Oleh: Asip Irama
Kesetiaan, seperti sejarah, tak pernah ditulis oleh pemenang saja. Ia juga disimpan dalam hati orang-orang yang tetap tinggal ketika yang lain pergi.
Saya teringat pada Gajah Mada—patih yang tak sekadar mengabdi pada rajanya, tapi pada sebuah cita-cita yang melebihi takhta itu sendiri.
Ia bukan bayangan sang raja, tapi cahaya yang mengantar raja pada maknanya.
Dalam politik kita hari ini, hubungan semacam itu nyaris punah. Kesetiaan lebih sering menjadi urusan kontrak, bukan keyakinan. Ia diukur oleh posisi, bukan oleh waktu. Tapi di antara yang sedikit itu, saya temukan sosok Sufmi Dasco Ahmad.
Beberapa hari ini, nama Prabowo dan Dasco kembali jadi bahan obrolan khususnya di media sosial. Katanya, ada jarak di antara keduanya. Tapi jarak dalam politik tak selalu berarti menjauh. Kadang, ia cara menjaga pandangan agar tetap jernih. Terlalu dekat pun bisa membuat silau.
Kita tahu, perjalanan mereka panjang. Dari saat Gerindra hanyalah perahu kecil di laut besar, hingga hari ini ketika angin kekuasaan bertiup ke arah mereka. Dalam semua musim itu, Dasco berdiri di sisi yang sama. Ia bukan sekadar pengikut, tapi penerjemah dari keyakinan Prabowo.
Barangkali karena itu, hubungan mereka tak bisa dibaca dengan mata politik.
Ia hanya bisa dipahami oleh orang yang mengerti arti kepercayaan.
Seperti Prabowo mempercayai Dasco, dan Dasco memahami Prabowo—tanpa perlu kalimat yang panjang. Dalam dunia politik yang penuh sandi, mungkin keduanya berbicara dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua: bahasa perjuangan yang ditulis dari keringat, darah, air mata yang telah diuji oleh waktu.
Orang sering lupa, bahwa kesetiaan sejati tidak selalu tampak di depan publik. Kadang ia berwujud diam yang menahan diri, atau sikap yang memilih mundur satu langkah agar tujuan tetap sampai. Seperti patih yang tahu, tak semua pertempuran perlu diikuti dengan pedang terhunus.
Ketika ditanya soal Prabowo, Dasco hanya menjawab: “Saya ini prajurit.”
Kalimat itu pendek, tapi cukup untuk menjelaskan seluruh bab kesetiaan.
Prajurit, dalam makna sejatinya, adalah orang yang tidak meninggalkan barisan bahkan ketika perang sudah selesai. Ia tetap menjaga senjata, bukan karena perintah, tapi karena keyakinan bahwa tugas belum usai.
Kini, ketika Prabowo telah menjadi Presiden, banyak yang menebak-nebak jarak di antara keduanya. Tapi politik tak selalu berjalan di atas garis lurus. Kadang ia berkelok untuk menjaga keseimbangan. Setiap pemimpin membutuhkan seseorang yang berani mengingatkan tanpa mengkhianati. Setiap pengingat yang sejati tahu, bahwa kesetiaan kadang berarti berani berbeda.
Sejarah kita tidak kekurangan pahlawan, tapi sering kehilangan penerjemah yang sabar.
Dalam hubungan Prabowo dan Dasco, kita bisa belajar bahwa kekuasaan bukan hanya soal siapa yang memerintah, melainkan tentang siapa yang tetap percaya ketika semua mulai ragu.
Mungkin, di zaman yang semakin penuh perhitungan ini, kesetiaan semacam itu terdengar kuno. Tapi tanpa orang-orang seperti mereka, politik akan kehilangan hatinya, dan bangsa akan kehilangan arah menuju makna.
Dan barangkali, di situlah arti sesungguhnya dari menjadi patih: bukan tunduk, tapi turut menanggung sejarah.
Sebab yang benar-benar retak bukanlah hubungan mereka, melainkan keyakinan kita bahwa kesetiaan masih mungkin ada di dunia politik.

![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-350x220.jpg)




![Kiai Abbasi Rahman menjadi khatib Idulfitri 1447 Hijriyah di Musolla Al Ikhlas, Komplek Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Errabu, Bluto, Sumenep. [Foto: War/rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260321-WA0003-350x220.jpg)



![SMAN 2 Pamekasan tolak menu MBG diduga tak layak. [Tangkapan layar]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260309-WA0005-350x220.jpg)
![Prodi HPI Fakultas Syariah UIN Jember Buka Program Rekognisi Pembelajaran Lampau 2026. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260413-WA0001-180x130.jpg)




![Kiai Abbasi Rahman menjadi khatib Idulfitri 1447 Hijriyah di Musolla Al Ikhlas, Komplek Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Errabu, Bluto, Sumenep. [Foto: War/rilpolitikcom]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260321-WA0003-180x130.jpg)