politikus Gerindra ini menegaskan, dalam penanganan bencana Sumatra, pemerintah yang hadir pertama mengatasinya.
“Padahal negara sudah hadir dari awal, ada orang baru datang, baru bikin satu posko, ngomong pemerintah enggak ada. Padahal pemerintah sudah bikin ratusan posko di sana,” ungkap Endipat.
“Yang sehingga publik tahu kinerja pemerintah itu sudah ada, dan memang sudah hebat,” lanjut dia.
(War/rilpolitik)















