JAKARTA, Rilpolitik.com – Rencana pemerintah mengeluarkan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru pada 17 Agustus mendatang mendapat sorotan dari Ekonom Senior INDEF Faisal Basri. Menurut dia, rencana tersebut justru akan menimbulkan masalah baru.
Faisal menyinggung kondisi Indonesia yang saat ini menjadi importir gula. Di lain sisi, pemerintah tengah menggenjot penggunaan bioetanol sebagai campuran bensin.
“Menyelesaikan masalah dengan menciptakan lebih banyak masalah baru. Kayak dulu premium dibunuh muncul pertalite, pertalite (mau) dibunuh, muncul macam (BBM baru) gak tahu,” katanya usai Diskusi Publik INDEF di Jakarta Selatan, Selasa (16/7/2024).
“Ada perintah dari Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo), Pertamina disuruh beli pabrik bioetanol di Brasil. itu solusinya jalan pintas semua, ternyata gagal. Emangnya mau saja kayak gitu, transaksional semua?” sambung Faisal.
Kalaupun pemerintah Indonesia ngotot meluncurkan produk BBM baru yang diklaim rendah sulfur, Faisal menduga itu mungkin di kelas solar. Namun, ia tetap heran mengapa upaya tersebut baru dicetuskan sekarang.
Faisal mengklaim sudah pernah menyampaikan cara-cara bagaimana mengelola minyak dan gas bumi Indonesia. Itu disampaikan saat dirinya menjadi ketua Tim Tata Kelola Migas pada 2014-2015 lalu.
“Sudah ada semua rekomendasinya. Bagaimana supaya harga BBM gak gonjang ganjing dengan harga minyak, (harus) ada tabungan atau buffer-nya, gitu-gitu,” ungkap Faisal.
“Mengurangi sulfur ada namanya revitalisasi kilang. Masa sih karena standar kita sulfurnya tinggi, kita beli (minyak) yang sulfurnya rendah terus kita campur?” imbuhnya.















