SURABAYA, Rilpolitik.com – Advokat Jawa Timur, Muhammad Sholeh atau populer dengan panggilan Cak Sholeh terus melontarkan kritik pedasnya terhadap kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur (Jatim).
Cak Sholeh menyoroti sikap Khofifah yang hanya diam saja saat ada persoalan korupsi di Jawa Timur meski merugikan negara hingga triliunan rupiah.
Ia mencontohkan kasus mega korupsi di Jatim seperti kasus dana hibah dengan kerugian negara diduga mencapai Rp2 triliun, kasus dugaan kredit fiktif Bank Jatim senilai Rp569,42 miliar, dan dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Jatim sebesar Rp65 miliar.
Pria dengan jargon ‘No Viral, No Justice’ itu membandingkan sikap Khofifah dengan mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dinilai memiliki sikap tegas jika bersinggungan dengan urusan kepentingan rakyat.
“Sementara Gubernur Jawa Timur, uang dikorupsi oleh pimpinan DPRD Rp2 triliun, nggak ngamuk. Ada korupsi Bank Jatim sekitar Rp500 miliar yo nggak ngamuk. Ada dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur puluhan miliar juga yo nggak nggak ngamuk,” kata Cak Sholeh dalam unggahannya di Tiktok, dikutip pada Senin (7/4/2025).
Cak Sholeh pun mengaku bingung dengan Khofifah yang dianggap tak punya sikap atas berbagai persoalan korupsi di Jatim.
“Saya jadi bingung ini tipe pemimpin seperti apa. Duitnya rakyat dicolong kok tidak emosi? Duitnya rakyat dijadikan bancakan loh kok diam,” ujarnya.
Menurut Cak Sholeh, Khofifah bukanlah tipe pemimpin rakyat. Dia adalah pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.
“Bagi saya, pemimpin seperti ini nih (Khofifah) bukan pemimpin rakyat, bukan pemimpin yang hatinya untuk masyarakat. Tapi pemimpin untuk dirinya sendiri,” ucapnya.
“Maka wajar ketika kita nuntut pengampunan pajak seperti diberlakukan Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, sementara Jawa Timur tetap tidak mau,” sambungnya.
Cak Sholeh menyebut tipe pemimpin seperti Khofifah hanya merugikan rakyat karena dia tidak bisa bersikap atas persoalan yang merugikan rakyat.
“Kembali lagi yang dikorbankan adalah rakyat. Rakyat disuruh bayar pajak, eh ujung-ujungnya dikorupsi,” ujarnya.
“Kasus Rp2 triliun itu menurut saya bukan main-main. Mestinya gubernur itu tersinggung. Nyatanya sama sekali tidak tersinggung,” pungkas Cak Sholeh.
(Ah/rilpolitik)
















