Sejarah Nusantara tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik lembaran-lembaran kuno yang berdebu, kita bisa mendengar detak langkah para tokoh besar yang mengukir zaman. Salah satu yang terus menggema, bahkan melampaui masa kekuasaannya, adalah Patih Gajah Mada. Ia tidak hanya besar karena sumpahnya yang legendaris, tapi karena kesetiaannya pada sebuah tatanan—pada tuannya, pada negara, dan pada makna pengabdian itu sendiri.
Gajah Mada pernah berdiri di masa rapuh—ketika Raja Jayanegara nyaris kehilangan segalanya. Bukan masa kejayaan, bukan pula era emas. Justru di sanalah kesetiaan diuji. Bukan ketika terang datang, tapi saat gelap menyelimuti segalanya. Ia bertahan, bahkan ketika yang lain mulai ragu, bahkan ketika akal sehat mungkin menyuruhnya pergi.
Kisah seperti itu terasa jauh, namun sebetulnya tak sepenuhnya lenyap dari panggung kita hari ini. Politik Indonesia mungkin tak punya istana batu atau singgasana emas, tapi ia tetap melahirkan dinamika yang tak kalah berliku. Dan di antara riuhnya elite yang saling berbelok arah, ada tokoh yang justru memilih tetap di jalur: Sufmi Dasco Ahmad.
Nama Dasco memang tidak meledak-ledak di media. Ia bukan tipe politisi yang setiap minggu tampil di layar kaca dengan jargon terbaru. Tapi justru di balik keheningan itulah, kita bisa mencium satu hal yang langka dalam politik: konsistensi. Ia tak sekadar loyal, tapi seperti Gajah Mada, ia seolah menyatu dengan irama jalan yang dipilihnya.
Sejak Prabowo mengalami kekalahan demi kekalahan—dari 2009, 2014, hingga 2019—kita menyaksikan betapa banyak lingkaran dalam yang mulai menyusut. Banyak yang mengambil jarak, menghindari risiko, atau bahkan melompat ke perahu lain. Tapi Dasco tetap tinggal. Tak banyak bicara, tak banyak manuver. Ia tidak bersandar pada sorotan, tapi pada irama kerja yang tak putus.
Ada yang menyebut itu loyalitas. Tapi menurut saya, itu sudah melewati batas loyalitas biasa. Dasco seperti tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu: bahwa politik bukan soal menang hari ini, tapi tentang menjaga arah agar tidak terombang-ambing. Ia seperti penjaga peta ketika kapal belum tahu ke mana angin akan bertiup.
Dan justru karena itu, ia menarik. Ketika banyak politisi mengandalkan kalkulasi, Dasco memperlihatkan sisi yang lebih… sederhana, bahkan agak kuno: bertahan. Tidak pergi ketika badai datang. Tidak berpura-pura netral ketika situasi memburuk. Mungkin karena ia tahu, bahwa dalam politik, yang paling berharga bukan suara paling keras, tapi langkah paling stabil.
Relasinya dengan Prabowo seperti versi kontemporer dari hubungan raja dan patih. Prabowo, si pemimpin besar yang keras kepala sekaligus penuh daya magnetik. Dasco, si pengatur ritme di balik layar. Dalam logika kekuasaan, pasangan seperti ini jarang berhasil bertahan lama. Tapi di sini, mereka justru tumbuh dalam kekalahan.
Sejarah Majapahit pun mencatat hal yang mirip. Masa Jayanegara bukanlah era kejayaan. Tapi justru dari masa-masa itulah, Gajah Mada ditempa. Ia tidak menunggu kerajaan stabil baru mengabdi. Ia hadir untuk menstabilkan kerajaan. Dasco, di mata saya, bergerak dalam semangat yang sama. Ia tidak menunggu Prabowo menang untuk setia. Ia setia agar kemenangan mungkin terjadi.
Dan kemenangan itu akhirnya datang. Prabowo, yang dulu nyaris dilupakan banyak elite, kini duduk di tampuk tertinggi kekuasaan. Tapi siapa yang ikut mendaki bersamanya sejak awal? Tak banyak. Dasco adalah salah satu sedikit dari mereka yang benar-benar tidak pergi. Dan itu bukan hal sepele.
Dalam dunia politik kita yang cair dan penuh kalkulasi, jenis kesetiaan seperti itu sering dianggap lugu, bahkan bodoh. Tapi mungkin justru karena langkanya, ia layak dipelajari ulang. Kesetiaan yang tidak diikat oleh posisi, tapi oleh visi jangka panjang. Kesetiaan yang bukan hanya etika, tapi sudah jadi bagian dari nalar politik.
Dasco tidak menulis sejarah dengan huruf kapital. Tapi ia menjaga nyalanya agar tidak padam. Ia bukan bintang panggung, tapi ia pastikan panggung itu tetap berdiri. Dalam sunyi, ia menyusun, merawat, dan menjaga.
Kita boleh punya banyak perbedaan dalam memandang Prabowo. Ia bisa dikritik dengan alasan yang masuk akal. Tapi dalam soal perjalanan politiknya, keberadaan orang seperti Dasco adalah elemen yang tidak bisa diabaikan. Dalam momen-momen sepi, ia tidak sendirian. Dan itu kadang jadi penentu apakah seseorang bisa bertahan, atau tumbang.
Maka, jika sejarah mengajarkan kita sesuatu, itu adalah: kemenangan sejati tidak selalu milik yang paling keras berteriak. Kadang, ia datang pada mereka yang sabar menunggu waktu, merawat bara, dan terus berjalan—meski dalam gelap.
Dan barangkali, dalam peta politik kita hari ini, Dasco bukanlah api utama. Tapi ia adalah penjaga sumbu. Yang tahu bahwa kadang, hal terpenting bukan menyala terang, tapi tetap menyala. Bahkan ketika angin kencang datang dari segala arah. (*)
*Penulis adalah Asip Irama, Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I)









![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-350x220.jpg)






