Oleh: Hafid Abbas
Konsultan Internasional UNESCO Principal Regional Office for Asia and the Pacific (PROAP) untuk Kawasan Asia dan Pasifik pada 1992–1995.
Di Kota Leiden, Belanda, ribuan peneliti dari berbagai negara datang setiap tahun untuk mempelajari sejarah, bahasa, budaya, dan manuskrip Nusantara. Ironisnya, sebagian besar objek yang mereka teliti berasal dari Indonesia. Leiden University selama lebih dari satu abad berhasil membangun reputasi sebagai salah satu pusat studi Asia Tenggara paling terkemuka di dunia melalui pengelolaan arsip, manuskrip, koleksi ilmiah, dan jejaring riset internasional.
Sementara itu, di tepian Sungai Batanghari, Jambi, terbentang Kompleks Percandian Muaro Jambi, kompleks percandian Hindu-Buddha terbesar di Indonesia dan salah satu yang terluas di Asia Tenggara. Kawasan ini diyakini pernah menjadi pusat pembelajaran agama Buddha, tempat para biksu menuntut ilmu, menyalin naskah, dan berdiskusi tentang filsafat serta pengetahuan. Namun hingga hari ini, sebagian besar kawasan tersebut masih berupa gundukan tanah yang menunggu penelitian lebih lanjut.
Fakta inilah yang patut direnungkan. Leiden menjadi pusat kajian karena mengelola memori Nusantara secara sistematis. Jambi sesungguhnya memiliki sumber sejarah yang autentik, tetapi belum sepenuhnya menjadikannya sebagai pusat kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Padahal, dalam dunia akademik modern, kekuatan sebuah universitas tidak hanya ditentukan oleh ruang kuliah, melainkan juga oleh laboratorium yang melahirkan pengetahuan baru. Bagi Universitas Jambi, laboratorium itu sesungguhnya telah tersedia: Muaro Jambi.
Ketika mengunjungi Kawasan Percandian Muaro Jambi pada 11 Agustus 2024, saya melihat antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan yang datang berkunjung. Namun, saya juga menangkap kesan bahwa Muaro Jambi masih lebih banyak dipahami sebagai destinasi wisata sejarah daripada sebagai pusat pembelajaran dan penelitian peradaban.
Cara pandang ini terlalu sempit. Situs ini sesungguhnya merupakan laboratorium terbuka bagi sejarah, arkeologi, antropologi, geografi, konservasi, arsitektur, bahkan teknologi digital. Setiap lapisan tanah yang digali bukan sekadar menemukan bata kuno, melainkan membuka informasi baru mengenai perdagangan internasional, perkembangan agama Buddha, hubungan diplomatik Asia, teknologi bangunan masa lampau, hingga kehidupan masyarakat Melayu berabad-abad silam.
Lebih dari itu, Muaro Jambi menyimpan peluang untuk membangun identitas akademik Universitas Jambi. Mahasiswa tidak hanya membaca teori di ruang kelas, tetapi belajar langsung melalui ekskavasi, dokumentasi digital, pemetaan situs, konservasi artefak, hingga penelitian berbasis masyarakat. Pendidikan tinggi akan menemukan makna terdalamnya ketika kampus menjadi penghasil pengetahuan, bukan sekadar penyampai pengetahuan.
Leiden memberikan pelajaran penting bahwa investasi terbesar dalam sejarah bukanlah membangun gedung, melainkan membangun ekosistem ilmu. Arsip dikelola secara profesional, manuskrip didigitalisasi, hasil penelitian dipublikasikan, kolaborasi internasional diperluas, dan masyarakat diajak menikmati sejarah melalui museum serta perpustakaan. Semua itu menjadikan sejarah sebagai sumber ilmu, kebanggaan, sekaligus daya tarik dunia.
Leiden University, sebagai pusat koleksi karya-karya tulis Kerajaan Bugis-Makassar, memanfaatkan arsip kuno itu sebagai aset ekonomi dan dijadikan objek wisata budaya. Pada 2024, anggaran tahunan institusi tersebut mencapai 974 juta Euro atau sekitar IDR 18,5 triliun. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa warisan sejarah dapat diubah menjadi aset ekonomi yang memberi daya tarik global dengan keuntungan besar.
Indonesia tentu tidak perlu menjadikan Leiden sebagai model yang harus ditiru sepenuhnya. Kita justru memiliki keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun: warisan sejarah itu berada di tanah kita sendiri. Muaro Jambi bukan sekadar koleksi, melainkan lanskap peradaban yang masih menyimpan banyak rahasia. Setiap gundukan tanah dapat menjadi sumber disertasi, artikel ilmiah, inovasi teknologi konservasi, hingga diplomasi budaya.
