JAKARTA, Rilpolitik.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kenaikan harga bahan pokok seiring berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan sesuatu yang positif untuk menjaga keseimbangan pasar.
Ia mencontohkan harga telur ayam yang terus merangkak naik mendekati harga eceran tertinggi (HET).
“Harga telur kemarin kan berapa? Rp26 ribu, padahal HET-nya Rp30 ribu kan?” kata Budi di Hotel Tentrem, Yogyakarta pada Kamis (23/7/2026).
Budi menjelaskan HET sebagai titik keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Menurutnya, apabila harga terlalu rendah, produsen berpotensi mengalami kerugian hingga menghentikan produksi, yang pada akhirnya dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga.
“Tetapi ketika ketemu atau sekarang harganya mendekati (HET), sekarang kan sudah hampir Rp28 ribu. Jadi sudah bagus,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi mengatakan program MBG turut meningkatkan penyerapan komoditas pangan, termasuk telur, sehingga membantu menciptakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar.
“Memang sekarang penyerapannya lebih bagus, salah satu faktornya ya MBG juga sudah berjalan kembali. Jadi sebenarnya MBG itu bisa menjadi penyeimbang antara permintaan dan penawaran,” ucap Budi.
Budi mengatakan kehadiran program MBG membuat ekosistem pangan berjalan lebih baik karena penyerapan hasil produksi menjadi lebih optimal. Sebelum program tersebut berjalan, harga komoditas cenderung fluktuatif akibat tidak adanya kepastian permintaan.
Kondisi itu juga membuat produsen menghadapi risiko kelebihan pasokan ketika produksi tinggi. Sementara itu, saat produksi rendah, permintaan justru dapat meningkat dan memicu kenaikan harga.
“Nah, ketika ada MBG ini justru stabil. Jadi permintaan terus ada, produksinya ini kan jadi konsisten dengan permintaan yang ada,” tutur Budi.
Ia meyakinkan bahwa keberlanjutan program MBG memberikan kepastian permintaan bagi produsen, sehingga produksi dapat disesuaikan secara lebih konsisten. Hal tersebut dinilai mampu mengurangi gejolak harga yang sebelumnya dipicu ketidakpastian pasar.
“Sekarang telur surplusnya 12 persen. Artinya untuk kebutuhan MBG, jadi semua berjalan dengan baik. Ya produksinya ikut terus meningkat, semua terlibat secara ekosistem ekonominya semua terlibat ya, baik dari produsen ya maupun dari sektor-sektor lain ya, tidak hanya peternakan tapi juga pertanian dan sebagainya. Jadi bagus sih,” tandas pria yang akrab disapa Busan tersebut.
















