SURABAYA, Rilpolitik.com – Demo besar di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Rabu (13/8/2025), yang memprotes kebijakan Bupati Sudewo karena dianggap tak berpihak pada rakyat bisa saja merembet ke daerah lain. Salah satunya Jawa Timur (Jatim).
Advokat kondang asal Surabaya, Muhammad Sholeh alias Cak Sholeh mengaku menerima banyak pesan dari warga Jatim usai peristiwa demo besar-besaran di Pati. Mereka bertanya kapan demo serupa akan digelar di Jatim.
Diketahui, Cak Sholeh memang ikut terlibat dalam aksi demonstrasi di Pati. Ia bahkan sempat menyampaikan orasi di depan puluhan ribu massa yang hadir.
“Banyak yang nge-chat Cak Sholeh, banyak yang komen mempertanyakan kapan Gubernur Jawa Timur didemo? Kapan model di Pati itu dipindah ke Jawa Timur?” kata Cak Sholeh dalam pernyataan yang diunggah di akun Tiktok miliknya, dikutip rilpolitik.com, Jumat (15/8/2025).
Bagi Cak Sholeh, persoalan di Jawa Timur lebih parah daripada Kabupaten Pati. Ia mengungkap sejumlah kasus korupsi yang menggerogoti Provinsi Jatim di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Dari sekian banyak kasus korupsi yang terjadi di Jatim, Cak Sholeh menilai Khofifah selaku gubernur hanya diam saja seperti tidak terjadi apa-apa.
“Menurut saya, kasus Jawa Timur lebih parah daripada Pati. Jawa Timur korupsinya menggurita. Ada korupsi DPRD Rp 2 triliun yang ditangkap oleh KPK. Belum lagi dugaan hibah-hibah gubernur juga triliunan rupiah. Korupsi Bank Jatim Rp 500 miliar, korupsi Diknas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Rp 50 miliar,” ungkap dia.
“Belum lagi pungli-pungli di sekolah SMA Negeri, banyak ijazah ditahan. Nyatanya Gubernur Jawa Timur mbidek. Nyatanya Khofifah tidak menggubris. Kita minta supaya Gubernur bikin aturan larangan pungli di sekolah nggak direken,” imbuhnya.
Sikap Khofifah yang terkesan tidak peduli terhadap berbagai persoalan korupsi yang terjadi di Jatim dinilai Cak Sholeh sebagai perilaku yang zalim dan arogan. Khofifah disebut hanya sibuk dengan urusan lain di luar tanggungjawabnya sebagai gubernur.
“Bagi saya, perilaku ini sudah zalim. Perilaku ini sudah arogan. Pemimpin seperti ini tidak dekat ke masyarakat. Pemimpin seperti ini hatinya tidak untuk orang-orang kecil. Gubernur lebih sibuk ngurusin nyepil buah dibanding urusan-urusan masyarakat,” ucapnya.
Sebab itu, Cak Sholeh mengatakan dirinya akan menggalang massa dari berbagai kabupaten di Jatim yang aspirasinya selama ini tak digubris oleh Khofifah. Salah satunya aspirasi terkait pengampunan pajak kendaraan bermotor.
Ia menyebut kebijakan pengampunan pajak kendaraan bermotor yang dilakukan Khofifah saat ini setengah hati karena hanya untuk golongan warga tertentu.
“Ayo dalam waktu dekat Cak Sholeh akan bikin perkumpulan supaya ada utusan-utusan dari kabupaten-kabupaten yang lain, yang selama ini warga dari Banyuwangi sampai Ngawi meminta pengampunan pajak nggak dikabul-kabulkan oleh gubernur. Kalaupun dikabulkan hanya teman-teman Gojek, hanya orang-orang miskin. Pengampunan setengah hati. Harus ada gerakan besar mengingatkan gubernur Jawa Timur ini,” tegasnya.
“Kondisi Jawa Timur sudah sangat parah selama kepemimpinan Khofifah ini untuk keadilan, untuk kesejahteraan masyarakat,” tambah dia.
Seperti halnya di Pati, Cak Sholeh juga akan membuka posko donasi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur. Hal itu dilakukan supaya ada kebersamaan dan gotong-royong.
“Dalam waktu dekat kita kumpul, kita buka posko seperti di Pati di depan Kantor negara Grahadi supaya ada bantuan, supaya ada kebersamaan, supaya ada gerakan bersama anak-anak muda, orang tua, orang miskin, setengah kaya sampai orang kaya semuanya harus ikut bahu-membahu di dalam mengingatkan gubernur Jawa Timur ini,” ujarnya.
Inisiator gerakan ‘No Viral No Justice’ itu menegaskan pemimpin harus baik dan bisa mengakomodir aspirasi rakyat.
“Nggak peduli jilbaban, yang penting pemimpin harus baik,” pungkas dia.
(Ah/rilpolitik)