Karena itu, sudah saatnya lahir visi besar untuk menjadikan Muaro Jambi sebagai pusat studi peradaban Melayu dan Buddhisme Asia Tenggara. Universitas Jambi dapat memimpin pembentukan pusat riset multidisiplin yang menghubungkan sejarah, arkeologi, ilmu lingkungan, teknologi informasi, dan pariwisata budaya. Kehadiran pusat seperti ini akan menarik mahasiswa, peneliti, dan akademisi dari berbagai negara untuk belajar langsung di lokasi yang menjadi sumber sejarah itu sendiri.
Selama ini dunia mengenal Leiden sebagai salah satu episentrum studi tentang Nusantara. Mengapa Jambi, yang menyimpan jejak salah satu pusat pembelajaran terbesar di Asia Tenggara, belum menjadi episentrum dunia bagi kajian Peradaban Nusantara? If Leiden University can do it, why can’t Jambi University? Pertanyaan ini bukan retorika, melainkan panggilan sejarah. Muaro Jambi tidak cukup hanya dipelihara sebagai warisan masa lalu; ia harus dihidupkan kembali sebagai laboratorium ilmu pengetahuan, pusat riset, dan sumber lahirnya pemikiran baru tentang peradaban Asia dan dunia.
Muaro Jambi bukan hanya milik masyarakat Jambi. Ia adalah milik Indonesia, bahkan bagian dari sejarah peradaban Asia. Masa depannya tidak cukup dijaga dengan konservasi, tetapi harus dihidupkan melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi. Ketika itu terjadi, Jambi tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki kompleks candi terbesar di Indonesia, melainkan sebagai pusat lahirnya pemikiran baru tentang peradaban Melayu yang diperhitungkan dunia.
Mungkin pada suatu hari nanti, mahasiswa dari Tokyo, Paris, Leiden, Melbourne, atau Boston datang ke Jambi bukan sekadar untuk berwisata, melainkan untuk belajar. Pada saat itulah kita dapat mengatakan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi objek kajian dunia, tetapi telah menjadi subjek yang memproduksi ilmu pengetahuan dari tanahnya sendiri.
“Jika dunia mengenal Sulawesi Selatan melalui Sureq La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia yang tersimpan dan diteliti secara serius di Leiden, mengapa dunia belum mengenal Jambi melalui Muaro Jambi sebagai pusat peradaban Melayu kuno yang masih berdiri di tanah asalnya?”
Pada akhirnya, masa depan Muaro Jambi tidak akan ditentukan oleh usia candi- candinya, melainkan oleh keberanian kita menghidupkannya kembali sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas Jambi memiliki kesempatan yang sangat langka: membangun universitas berkelas dunia bukan dengan menciptakan laboratorium buatan, melainkan dengan menjadikan warisan peradaban yang telah diwariskan sejarah sebagai laboratorium kehidupan. Apabila riset, pendidikan, konservasi, dan kolaborasi internasional bertemu di Muaro Jambi, maka Jambi tidak hanya akan menjaga masa lalu, tetapi juga melahirkan masa depan. Di sanalah Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bahwa peradaban bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk terus dipelajari, diperkaya, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagaimana diingatkan oleh sejarawan besar Arnold J. Toynbee, “Civilizations die from suicide, not by murder.” Bagi Toynbee, kehancuran sebuah peradaban pada hakikatnya bukan disebabkan oleh serangan dari luar, melainkan oleh kegagalannya sendiri dalam menjawab tantangan zaman. Ketika suatu bangsa kehilangan kemampuan untuk merawat pengetahuan, memelihara ingatan sejarah, serta mengubah warisan budayanya menjadi sumber pembelajaran dan inovasi, maka benih-benih kemunduran mulai tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Karena itu, pelestarian warisan budaya bukan sekadar upaya menjaga peninggalan masa lalu, melainkan investasi intelektual untuk memastikan bahwa kebijaksanaan sejarah terus hidup dan memberi arah bagi masa depan.


![Bea Cukai Jatim I dan Satgaspam Lanudal Juanda gelar konferensi pers terkait penggagalan upaya penyelundupan narkotika dari Malaysia. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/08/1000068418-350x220.jpg)





![Rektor STIE Dharma Bumiputra 2008-2020, Prof. Hafid Abbas. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062079-350x220.jpg)



![Bea Cukai Jatim I dan Satgaspam Lanudal Juanda gelar konferensi pers terkait penggagalan upaya penyelundupan narkotika dari Malaysia. [Foto: istimewa]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/08/1000068418-180x130.jpg)



